MBG Harus Bergizi, Bukan Membuat Orang Tua Cemas
Oleh: Jufri
Berita tentang keracunan MBG dalam beberapa kasus belakangan ini pastilah mengkhawatirkan para orang tua di mana pun berada. Niat baik Pemerintahan Presiden Prabowo tidak seharusnya disalahartikan. Ikhtiar untuk memberikan makanan bergizi kepada anak-anak, sekaligus membuka lapangan kerja melalui pengelolaan dapur MBG, adalah gagasan baik yang patut kita dukung.
Namun, dukungan terhadap niat baik tidak berarti kita harus menutup mata terhadap persoalan yang terjadi di lapangan. Justru karena program ini baik dan merupakan program prioritas nasional, pelaksanaannya harus dijaga agar benar-benar memberikan manfaat, rasa aman dan harapan bagi anak-anak serta para orang tua.
MBG adalah Makan Bergizi Gratis, bukan Makan Beracun Gratis.
Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang sangat penting. Makanan yang diberikan kepada anak-anak bukan hanya harus memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga harus aman, bersih dan layak dikonsumsi.
Karena itu, semestinya tidak boleh ada kasus keracunan.
Jangan pula persoalan keracunan dikecilkan dengan mengatakan bahwa yang menjadi korban hanya sedikit dibandingkan dengan jumlah anak yang menerima MBG dan tidak mengalami masalah.
Keselamatan manusia tidak semestinya dihitung dengan membandingkan jumlah korban dengan jumlah yang tidak menjadi korban. Satu anak yang keracunan tetaplah satu anak yang sakit.
Bayangkan perasaan orang tua yang anaknya menjadi korban keracunan.
Anak yang pagi hari berangkat ke sekolah dalam keadaan sehat, lalu pulang dalam kondisi sakit setelah mengonsumsi makanan yang diberikan di sekolah. Tentu ada kepanikan, kecemasan dan pertanyaan yang muncul di benak orang tua.
Kekhawatiran itu juga tidak berhenti pada orang tua yang anaknya menjadi korban. Orang tua lainnya bisa saja setiap hari bertanya dalam hati, “Apakah makanan yang diterima anak saya hari ini benar-benar aman?”
Terlebih bagi mereka yang anaknya bersekolah di tempat yang mendapatkan MBG.
Program yang seharusnya memberikan ketenangan jangan sampai justru menghadirkan kecemasan.
MBG seharusnya memberikan semangat, optimisme dan rasa aman kepada anak-anak dan orang tua kita.
Anak-anak pergi ke sekolah dengan gembira, belajar dengan baik, mendapatkan makanan bergizi dan pulang dalam keadaan sehat. Orang tua pun merasa tenang karena negara hadir membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.
Di sinilah negara harus hadir.
Negara harus hadir bukan hanya ketika program diluncurkan, anggaran disiapkan dan makanan dibagikan. Negara juga harus hadir ketika terjadi persoalan.
Korban harus ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh. Penyebab keracunan harus dicari secara terbuka. Proses pengadaan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan sampai ke tangan anak-anak harus dievaluasi.
Kalau ada kelalaian, harus ada pertanggungjawaban.
Kalau ada kelemahan sistem, harus diperbaiki.
Kalau ada prosedur yang tidak berjalan, jangan dibiarkan menjadi kebiasaan.
Sebab keselamatan anak jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan kesan bahwa sebuah program berjalan tanpa masalah.
Tidak Perlu Membuat Pilihan Palsu
Kita juga tidak perlu menggunakan argumen, “Kalau tidak ada MBG, anak-anak akan makan apa?”
Bukankah jauh sebelum MBG hadir, anak-anak Indonesia tetap makan?
Keluarga tetap berusaha menyediakan makanan. Masyarakat juga sejak dahulu memiliki berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anaknya. Jadi, MBG bukanlah alasan mengapa anak-anak bisa makan.
MBG hadir untuk meningkatkan kualitas pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan, sekaligus sebagai bagian dari ikhtiar negara membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Karena itu, tidak tepat jika masyarakat seolah-olah dipaksa memilih antara menerima MBG apa adanya atau membiarkan anak-anak tidak makan.
Kita bisa mendukung MBG sekaligus meminta agar pelaksanaannya semakin baik.
Bahkan, ketika pernah muncul isu bahwa MBG akan dihentikan, tidak terdengar orang tua beramai-ramai melakukan protes karena anak-anak mereka tidak lagi mendapatkan MBG. Yang justru terdengar keberatan adalah para pengelola dapur atau pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya.
Tentu persoalan ini tidak boleh disederhanakan. Para pengelola dapur juga memiliki tenaga kerja, investasi dan tanggung jawab yang perlu diperhatikan. Tetapi fenomena tersebut setidaknya mengingatkan kita bahwa kepentingan utama dari MBG harus tetap ditempatkan pada tempatnya: anak-anak penerima manfaat.
Jangan sampai keberlangsungan sebuah program lebih dipikirkan daripada keselamatan anak-anak yang menjadi tujuan program tersebut.
Dari MBG Menjadi MBI
Ada satu gagasan yang menarik untuk direnungkan. Mungkin sudah saatnya makanan bergizi ini tidak lagi hanya disebut MBG, Makan Bergizi Gratis, tetapi MBI, Makanan Bergizi Indonesia.
