Akidah Warga Muhammadiyah
Oleh: Syahbana Daulay
Akidah merupakan fondasi paling fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar kumpulan konsep teologis yang diyakini secara intelektual, tetapi merupakan pandangan hidup (worldview) yang menentukan bagaimana manusia memahami Allah, dirinya, kehidupan, alam semesta, dan tujuan akhir keberadaannya. Karena itu, kualitas kehidupan Islami pada hakikatnya sangat ditentukan oleh kualitas akidah yang tertanam dalam hati dan diwujudkan dalam perilaku. Dalam konteks Muhammadiyah, kehidupan Islami warga tidak dapat dipisahkan dari tauhid sebagai dasar seluruh orientasi kehidupan, sebab Islam harus menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan pribadi maupun sosial (PP Muhammadiyah, 2000).
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) menempatkan kehidupan pribadi sebagai salah satu ruang penting pengamalan ajaran Islam. Kehidupan pribadi mencakup akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah yang pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Dengan demikian, akidah bukan wilayah yang berdiri sendiri, melainkan menjadi ruh yang menghidupkan seluruh aktivitas manusia. Seseorang yang benar akidahnya semestinya tercermin dalam ibadahnya, akhlaknya, cara berpikirnya, hubungan sosialnya, bahkan dalam cara menghadapi keberhasilan dan kegagalan kehidupan (PP Muhammadiyah, 2000).
1. Tauhid sebagai Prinsip Hidup dan Kesadaran Imani
Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani yang kokoh berupa tauhid kepada Allah Swt. Tauhid berarti mengesakan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Tauhid tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah itu satu, tetapi menuntut konsekuensi bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan pengabdian, sumber ketundukan, tempat bergantung, dan orientasi tertinggi kehidupan manusia (Al-Qaradawi, 1996).
Allah Swt. berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. al-Ikhlas [112]: 1-4).
Surah al-Ikhlas memberikan fondasi ontologis bagi kehidupan seorang Muslim. Allah adalah Ahad, Yang Maha Esa dan tidak memiliki tandingan; sekaligus al-Shamad, tempat seluruh makhluk bergantung. Kesadaran terhadap dua sifat ini seharusnya melahirkan transformasi spiritual yang mendalam: manusia menyadari keterbatasan dirinya sekaligus menemukan tempat ketergantungan yang sempurna kepada Allah. Karena itu, tauhid bukan hanya doktrin tentang Tuhan, melainkan jalan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan kepada selain Allah (Ibn Kathir, 1999).
Manusia modern dapat saja tidak menyembah patung atau berhala secara fisik, tetapi tetap menghadapi berbagai bentuk “berhala” psikologis dan sosial: harta, jabatan, popularitas, kekuasaan, status sosial, bahkan penilaian manusia. Ketika semua itu menjadi tujuan tertinggi dan menentukan nilai dirinya, manusia secara spiritual dapat kehilangan kemerdekaannya. Tauhid mengembalikan pusat kehidupan kepada Allah. Inilah makna mendalam dari la ilaha illallah: tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan tidak ada sesuatu pun yang layak mengambil posisi ketuhanan dalam kehidupan manusia.
Karena itu, tauhid harus menjadi kesadaran eksistensial, bukan sekadar pengetahuan teologis. Warga Muhammadiyah tidak cukup mengetahui bahwa Allah itu Esa, tetapi harus hidup dalam kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam seluruh aktivitasnya. Ketika bekerja, ia menyadari bahwa pekerjaan merupakan amanah. Ketika memperoleh keberhasilan, ia bersyukur. Ketika menghadapi kegagalan, ia tidak kehilangan harapan. Ketika memiliki kekuasaan, ia tidak menjadi sombong. Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak kehilangan Allah sebagai tempat bergantung.
Kesadaran semacam ini melahirkan kepribadian yang disebut Al-Qur’an sebagai ‘Ibad al-Rahman, hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. al-Furqan [25]: 63).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tauhid memiliki konsekuensi moral. Hamba Allah yang benar bukan hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga rendah hati, santun, mampu mengendalikan diri, dan tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Ayat-ayat berikutnya menggambarkan karakter mereka: menjaga keseimbangan dalam membelanjakan harta, menjaga kemurnian tauhid, menjauhi dosa besar, menjaga kehormatan diri, melakukan taubat, dan senantiasa berdoa kepada Allah (QS. al-Furqan [25]: 63–77).
