Pada Sabtu, 15 Oktober 2022, dosen-dosen Modul Nusantara menyelenggarakan acara Bincang Inspiratif bersama Budayawan Ridwan Saidi. Sebanyak lebih dari 100 mahasiswa program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) menjadi peserta acara tersebut di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FIP UMJ). Melalui program ini, mahasiswa PMM yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia datang ke UMJ untuk belajar dan mengikuti perkuliahan Modul Nusantara. Acara bincang inspiratif ini dipandu oleh Dr. Hadiyan, MA, salah seorang Pembimbing PMM dan dosen Fakultas Agama Islam UMJ. Acara juga dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan yaitu Aswir, M. Pd., Sampor Ali, MM, Khaerunnisa, M.Pd, dan Dewi, M.Pd., dan Wika Soviana, M.Pd.
Kiri ke kanan: Ridwan Saidi dan Dr. Hadiyan, MA., dalam Bincang Inspiratif di Auditorium FIP UMJ, Sabtu (15/10)
Acara yang dikemas dalam bentuk talkshow tersebut mengusung tema Mengenal Lebih Dekat Kebudayaan Betawi, sejarah dan budayanya ini dimulai dengan penayangan video profil Ridwan Saidi. Ridwan Saidi, budayawan betawi kelahiran Jakarta, 2 Juli 1942 ini juga memiliki banyak pengalaman di dunia politik. Ridwan pernah menjadi politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tahun 1977 sampai 1982. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, tokoh nasional ini tetap bersemangat menggaungkan pemikiran-pemikiran kritisnya di berbagai media untuk Indonesia.
Dalam acara tersebut pria yang juga akrab disapa Babeh Ridwan ini menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat (dari Muhammad Yamin) terkait cikal bakal Indonesia yang berasal dari istilah Nusantara. Istilah ini dikaitkan dengan sumpah Palapa oleh Gajah Mada yang tidak akan makan buah palapa kecuali sampai dia dapat menyatukan Nusantara. Kritik pertama, menurut Ridwan istilah Nusantara maknanya adalah ‘sekitar jarak’ yang berarti mengandung pengertian wilayah yang sempit, sementara Indonesia demikian luas. Kedua, istilah ‘Indonesia’ berasal dari bahasa Swahili, Andunisiy, yang berarti ‘Kenegerian Ibu Seri’.
Bahasa Swahili adalah bahasa yang dipakai oleh negara-negara di Afrika Timur. “Makanya Raja Salman dari Saudi Arabia, ketika datang ke Indonesia menyebut Indonesia dengan Andunisiy”, tegasnya. Selain bahasa Arab, bahasa Swahili termasuk yang banyak dipakai oleh komunitas negara-negara Afrika Timur. Menurutnya, bangsa-bangsa yang pernah datang ke Nusantara selain bangsa Swahili adalah Greek, Egypt, dan Maya.
“Imigran Mesir, misalnya, tersebar ke penjuru dunia sejak Alexander the Great menaklukan dunia pada abad IV M. Sebelumnya mereka sudah datang ke Andunisiy di Barus (Sumatera Utara) untuk mencari rempah-rempah pembalseman mayat”, katanya. Hal menarik lainnya adalah informasi tentang orang/bangsa Maya sebagai imigran pertama yang datang ke Indonesia. “Ini pendapat Prof. Kern tahun 1951 setelah membandingkan 11 bahasa yang digunakan di wilayah Indo-Pacific. Menurut Kern, orang Maya masuk Indonesia 3050 tahun yang lalu, atau abad XI SM”, Ridwan menambahkan.
Tentang Jakarta, misalnya, babeh menyebutkan banyak tempat yang menunjukkan bahwa Jakarta merupakan kota yang sudah lama didiami oleh banyak warga bangsa; Beos, misalnya, merupakan hunian orang Turki, Jembatan Tiga adalah hunian orang Portugis, sementara Jembatan Lima adalah hunian orang Peru. Secara khusus, beliau menyebut tentang orang-orang Betawi yang religius, dimana mereka dibimbing oleh seorang guru dari Samarkand, bernama Nashr bin Ibrahim yang lebih dikenal dengan Muallim Teko, dan tinggal di daerah Kapuk Muara. Ulama Fikih dan penulis ini, karyanya tersimpan di British Library. Beliau wafat 983 Masehi.
Ridwan juga menyebutkan perihal cave life (kehidupan goa) yang tidak bisa dipisahkan dari peradaban Nusantara. Kehidupan goa ini ditandai dengan kehidupan yang bermoral. Ridwan menegaskan, di Jakarta ditemui banyak goa. “Ada 11 Goa ditemukan di Jakarta, seperti Goa Scot dekat rumah sakit Budi Kemuliaan. Ada Goa Jambul dekat Masjid Istiqlal, Goa Gondangdia, dll”, tegasnya.
Informasi-informasi menarik dari Babeh memancing banyak pertanyaan dari peserta. Tidak kurang 11 orang mahasiswa yang menyampaikan pertanyaan. Selama menjawab pertanyaan, Ridwan menyelipkan nasehat agar para mahasiswa terus belajar tentang sejarah dan terpanggil untuk ikut ‘meluruskan’ sejarah (Indonesia) yang menurutnya banyak dipengaruhi oleh sejarawan Belanda, H.J. de Graaf. “Termasuk saya juga mengajak perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk meluruskan sejarah Indonesia”, ajaknya.
Terakhir, Ridwan menegaskan bahwa agama pertama yang datang ke Indonesia adalah Islam, bukan Hindu. (DN/KSU)
Artikel Mahasiswa PMM Ikuti Bincang Inspiratif Bersama Budayawan Betawi pertama kali tampil pada Universitas Muhammadiyah Jakarta.