Sekilas perubahan itu hanya permainan singkatan. Tetapi maknanya bisa sangat berbeda.
Makan Bergizi Gratis lebih menekankan pada program pemberian makanan secara gratis. Sementara Makanan Bergizi Indonesia memberikan kesan yang lebih luas: sebuah gerakan nasional untuk memastikan makanan bergizi menjadi bagian dari upaya membangun generasi Indonesia.
Dengan MBI, orientasinya tidak hanya pada berapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi bagaimana makanan itu memenuhi standar gizi, kesehatan, keamanan dan kualitas.
Kita tidak sekadar ingin anak-anak menerima makanan gratis.
Kita ingin anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang bergizi dan aman, karena mereka adalah generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia.
Dapur-dapur penyedia makanan pun bukan sekadar tempat memproduksi dan membagikan makanan. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan manusia Indonesia yang dikelola secara profesional, higienis dan bertanggung jawab.
Jangan Sampai Menjadi Lahan Korupsi
Satu hal lagi yang tidak kalah penting: MBG jangan sampai menjadi lahan korupsi.
Program ini masih relatif baru. Justru karena masih baru, jika muncul kasus atau indikasi korupsi, hal itu harus menjadi alarm keras bagi negara untuk membangun sistem pengawasan sejak awal.
Anggaran yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak tidak boleh bocor karena permainan harga, pengadaan yang tidak transparan, mark-up, konflik kepentingan atau praktik lain yang merugikan negara.
Jangan sampai makanan yang seharusnya bergizi justru dikurangi kualitasnya karena ada pihak yang ingin mengambil keuntungan secara tidak wajar.
Karena itu, pengawasan MBG harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Dari pengadaan bahan makanan, penentuan harga, pengelolaan dapur, distribusi, pembayaran hingga pertanggungjawaban anggaran harus transparan dan dapat diaudit.
MBG adalah uang rakyat dan untuk kepentingan rakyat.
Jangan sampai anak-anak mendapatkan makanan yang kualitasnya dikurangi, sementara ada pihak yang justru menikmati keuntungan dari anggaran negara.
Program ini masih baru. Justru sekaranglah saat yang tepat untuk membangun sistem pencegahan korupsi yang kuat. Jangan menunggu program menjadi semakin besar, kemudian baru sibuk mencari kebocoran.
Negara harus memastikan MBG bukan hanya bergizi bagi anak-anak, tetapi juga bersih dari korupsi bagi pengelolanya.
Mendukung Bukan Berarti Membenarkan Semua
Kita mendukung MBG karena niat dan tujuannya baik.
Kita juga mendukung terbukanya lapangan kerja dari program tersebut.
Tetapi justru karena kita mendukungnya, kita ingin program ini dikelola dengan standar yang semakin baik.
Kritik bukan berarti menolak.
Meminta pengawasan yang lebih ketat bukan berarti tidak mendukung pemerintah.
Mempertanyakan kasus keracunan bukan berarti mencari-cari kesalahan.
Semua itu adalah bentuk kepedulian agar program yang menggunakan anggaran negara ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ukuran keberhasilan MBG tidak boleh hanya dihitung dari berapa juta porsi makanan yang berhasil dibagikan setiap hari.
Kita juga harus bertanya: apakah makanan itu benar-benar bergizi? Apakah aman dikonsumsi? Apakah anak-anak sehat setelah memakannya? Apakah guru merasa tenang ketika membagikannya? Dan yang paling penting, apakah orang tua merasa aman menitipkan anaknya menerima makanan dari program tersebut?
Sebab dalam urusan keselamatan anak, satu korban pun terlalu banyak.
MBG tidak perlu dihentikan hanya karena ada persoalan. Tetapi setiap persoalan harus menjadi bahan evaluasi. Setiap kasus harus menjadi pelajaran. Dan setiap kelemahan harus diperbaiki agar tidak terjadi lagi.
Program yang baik tidak perlu dibela dengan menutupi kekurangannya.
Program yang baik justru harus berani memperbaiki kekurangannya.
Kita mendukung MBG.
Kita mendukung tujuan baik Pemerintahan Presiden Prabowo untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia.
Kita juga mendukung terbukanya lapangan kerja dari program tersebut.
Tetapi kita ingin MBG benar-benar menjadi Makan Bergizi Gratis, bukan sesuatu yang membuat anak sakit dan orang tua cemas.
Atau, kalau kita ingin memberikan makna yang lebih besar, mari kita bayangkan suatu saat kita tidak lagi sekadar berbicara tentang MBG, tetapi tentang MBI: Makanan Bergizi Indonesia.
Sebab yang kita bangun bukan sekadar program pemerintah.
Yang sedang kita bangun adalah generasi Indonesia.
Karena anak-anak kita bukan sekadar angka dalam laporan keberhasilan sebuah program.
Mereka adalah amanah.
Dan kepada orang tua yang menitipkan anaknya ke sekolah, negara harus memberikan sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat penting:
rasa aman.
MBG harus membuat anak-anak lebih sehat, orang tua lebih tenang, para guru lebih nyaman, para pengelola semakin profesional, dan bangsa ini semakin optimistis menatap masa depan.
Niat baik harus diwujudkan dengan tata kelola yang baik.
Sebab pada sudah seharusnya , negara bukan hanya harus hadir untuk memberi.
Negara juga harus hadir untuk memastikan bahwa yang diberikan benar-benar aman.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





