• Tentang
  • Sumber
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Senin, Agustus 17, 2026
  • Login
  • Home
  • BeritaMu

    Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

    Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

    Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

    Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

    Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

    HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

    HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

    Trending Tags

    • Kabar PTMA

      Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

      Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

      Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

      Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

      Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

      HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

      HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

      Trending Tags

      • Hukum Islam

        SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

        5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

        Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

        Peut-on changer la devise sur VipLuck avis après l’inscription ?

        Pistolo Casino Review: Quick‑Hit Slots and Rapid‑Play Action

        FafaBet9 – Quick‑Play Slots, Table Games and More

      • SekolahMu
        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

        Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

        Trending Tags

        • Majelis Virtual
        No Result
        View All Result
        Virtumu - Muhammadiyah All Channel
        Advertisement
        • Home
        • BeritaMu

          Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

          Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

          Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

          Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

          Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

          HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

          HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

          Trending Tags

          • Kabar PTMA

            Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

            Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

            Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

            Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

            Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

            HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

            HUT RI ke-81 Jadi Momentum Lazismu Sumut Perkuat Soliditas Amil melalui Turnamen Badminton

            Trending Tags

            • Hukum Islam

              SG Casino: El Playground Definitivo para Sesiones de Juego Cortas y de Alta‑Intensidad

              5Gringos Casino: High‑Intensity Slots & Live Play for Quick Wins

              Magius Casino: Quick‑Hit Slots en Snelle Winsten

              Peut-on changer la devise sur VipLuck avis après l’inscription ?

              Pistolo Casino Review: Quick‑Hit Slots and Rapid‑Play Action

              FafaBet9 – Quick‑Play Slots, Table Games and More

            • SekolahMu
              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              SD Mugeb Menggelar Tasmik Tahfidh Excellent

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Siswa SMK Muhlibat Mengikuti Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

              Di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, Kemenko PMK Luncurkan Gerakan Tanam 10 Juta Pohon

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikutilah Kaidah Persyarikatan, Jangan sak Karepe Dewe

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Sekolah Muhammadiyah Sosialisasikan Muktamar 48 Ke Para Siswa

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Serunya Lomba Tarik Tambang di Sekolah Ini

              Trending Tags

              • Majelis Virtual
              No Result
              View All Result
              Virtumu - Muhammadiyah All Channel
              No Result
              View All Result
              Home BeritaMu

              Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

              admin by admin
              17/08/2026
              in BeritaMu
              0
              744
              VIEWS
              Share di FacebookShare di TwitterShare di WA

              Di sebuah negeri yang belum benar-benar lahir, para pendirinya justru sudah menghadapi pertanyaan paling sulit: Indonesia akan dibangun di atas dasar apa?

              Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi pada 1945 ia menjadi persoalan yang mempertaruhkan masa depan sebuah bangsa. Indonesia sedang berada di ambang kemerdekaan dan belum memiliki bentuk negara yang sepenuhnya pasti. Para tokoh yang berkumpul untuk membicarakan masa depan republik membawa pandangan yang berbeda-beda. Nasionalisme, agama, demokrasi, persatuan, dan keadilan sosial saling berkelindan. Tidak ada satu suara yang benar-benar berdiri sendirian.

              WartaTerkait

              Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

              Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

              Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

              Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

              Di tengah kegaduhan sejarah itulah nama Ki Bagus Hadikusumo muncul sebagai salah satu tokoh yang membawa suara Islam ke jantung perdebatan tentang dasar negara.

              Ki Bagus Hadikusumo dalam Pergulatan Dasar Negara

              Ki Bagus bukan sekadar seorang ulama yang kemudian masuk ke arena politik. Ia adalah seorang pemikir yang melihat kemerdekaan sebagai pintu menuju perubahan kehidupan bangsa. Baginya, merdeka tidak cukup hanya mengganti penguasa kolonial dengan pemerintahan sendiri. Sebuah bangsa membutuhkan pedoman moral agar kebebasan tidak berubah menjadi kekuasaan tanpa batas.