Dengan demikian, terdapat hubungan yang erat antara tauhid dan akhlak. Tauhid yang benar seharusnya melahirkan kerendahan hati; iman melahirkan ketenangan; ihsan melahirkan kesadaran muraqabah; dan takwa melahirkan kemampuan mengendalikan diri. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin lembut pula perilakunya kepada manusia. Inilah salah satu indikator bahwa iman telah bergerak dari wilayah kognitif menuju wilayah spiritual dan moral (Al-Ghazali, 2005).
Dalam perspektif ini, seorang warga Muhammadiyah idealnya menjalani kehidupan sebagai mukmin, muslim, muhsin, dan muttaqin. Islam menunjukkan ketundukan kepada Allah; iman menunjukkan keyakinan yang kokoh; ihsan menunjukkan kualitas penghayatan bahwa Allah senantiasa mengawasi kehidupan; sedangkan takwa merupakan kemampuan menjaga diri agar tetap berada dalam ketaatan. Keempatnya bukan kategori yang terpisah, tetapi tahapan yang saling menguatkan menuju kepribadian Muslim yang paripurna.
2. Iman dan Tauhid sebagai Sumber Seluruh Aktivitas Kehidupan
Iman tidak boleh berhenti sebagai identitas. Ia harus menjadi energi spiritual yang mengarahkan seluruh kehidupan. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ…
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya…”
(QS. al-Nisa’ [4]: 136).
Seruan “āminū” kepada orang-orang yang telah beriman mengandung pesan bahwa iman harus senantiasa dipelihara, diperkuat, dan diwujudkan dalam kehidupan. Iman bukan sesuatu yang selesai setelah seseorang mengucapkan syahadat. Ia harus terus mengalami proses penguatan melalui ilmu, ibadah, zikir, amal saleh, dan perjuangan melawan berbagai godaan yang dapat merusaknya (Al-Sa‘di, 2000).
Karena itu, warga Muhammadiyah harus menjadikan iman dan tauhid sebagai sumber seluruh kegiatan hidup. Pendidikan, pekerjaan, dakwah, ekonomi, organisasi, ilmu pengetahuan, kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan berbagai aktivitas duniawi harus berada dalam orientasi pengabdian kepada Allah. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah bahwa Islam merupakan agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia, bukan hanya hubungan ritual antara manusia dan Tuhan (PP Muhammadiyah, 2000).
Al-Qur’an memberikan formulasi yang sangat komprehensif:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ
“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.” (QS. al-An‘am [6]: 162–163).
Ayat ini memperlihatkan keluasan makna tauhid. Yang dipersembahkan kepada Allah bukan hanya salat dan ritual, tetapi juga “mahyaaya” – hidupku – dan “mamaatii” – matiku. Artinya, seluruh eksistensi manusia harus diarahkan kepada Allah. Dunia tidak ditolak, tetapi diberi orientasi yang benar. Harta boleh dicari, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi. Jabatan boleh dimiliki, tetapi harus dipandang sebagai amanah. Ilmu harus dikembangkan, tetapi tidak boleh melahirkan kesombongan. Dakwah harus dilakukan, tetapi tidak boleh berubah menjadi sarana mencari popularitas.
Di sinilah ikhlas memperoleh kedudukan penting. Tauhid menjawab pertanyaan kepada siapa manusia tunduk, sedangkan ikhlas menjawab pertanyaan untuk siapa manusia melakukan amal. Ketika keduanya menyatu, manusia akan memiliki orientasi kehidupan yang lebih jernih: bekerja karena Allah, belajar karena Allah, berdakwah karena Allah, melayani masyarakat karena Allah, dan meninggalkan keburukan karena takut kepada Allah.
Menjaga Kemurnian Tauhid
Konsekuensi logis dari tauhid adalah menjaga kemurniannya dari segala sesuatu yang dapat merusak atau menodainya. Karena itu, warga Muhammadiyah dituntut menjauhi syirik, takhayul, khurafat, serta praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, khususnya dalam wilayah ibadah mahdhah. Orientasi ini merupakan bagian dari semangat tajdid Muhammadiyah yang berusaha memurnikan akidah dan ibadah sekaligus membuka ruang bagi kemajuan kehidupan duniawi berdasarkan ilmu pengetahuan (PP Muhammadiyah, 2000).
Syirik merupakan penyimpangan paling serius terhadap tauhid. Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).
Syirik disebut sebagai kezaliman besar karena ia menempatkan sesuatu pada posisi yang tidak semestinya. Allah adalah Pencipta dan satu-satunya yang berhak disembah, sedangkan makhluk adalah ciptaan. Karena itu, menggantungkan penghambaan, permohonan, atau keyakinan ketuhanan kepada selain Allah berarti merusak struktur paling fundamental dalam kehidupan spiritual manusia (Ibn Katsir, 1999).
