Memberantas Narkoba dan Judi Online: Jangan Hanya Menangkap, Benahi Akarnya
Oleh: Jufri – Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Salah satu pekerjaan menonjol yang dilakukan kepolisian di bawah kepemimpinan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto adalah pemberantasan narkoba dan judi online yang tampaknya dilakukan dengan lebih serius.
Di berbagai daerah dan tingkatan, polisi melakukan penggeledahan, penggerebekan, penangkapan, hingga pembongkaran jaringan peredaran narkoba dan praktik perjudian daring. Keseriusan ini patut diapresiasi, sebab keduanya telah menjadi persoalan serius yang mengancam masa depan masyarakat, terutama generasi muda dan keluarga.
Pemberantasan narkoba menjadi salah satu agenda penting Kapolri Suyudi. Pengalamannya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) tentu menjadi bekal dalam menangani persoalan narkotika, mulai dari pencegahan hingga pemberantasan jaringan peredaran gelapnya.
Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami bersama: narkoba dan judi online tidak bisa diberantas hanya dengan menangkap pelakunya. Ada persoalan yang lebih mendasar dan kompleks, berkaitan dengan ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, lingkungan sosial, dan ketahanan keluarga.
Empat Juta Lebih Orang Terpapar Penyalahgunaan Narkotika
Data BNN dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdasarkan survei nasional periode 2023–2025 menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai 2,11 persen dari penduduk usia 15–64 tahun, atau sekitar 4,15 juta orang.
Angka ini meningkat dibandingkan hasil survei 2023, yang mencatat prevalensi 1,73 persen atau sekitar 3,36 juta orang.
Artinya, persoalan narkotika belum selesai. Bahkan, hasil survei tersebut menunjukkan peningkatan jumlah penduduk yang terpapar penyalahgunaan narkotika.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai sekitar 7,46 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,85 persen.
Kedua angka tersebut menggambarkan tantangan besar yang dihadapi bangsa ini. Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa pengangguran menyebabkan penyalahgunaan narkoba. Hubungan keduanya tidak sesederhana itu.
Yang perlu dipahami adalah bahwa persoalan narkoba, pengangguran, pendidikan, dan ketahanan keluarga merupakan bagian dari tantangan sosial yang perlu ditangani secara terpadu.
Pertama, Lapangan Kerja dan Tekanan Ekonomi
Indonesia memiliki angkatan kerja yang besar, tetapi kesempatan kerja yang layak belum selalu tersedia secara memadai.
Ketika seseorang kesulitan memperoleh pekerjaan, hidup dalam tekanan ekonomi, dan kehilangan harapan terhadap masa depan, ia dapat menjadi lebih rentan terhadap berbagai perilaku berisiko.
Tidak semua pengguna narkoba atau pemain judi online berasal dari keluarga miskin. Namun, tekanan ekonomi dapat memperbesar kerentanan seseorang, terutama ketika ia tidak memiliki dukungan sosial yang memadai.
Bagi sebagian orang, narkoba menjadi pelarian dari persoalan hidup. Bagi sebagian lainnya, judi online menawarkan mimpi tentang uang cepat, kekayaan instan, dan jalan pintas keluar dari kesulitan ekonomi.
Judi online bahkan menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: harapan memperoleh uang tanpa harus bekerja keras.
Padahal, kenyataannya justru sering berbalik. Uang habis, utang bertambah, keluarga berkonflik, dan kehidupan semakin sulit.
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya menangkap pengguna dan pengedar narkoba atau menindak jaringan judi online. Negara juga harus membangun ekosistem sosial dan ekonomi yang memungkinkan masyarakat hidup lebih sehat, mandiri, dan memiliki harapan.
Menciptakan lapangan kerja, memperluas kesempatan berusaha, memperkuat UMKM, dan menyediakan ruang produktif bagi anak muda merupakan bagian dari upaya pencegahan yang tidak boleh diabaikan.
Jangan sampai negara begitu sibuk menangkap orang yang terjerumus, tetapi kurang serius membangun lingkungan yang dapat mencegah mereka terjerumus.
Kedua, Pendidikan Harus Membangun Kemandirian
Pendidikan semestinya tidak hanya menghasilkan orang yang memiliki ijazah, tetapi juga manusia yang mampu berpikir kritis, mengendalikan diri, mengambil keputusan, dan menghadapi persoalan hidup.
Generasi yang kuat bukanlah generasi yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan generasi yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah tanpa harus merusak dirinya sendiri.
Pendidikan juga harus membekali anak muda dengan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja, literasi keuangan, pemahaman tentang bahaya narkoba, serta kemampuan mengenali jebakan judi online di ruang digital.
Jangan sampai pendidikan kita hanya sibuk mengejar angka kelulusan, gelar, dan sertifikat, tetapi kurang berhasil membentuk karakter, kemandirian, serta daya tahan menghadapi tekanan kehidupan.
Di era digital, tantangannya semakin besar. Telepon pintar yang semestinya menjadi sarana belajar, bekerja, dan membangun kreativitas justru dapat berubah menjadi pintu masuk menuju kecanduan judi online.
Karena itu, pendidikan harus bergerak mengikuti perubahan zaman. Bukan hanya mendidik anak agar pintar menjawab soal, tetapi juga agar bijak menjalani kehidupan.
Ketiga, Keluarga Adalah Benteng Pertama
Dalam banyak kasus, polisi baru hadir setelah persoalan terjadi. Keluarga seharusnya menjadi lingkungan pertama yang mengenali perubahan perilaku, memberikan perhatian, dan membantu seseorang keluar dari masalah sebelum semuanya terlambat.