              Karena itulah, ketika para pendiri bangsa membicarakan dasar negara, Ki Bagus tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa keyakinan bahwa agama harus menjadi sumber nilai dalam kehidupan masyarakat dan negara. Pandangan tersebut ikut mewarnai pergulatan besar para pendiri bangsa dalam menentukan wajah Indonesia.

              Ruang perumusan dasar negara pada masa itu bukan ruang yang tenang. Setiap kata memiliki konsekuensi politik. Setiap rumusan dapat menentukan siapa yang merasa mendapat tempat dan siapa yang merasa tersisih.

              Ketika BPUPKI membicarakan dasar negara, berbagai gagasan bermunculan. Soekarno menawarkan gagasan mengenai kebangsaan, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, serta ketuhanan. Di sisi lain, sejumlah tokoh Islam menginginkan agar agama memperoleh posisi yang kuat dalam fondasi negara.

              Ki Bagus termasuk salah satu tokoh yang menyuarakan pandangan tersebut dengan tegas. Namun, perdebatan mengenai hubungan agama dan negara tidak menghasilkan satu pandangan yang langsung diterima semua pihak. Di antara berbagai kecenderungan itu, terdapat kebutuhan yang sama-sama mendesak: Indonesia harus merdeka dan Indonesia harus tetap utuh.

              Piagam Jakarta dan Pergulatan Tujuh Kata

              Setelah rangkaian perdebatan mengenai dasar negara, Panitia Sembilan merumuskan naskah yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945. Dokumen tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan perumusan dasar negara.

              Dalam rumusan sila pertamanya terdapat frasa yang kemudian dikenal sebagai “tujuh kata”: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

              Bagi kelompok Islam, rumusan tersebut memiliki arti penting karena memberi tempat bagi aspirasi keagamaan dalam fondasi negara. Namun, posisi Ki Bagus terhadap rumusan itu tidak sesederhana gambaran bahwa ia sejak awal hanya mempertahankan tujuh kata tersebut tanpa perubahan.

              Dalam pembahasan berikutnya di BPUPKI, Ki Bagus bahkan pernah mempersoalkan pembatasan frasa “bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang dasar negara di kalangan tokoh Islam sendiri juga memiliki dinamika.

              Setelah Piagam Jakarta diterima sebagai hasil kompromi politik, Ki Bagus memegang teguh rumusan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Karena itu, ketika kemudian muncul permintaan untuk mengubahnya, ia menghadapi pilihan yang tidak mudah.

              Sejarah belum selesai. Bahkan, ketika kemerdekaan semakin dekat, persoalan tersebut justru memasuki babak yang lebih menentukan.

              Menjelang Sidang PPKI 18 Agustus 1945

              Pada Agustus 1945, Indonesia berada dalam keadaan genting. Proklamasi telah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Republik baru saja lahir, sementara fondasi konstitusional negara masih harus segera ditetapkan.

              Menurut kesaksian Mohammad Hatta, pada 17 Agustus 1945 ia menerima pesan mengenai keberatan dari wakil-wakil Protestan dan Katolik di wilayah yang berada di bawah kekuasaan Angkatan Laut Jepang terhadap bagian tertentu dalam Piagam Jakarta.

              Keberatan itu menempatkan para pendiri republik di hadapan persoalan yang lebih besar daripada kepentingan satu kelompok. Mereka harus memikirkan apakah rumusan dasar negara dapat diterima sebagai rumah bersama bagi wilayah dan masyarakat Indonesia yang beragam.

              Di sinilah perjalanan Ki Bagus Hadikusumo memasuki salah satu episode paling penting sekaligus paling manusiawi.

