Ribuan umat muslim di seluruh Indonesia merayakan hari kemenangan Idulfitri dengan penuh khidmat dan sukacita pada 1 Syawal 1446 H, Senin (31/03/2025). Sejak pukul 06.30 WIB, jamaah mulai memadati Plaza Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) untuk melaksanakan salat Idul Fitri dan mengumandangkan takbir bersama-sama.
Baca juga: Salat Idul Fitri 1445 H, Ratusan Jamaah Antusias Penuhi Plaza UMJ
Salat ini tidak hanya diikuti oleh civitas akademika UMJ, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Salat Idulfitri ini difasilitasi oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa UMJ. Acara ini mengacu pada hasil Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang dijadikan pedoman oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Salat Idulfitri ini dipimpin oleh kader Masjid At-Taqwa UMJ Imam Alysyah Septyan Putra. Sementara itu, sebagai khatib diisi oleh Dirjen Saintek Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, MA.
Dalam Khutbahnya, Ahmad menjelaskan tentang Integrasi Islam dengan Sains dan Teknologi. Ia menegaskan terdapat sejumlah ayat dalam Al-qur’an yang memerintahkan umat islam untuk memahami kompleksitas alam semesta, jagat raya dan mengembangkan sains dan teknologi.
“Umat Islam pernah berjaya dalam peradaban dengan memelopori perkembangan sains dan teknologi. Beberapa tokoh Islam yang berperan penting dalam hal ini antara lain Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Biruni, Al Farabi, Al Jahiz, Al Khawarizmi, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Menurut Ahmad, saat ini masyarakat lebih sering menggunakan produk sains dan teknologi dari Barat atau negara non-muslim tanpa banyak memahami bagaimana teknologi tersebut diciptakan, diproduksi, dan filosofi dibaliknya. Tidak banyak yang tahu bahwa beberapa ilmuwan muslim juga pernah meraih hadiah Nobel, seperti Ahmed Hassan Zewail dari Mesir yang menerima Nobel Kimia pada 1999 dan Aziz Sancar ahli biologi molekuler dari Turki yang meraih Nobel Kimia pada 2015 atas risetnya tentang perbaikan DNA.
Penggunaan sains dan teknologi dalam praktik ibadah pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Ia memulai gerakan reformasi keagamaan di Kauman, Yogyakarta, salah satunya dengan kasus “pelurusan arah kiblat.” Berdasarkan pertimbangan ilmiah, ia berusaha meyakinkan masyarakat tentang arah kiblat yang benar melalui diskusi dan musyawarah dengan para ulama.
“Keberanian untuk menggunakan sains dan akal serta inovasi adalah faktor yang menjadikan Muhammadiyah sebagai pionir dalam pengelolaan haji dan zakat secara modern,” tambahnya.
Zakat yang sebelumnya dikelola secara individual oleh kyai, kini dikelola dengan sistem manajerial yang lebih terstruktur, yang menjadi cikal bakal sistem pengelolaan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ). Selain itu, beberapa karya tulis KH Ahmad Dahlan, seperti “Kesatuan Hidup Manusia” dan “Tali Pengikat Hidup,” juga sangat menekankan pentingnya peranan akal dan ilmu pengetahuan.
Muhammadiyah terus melakukan demistifikasi dan demitologisasi terhadap berbagai kepercayaan, mitos, tabu, dan praktik tertentu yang ada di masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah pemilihan pimpinan yang terdiri dari 13 orang, yang juga menjadi bentuk perlawanan terhadap mitos tentang angka tersebut.
“Semoga kita senantiasa menjadi wakil Allah di muka bumi yang selalu mencintai ilmu pengetahuan, konsisten dalam belajar dan membaca. Juga menjadikan sains dan teknologi untuk kemanusiaan, bukan untuk menghancurkan umat manusia,” tutup Ahmad dalam khutbahnya.
Editor : Dian Fauzalia
Artikel Salat Idulfitri di UMJ: Integrasi Islam dengan Sains dan Teknologi pertama kali tampil pada Universitas Muhammadiyah Jakarta.



