WARTAPTM.ID, MAKASSAR — Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menegaskan bahwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) harus menjadi fondasi sekaligus napas tata kelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA).
Menurutnya, AIK tidak cukup ditempatkan sebagai materi pembelajaran atau program perkaderan, tetapi perlu menjadi titik awal dalam mengelola seluruh kehidupan perguruan tinggi.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Muttaqin saat membuka Pelatihan Instruktur Nasional (PINAS) PTMA Wilayah Sulawesi Selatan dan Regional Indonesia Timur di Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Jumat (25/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti calon instruktur dari berbagai PTMA dan wilayah Persyarikatan di kawasan Indonesia Timur.
Ahmad Muttaqin mengapresiasi Unismuh Makassar yang dinilai memiliki komitmen dalam menyelenggarakan perkaderan formal secara terstruktur dan terukur bagi civitas akademika.
“Penyelenggaraan perkaderan formal di Unismuh Makassar sangat sistematis dan terukur, mencakup dosen, pimpinan, bahkan hingga staf cleaning service. Kampus ini benar-benar hadir memberikan dampak nyata bagi Persyarikatan dan masyarakat,” ujar Muttaqin.
Ia bahkan menyebut Unismuh Makassar layak menjadi salah satu nominator apabila Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah memberikan penghargaan bagi kampus yang memiliki perhatian kuat terhadap perkaderan.
Ahmad Muttaqin mengatakan jaringan PTMA memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pengembangan kader sekaligus penguatan kontribusi Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Ia menyampaikan, jaringan PTMA saat ini mencapai 165 perguruan tinggi, seiring terbitnya izin operasional perguruan tinggi ‘Aisyiyah di Batam. Dari jumlah tersebut, 21 PTMA telah meraih akreditasi Unggul, termasuk Unismuh Makassar.
Ekosistem tersebut, lanjutnya, ditopang lebih dari 700 ribu mahasiswa, 20 ribu dosen, dan sekitar 2.500 program studi. Ia juga menyampaikan hasil quick count Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTMA yang menunjukkan pertumbuhan sekitar 6 persen secara nasional pada tahun ini.
Besarnya ekosistem tersebut, kata Muttaqin, perlu diikuti dengan tata kelola yang mampu memastikan identitas dan misi PTMA tetap berjalan. Karena itu, Majelis Diktilitbang menempatkan ideologi dan AIK sebagai bagian penting dalam pengembangan perkaderan yang inklusif.
Penguatan tersebut diarahkan melalui tata kelola perguruan tinggi yang baik atau Good University Governance untuk menghasilkan dampak yang lebih luas, baik sosial, spiritual, finansial, maupun rekognisi internasional.
Dengan demikian, ukuran kemajuan PTMA tidak hanya dilihat dari capaian akademik dan kelembagaan, tetapi juga dari sejauh mana perguruan tinggi menjalankan misi Persyarikatan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Ahmad Muttaqin menempatkan instruktur PINAS sebagai bagian penting dari keberlanjutan perkaderan di PTMA.
Menurutnya, jaringan PTMA dengan ratusan ribu mahasiswa dan puluhan ribu dosen membutuhkan instruktur yang mampu menghidupkan proses perkaderan secara sistematis di lingkungan kampus.
“Dalam ekosistem dengan 700 ribu mahasiswa dan 20 ribu dosen ini, para instruktur yang dilatih dalam PINAS merupakan leading sector utama untuk memproduksi ribuan kader berkualitas dari rahim PTMA,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar keunggulan PTMA tidak berhenti pada capaian administratif atau angka akreditasi. Majelis Diktilitbang, kata dia, mendorong PTMA menjadi kampus yang berkemajuan, memiliki reputasi global, bermartabat, berkelanjutan, dan tetap diminati masyarakat.
Orientasi tersebut dirangkum dalam semangat “Unggul yang Seunggul-unggulnya” atau Unggul Haqqotihi.
Ahmad Muttaqin juga mengingatkan peran Badan Pembina Harian (BPH) dan rektorat dalam memastikan AIK dan perkaderan menjadi bagian dari kehidupan PTMA.
Merujuk Pedoman PTM, ia menjelaskan bahwa BPH memiliki tugas membina dan mengembangkan AIK. Sementara itu, rektor dan pimpinan PTMA memiliki amanah untuk menyelenggarakan dakwah dan kaderisasi di lingkungan perguruan tinggi.
Karena itu, perkaderan tidak semestinya dipandang sebagai agenda tambahan. Perkaderan merupakan bagian dari tanggung jawab kelembagaan PTMA dalam menjaga kesinambungan misi pendidikan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Ahmad Muttaqin kemudian memberikan refleksi moral dengan mengadaptasi pesan Surah Al-Ma’un kepada para pimpinan PTMA.
“Celakalah para pimpinan PTMA yang abai terhadap amanah yang diemban dan enggan berpartisipasi dalam dakwah serta perkaderan bagi Persyarikatan,” tuturnya.
Ia berharap PINAS tidak berhenti pada pelatihan instruktur, tetapi berlanjut menjadi penguatan sistem perkaderan di masing-masing PTMA. Dari proses tersebut, instruktur diharapkan mampu melahirkan kader-kader yang memiliki kompetensi, ideologi, dan orientasi pengabdian untuk mencerahkan semesta.
The post Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Harus Menjadi Napas Tata Kelola PTMA appeared first on Warta PTM.




