Dalam Orasinya, Amin Azis Tegaskan Kampus Tidak Boleh Menjadi Pabrik Tenaga Kerja
INFOMU.CO | Padangsidimpuan – Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS), Muhammad Amin Azis, M.E., menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh kehilangan fungsi sosialnya dengan hanya menjadi pemasok tenaga kerja bagi industri. Kampus harus tetap berperan sebagai pusat pemikiran kritis, pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, analisis kebijakan dan pengabdian kepada masyarakat. Hal tersebut disampaikan Amin Azis dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Menavigasi Krisis Sosial-Ekonomi: Tinjauan Etik dan Nalar Kemanusiaan Islam” pada Jumat, 28 Agustus 2026, di Ruang Seminar UMTS.
Dalam orasinya, Amin Azis menyatakan bahwa perguruan tinggi tidak boleh terjebak menjadi sekadar “pabrik penyedia tenaga kerja bagi industri yang eksploitatif”. Menurutnya, kampus harus menjalankan fungsi sebagai pusat pemikiran kritis serta berperan aktif dalam menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik utama Amin Azis terhadap arah pendidikan tinggi di tengah perubahan zaman. Menurutnya, perguruan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada kebutuhan pasar tenaga kerja, tetapi juga harus mampu mempertemukan ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Amin Azis menilai bahwa perguruan tinggi pada hakikatnya tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ilmu yang dikaji, diproduksi dan didiskusikan di ruang akademik memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa tradisi keilmuan tersebut perlu kembali dihidupkan di tengah kesibukan perguruan tinggi dengan berbagai urusan administratif.
Menurut Amin Azis, tantangan tersebut semakin penting untuk dibahas karena dunia saat ini menghadapi paradoks. Di satu sisi, ilmu pengetahuan, teknologi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan berkembang pesat. Namun, di sisi lain, kemajuan teknis tersebut belum tentu berjalan seiring dengan kemajuan etika dan moral. Ia kemudian memaparkan sejumlah manifestasi krisis sosial-ekonomi, mulai dari ketimpangan struktural, komodifikasi manusia, erosi etika digital, budaya konsumerisme, ilusi kesejahteraan akibat kemudahan akses kredit digital, krisis ekologis, hingga tekanan terhadap kesehatan mental. Amin Azis melihat bahwa berbagai persoalan tersebut memiliki akar yang berkaitan dengan terputusnya aktivitas ekonomi dari kerangka etik. Ketika ekonomi dilepaskan dari pertimbangan moral dan spiritual, aktivitas ekonomi berisiko bergerak menuju akumulasi tanpa batas dengan mengabaikan dampak sosial yang ditimbulkannya.
Dalam konteks tersebut, Amin Azis menawarkan nalar kemanusiaan Islam sebagai salah satu kerangka untuk merespons krisis. Ia menekankan pentingnya keadilan sosial dan maqasid syariah sebagai landasan dalam memahami persoalan ekonomi dan sosial secara lebih manusiawi. Ia juga mendorong Fakultas Agama Islam untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin. Pendidikan Islam, ekonomi Islam, dan kajian sosial Islam dinilai memiliki peran yang saling melengkapi dalam menghadapi kompleksitas persoalan masyarakat. Pendidikan Islam, misalnya, tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran kritis, etika digital, dan kepekaan sosial.
Di bidang ekonomi sosial Islam, Amin Azis menilai zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dioptimalkan sebagai instrumen pemberdayaan serta jaring pengaman sosial. Ia juga mencontohkan bahwa wakaf produktif yang dikelola dengan tata kelola modern dapat diarahkan untuk mendukung sektor pendidikan, kesehatan, dan usaha mikro. Lebih lanjut, Amin Azis mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat penelitian terapan yang secara langsung menjawab persoalan masyarakat, seperti pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, pembiayaan mikro syariah, dan kajian kebijakan publik yang berpihak kepada kelompok rentan.
Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir dari proses pendidikan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas. Karena itu, para lulusan Fakultas Agama Islam diharapkan memiliki tiga bekal utama, yakni kejernihan nalar, kepekaan moral, dan keberanian untuk mengabdi secara langsung di tengah masyarakat. Melalui orasi tersebut, Amin Azis menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan di ruang akademik. Ilmu harus mampu diterjemahkan menjadi kemanfaatan, keadilan, dan solusi bagi masyarakat di tengah perubahan sosial-ekonomi yang semakin kompleks. (***)