Sayangnya, tidak semua keluarga memiliki ketahanan yang cukup untuk menjalankan peran tersebut.
Tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, keterbatasan waktu bersama, dan komunikasi yang buruk dapat membuat anggota keluarga kehilangan tempat untuk bercerita.
Anak-anak tumbuh tanpa pendampingan yang memadai, sementara orang tua terkadang terlalu sibuk mencari nafkah hingga tidak menyadari perubahan perilaku anaknya.
Namun, menyalahkan keluarga juga bukan jalan keluar. Keluarga yang sehat membutuhkan dukungan lingkungan dan kebijakan publik yang sehat pula.
Orang tua yang harus bekerja sepanjang hari demi memenuhi kebutuhan hidup tentu menghadapi tantangan berbeda dengan keluarga yang memiliki waktu, sumber daya, dan akses pendidikan yang memadai.
Karena itu, membangun ketahanan keluarga tidak cukup hanya dengan ceramah tentang pentingnya pengawasan orang tua. Kita juga membutuhkan kebijakan yang mendukung kesejahteraan keluarga, akses terhadap layanan konseling, pendidikan pengasuhan, dan lingkungan sosial yang melindungi anak-anak.
Keluarga memang bukan pengganti tugas kepolisian. Sebaliknya, polisi juga tidak mungkin menggantikan peran keluarga. Keduanya memiliki tanggung jawab berbeda yang harus saling menguatkan.
Keempat, Penjara Harus Membina, Bukan Sekadar Menghukum
Penindakan hukum tetap penting. Bandar, pengedar, pengendali jaringan, dan pelaku kejahatan harus diproses sesuai hukum. Jaringan yang memperoleh keuntungan dari kehancuran hidup orang lain tidak boleh dibiarkan.
Namun, kita juga perlu membedakan penanganan terhadap bandar dan pengedar yang terorganisasi dengan pengguna narkoba yang mengalami ketergantungan dan membutuhkan rehabilitasi. Penanganan harus mempertimbangkan ketentuan hukum, tingkat keterlibatan, serta kebutuhan pemulihan masing-masing orang.
Penjara pun harus menjadi tempat pembinaan, bukan sekadar tempat menghukum.
Jangan sampai seseorang masuk penjara dengan persoalan tertentu, tetapi keluar dengan jaringan kejahatan yang lebih luas, keterampilan kriminal yang semakin berkembang, dan peluang hidup yang justru semakin sempit.
Karena itu, pembenahan lembaga pemasyarakatan, integritas aparat, pengawasan terhadap peredaran narkoba di dalam tahanan, serta program rehabilitasi dan reintegrasi sosial harus menjadi bagian dari agenda pemberantasan narkoba.
Penegakan hukum yang tegas perlu berjalan bersama pembinaan yang manusiawi. Ketegasan tanpa pembenahan hanya akan membuat kita sibuk menangkap orang baru, sementara persoalan lama terus berulang.
Hal serupa berlaku bagi judi online. Memblokir situs saja tidak cukup apabila jaringan di belakangnya terus mencari cara untuk beroperasi, memindahkan transaksi, dan menjangkau korban baru.
Penindakan harus menyasar pengendali jaringan, aliran dana, promosi ilegal, serta pihak-pihak yang sengaja mengambil keuntungan dari kerentanan masyarakat.
Di sinilah pentingnya kerja sama antara kepolisian, pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat, dan penyedia layanan digital.
Polisi Penting, tetapi Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Kita tentu menginginkan kepolisian yang tegas, profesional, dan berintegritas. Ketika pemberantasan narkoba dan judi online dilakukan dengan lebih serius, masyarakat patut memberikan dukungan sekaligus mengawasi agar penegakan hukum berjalan adil dan tidak tebang pilih.
Namun, keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penggerebekan, orang yang ditangkap, atau lokasi yang ditutup.
Kita juga perlu bertanya: apakah jumlah pengguna narkoba menurun? Apakah orang yang mengalami ketergantungan memperoleh pemulihan? Apakah jaringan judi online benar-benar melemah? Apakah keluarga semakin terlindungi? Apakah anak muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk bekerja dan membangun masa depan?
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah berkurangnya korban dan semakin kecilnya peluang masyarakat terjerumus kembali.
Kita tidak ingin aparat terus bekerja keras menangkap pelaku, sementara lingkungan sosial yang melahirkan kerentanan tetap dibiarkan. Kita juga tidak ingin masyarakat terus menjadi korban dari sistem yang gagal menyediakan pendidikan, pekerjaan, perlindungan, dan harapan.
Pada akhirnya, narkoba dan judi online bukan semata-mata persoalan kriminalitas. Keduanya juga merupakan persoalan kesehatan masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan ketahanan keluarga.
Kita membutuhkan kepolisian yang kuat, pemerintah yang serius membuka kesempatan kerja, pendidikan yang membangun kemandirian, serta keluarga yang mampu menjadi tempat tumbuhnya harapan.
Pemberantasan narkoba dan judi online tidak boleh berhenti pada keberhasilan operasi. Kita membutuhkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, memberantas narkoba dan judi online bukan hanya soal bagaimana menangkap mereka yang terjerumus, tetapi juga bagaimana mencegah semakin banyak orang terjerumus.
Jangan hanya sibuk memadamkan api. Kita juga harus mencari tahu mengapa api terus menyala, dari mana sumber bahan bakarnya, dan bagaimana mencegah kebakaran berikutnya.
Di situlah pemberantasan yang sesungguhnya: tegas dalam penegakan hukum, serius dalam pencegahan, dan sungguh-sungguh membenahi akar persoalan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