Dalam kehidupan kontemporer, menjaga tauhid juga berarti membangun literasi keagamaan dan spiritual yang sehat. Seseorang tidak boleh menggantungkan nasib kepada ramalan, benda keramat, angka tertentu, hari tertentu, jimat, atau keyakinan mistis yang tidak memiliki landasan syar‘i. Percaya kepada keberadaan hal-hal gaib yang diberitakan wahyu merupakan bagian dari iman, tetapi menjadikan makhluk atau benda sebagai penentu nasib dan tempat bergantung merupakan persoalan yang berbeda secara prinsip.
Dalam konteks bid‘ah, warga Muhammadiyah perlu memiliki pemahaman yang ilmiah dan proporsional. Tidak setiap sesuatu yang baru otomatis menjadi bid‘ah dalam pengertian syar‘i. Teknologi, metode pendidikan, media dakwah, sistem administrasi, dan berbagai sarana kehidupan duniawi dapat terus berkembang. Yang menjadi perhatian utama ialah adanya penambahan atau perubahan dalam tata cara ibadah mahdhah yang tidak memiliki dasar syariat. Karena itu, sikap terhadap bid‘ah harus dibangun berdasarkan ilmu dan dalil, bukan sekadar prasangka atau kebiasaan sosial.
Dengan pendekatan tersebut, pemurnian tauhid tidak berarti anti-kemajuan. Sebaliknya, tajdid Muhammadiyah mempertemukan pemurnian akidah dengan pembaruan kehidupan. Akidah dimurnikan dari syirik dan khurafat; ibadah dimurnikan berdasarkan tuntunan Nabi; sementara kehidupan dunia dikembangkan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, amal sosial, dan kerja kemanusiaan. Inilah karakter penting gerakan tajdid: kembali kepada sumber ajaran sekaligus merespons perubahan zaman secara cerdas (Nashir, 2015).
Tauhid sebagai Jalan Pembentukan Pribadi Paripurna
Pada akhirnya, kehidupan Islami warga Muhammadiyah dalam aspek akidah harus bermuara pada pembentukan manusia yang memiliki keteguhan iman sekaligus kematangan spiritual dan moral. Tauhid yang benar tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia lain. Sebaliknya, tauhid menyadarkan manusia bahwa dirinya hanyalah hamba Allah. Kesadaran sebagai hamba melahirkan kerendahan hati; kesadaran sebagai khalifah melahirkan tanggung jawab.
Orang yang benar-benar bertauhid tidak mudah diperbudak oleh pujian dan tidak hancur karena celaan. Ia tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran, tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sumber kesombongan. Orientasi hidupnya tertambat kepada Allah. Karena itu, ia memiliki ketenangan batin sekaligus keberanian moral untuk melakukan yang benar.
Di sinilah spiritualitas tauhid menjadi sangat relevan bagi kehidupan modern. Ketika manusia menghadapi tekanan materialisme, budaya popularitas, kompetisi sosial, krisis makna, dan berbagai bentuk ketergantungan psikologis, tauhid memberikan pusat orientasi yang kokoh: Allah sebagai tujuan tertinggi kehidupan. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dipertuhankan; manusia tetap dihormati, tetapi tidak disembah; harta tetap dicari, tetapi tidak dicintai secara berlebihan; ilmu terus dikembangkan, tetapi tetap berada dalam kesadaran kehambaan.
Dengan demikian, kehidupan pribadi warga Muhammadiyah dalam akidah dapat dirumuskan dalam sebuah bangunan spiritual: tauhid melahirkan iman; iman melahirkan ketundukan; ketundukan melahirkan ihsan; ihsan melahirkan takwa; dan takwa melahirkan akhlak serta amal saleh. Kesemuanya bermuara pada terbentuknya manusia yang menjadi ‘abdullah sekaligus menjalankan amanah kekhalifahan di muka bumi.
Tauhid akhirnya bukan sekadar kalimat yang diucapkan oleh lisan, tetapi cahaya yang mengarahkan seluruh kehidupan. Ia menentukan kepada siapa hati bersandar, untuk siapa amal dilakukan, dari mana nilai kehidupan berasal, dan ke mana seluruh perjalanan manusia berakhir. Karena itu, warga Muhammadiyah yang menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupannya akan berusaha menjadikan setiap aktivitas sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah. Inilah kehidupan Islami yang tidak hanya benar secara keyakinan, tetapi juga hidup secara spiritual, matang secara moral, dan bermanfaat secara sosial. Wallahu a’lam



