Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Fathurrahim Syuhadi, S.E., M.M., M.Pd., menegaskan pentingnya memperkuat gerakan Muhammadiyah dari tingkat ranting. Menurutnya, ranting bukan sekadar struktur organisasi paling bawah, melainkan ujung tombak gerakan dan pusat pengabdian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Upgrading dan Rapat Koordinasi (Rakor) Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Palirangan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Ahad (1/11/2026), di Pantai Kelapa Panyuran, Tuban.
Mengusung tema “Sinergi dalam Gerakan, Kolaborasi dalam Pengabdian”, kegiatan yang diikuti 75 peserta tersebut menjadi momentum penguatan kapasitas pimpinan, konsolidasi organisasi, serta penyusunan langkah strategis untuk mengembangkan dakwah Muhammadiyah di tingkat ranting.
Dalam pemaparannya, Fathurrahim mengawali dengan mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan penting tentang ketakwaan, introspeksi diri (muhasabah), evaluasi, dan orientasi masa depan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan berorganisasi, termasuk dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah.
“Setiap pimpinan dan kader harus membiasakan diri melakukan muhasabah. Apa yang sudah kita kerjakan? Apa manfaatnya bagi umat? Dan apa yang harus kita persiapkan untuk masa depan organisasi?” ujarnya.
Sinergi Gerakan, Kolaborasi Pengabdian
Fathurrahim menjelaskan, tema “Sinergi dalam Gerakan, Kolaborasi dalam Pengabdian” memiliki makna strategis bagi keberlangsungan organisasi Muhammadiyah.
Sinergi dalam gerakan berarti menyatukan visi, langkah, potensi, dan kekuatan seluruh kader untuk mencapai tujuan bersama. Sementara kolaborasi dalam pengabdian berarti membangun kerja sama, saling menguatkan, dan bekerja bersama dalam memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Ia mengingatkan bahwa organisasi tidak akan berkembang secara optimal apabila setiap unsur berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang berkesinambungan antara pimpinan dan seluruh kader.
“Gerakan yang kuat bukanlah gerakan yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan gerakan yang mampu menyatukan potensi. Pengabdian yang bermakna bukan sekadar bekerja untuk organisasi, tetapi menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tegasnya.
Karena itu, kegiatan upgrading dan rakor harus menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, mengevaluasi program, serta merumuskan langkah nyata dalam menjalankan dakwah persyarikatan.
Membangun Potensi Ranting: Ranting Itu Penting
Dalam kesempatan tersebut, Fathurrahim juga mengangkat gagasan “Membangun Potensi Ranting: Ranting Itu Penting”.
Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya bertumpu pada akar rumput. Ranting bukan hanya pelengkap struktur organisasi, melainkan fondasi utama yang menentukan kuat atau lemahnya gerakan persyarikatan.
Ia memaparkan lima gagasan penting dalam membangun potensi ranting.
Pertama, ranting sebagai akar gerakan. Kuatnya organisasi sangat ditentukan oleh kekuatan ranting. Karena itu, perhatian terhadap ranting harus menjadi prioritas dalam pengembangan Muhammadiyah.
Kedua, menggali potensi kader. Setiap ranting memiliki sumber daya manusia, pengalaman, keahlian, dan kekuatan sosial yang perlu dikenali serta dikembangkan. Tidak boleh ada potensi kader yang dibiarkan tanpa ruang untuk berkontribusi.
Ketiga, menghidupkan kegiatan. Ranting harus memiliki program nyata dan berkelanjutan, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi, maupun kaderisasi.
Keempat, membangun sinergi. Pimpinan Cabang, Daerah, hingga Wilayah harus hadir untuk mendampingi, membina, dan memberdayakan ranting. Hubungan antartingkatan organisasi harus dibangun dalam semangat saling menguatkan.
Kelima, menghadirkan manfaat. Keberadaan ranting harus benar-benar dirasakan masyarakat. Ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya lengkapnya struktur kepengurusan, melainkan seberapa besar kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan umat dan memberikan manfaat sosial.
Pohon Besar Membutuhkan Akar yang Kuat
Fathurrahim kembali mengaitkan pentingnya pengembangan ranting dengan pesan QS. Al-Hasyr ayat 18, khususnya penggalan:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya, hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Menurutnya, ayat ini mengajarkan bahwa setiap gerakan harus memiliki kesadaran untuk mengevaluasi masa lalu, memperbaiki kondisi saat ini, dan mempersiapkan masa depan.
Ranting Muhammadiyah perlu melakukan evaluasi terhadap program yang telah berjalan, mengenali potensi yang dimiliki, sekaligus menyusun agenda pengembangan yang terukur.
Ia mengingatkan agar seluruh kader tidak pernah meremehkan peran ranting.
“Jangan pernah meremehkan ranting. Pohon besar tidak akan berdiri kokoh tanpa akar yang kuat. Organisasi besar tidak akan berkembang tanpa ranting yang hidup, kader yang bergerak, dan pengabdian yang nyata,” ungkap Wakil Ketua LPCPM PWM Jatim ini
Ia menegaskan, ranting harus hidup, ranting harus tumbuh, ranting harus berdaya, dan ranting harus memberi manfaat.
Melalui kegiatan upgrading dan rakor ini, PRM Palirangan diharapkan semakin solid, mampu menggali potensi kader, serta mengembangkan program dakwah yang lebih terarah dan berdampak bagi masyarakat. (*)
Artikel Fathurrahim Syuhadi: Jangan Remehkan Ranting, Kekuatan Muhammadiyah Bertumpu pada Akar Rumput pertama kali tampil pada PWMU.CO.