              Sebagai tokoh Islam yang memiliki sikap tegas mengenai posisi agama, Ki Bagus tidak berada dalam situasi yang mudah. Setelah Piagam Jakarta menjadi hasil kesepakatan sebelumnya, mempertahankannya berarti memegang teguh kompromi yang telah dicapai. Namun, muncul pula kekhawatiran bahwa rumusan tersebut dapat menimbulkan persoalan bagi persatuan negara yang baru saja berdiri.

              Sebaliknya, menerima perubahan berarti bersedia membuka kembali sebuah kesepakatan yang sebelumnya telah diperjuangkan.

              Tidak ada pilihan yang benar-benar ringan.

              Ki Bagus dan Rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”

              Pada 18 Agustus 1945, menjelang dan dalam proses sidang PPKI, para tokoh kembali membicarakan rumusan Pembukaan Undang-Undang Dasar. Dari proses itulah rumusan yang sebelumnya berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

              Perubahan tersebut menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah perumusan dasar negara.

              Namun, menyebut Ki Bagus hanya sebagai tokoh yang akhirnya “mengalah” atau sekadar menerima penghapusan tujuh kata tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang terjadi.

              Dalam notulen sidang PPKI 18 Agustus 1945, Ki Bagus tercatat ikut aktif dalam pembahasan redaksional dan mengusulkan penggunaan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pembukaan Undang-Undang Dasar kemudian mendapat persetujuan para anggota PPKI.

              Dengan demikian, Ki Bagus bukan sekadar berada di ujung sebuah kompromi yang dirumuskan orang lain. Ia turut berada di dalam proses yang membentuk rumusan akhir tersebut.

              Di titik ini, sejarah memperlihatkan bahwa perjuangan politik tidak selalu bergantung pada seberapa banyak tuntutan yang berhasil seseorang menangkan. Kadang-kadang, ukuran perjuangan justru tampak dari kemampuan seseorang menghadapi perubahan keadaan dan ikut mencari rumusan yang dapat diterima sebagai jalan bersama.

              Keputusan tersebut tidak berarti Ki Bagus kehilangan keyakinannya. Ia tetap seorang tokoh Islam dengan pandangan yang kuat. Namun, pergulatan 18 Agustus memperlihatkan bahwa keyakinan dapat berjalan bersama dengan tanggung jawab kebangsaan.

              Indonesia tidak mungkin berdiri hanya untuk satu kelompok. Kemerdekaan harus menjadi milik seluruh rakyat.

              Di situlah kompromi memperoleh maknanya: bukan semata-mata sebagai kemenangan atau kekalahan, tetapi sebagai kesediaan mencari titik temu ketika masa depan bangsa berada di hadapan para pendirinya.

              Pancasila dan Perjumpaan Banyak Gagasan

              Sayangnya, sejarah sering kali terlalu mudah disederhanakan. Kita kerap melihat Pancasila seolah-olah turun dari langit dalam bentuk yang sudah selesai. Lima sila kita hafalkan, bacakan, dan ulang dalam berbagai upacara.

              Namun, di balik lima sila itu terdapat perdebatan panjang yang penuh ketegangan.

              Ada tokoh yang memperjuangkan posisi agama, ada yang menekankan kebangsaan, ada yang memikirkan demokrasi, dan ada yang mengkhawatirkan nasib persatuan. Bahkan di antara tokoh-tokoh yang berada dalam kelompok yang sama pun tidak selalu terdapat pandangan yang sepenuhnya seragam.

              Pancasila bukan sekadar susunan kalimat. Ia tumbuh dari pergulatan gagasan, perdebatan politik, dan serangkaian kompromi pada masa ketika republik bahkan belum memiliki kepastian tentang bagaimana masa depannya akan berjalan.

              Karena itu, membaca Ki Bagus Hadikusumo berarti membaca Indonesia dari sisi yang berbeda. Ia memperlihatkan bahwa kelompok Islam bukan sekadar penonton dalam proses kelahiran republik.

              Mereka hadir, berdebat, mengusulkan, mempertahankan prinsip, dan pada saat tertentu ikut mencari jalan tengah ketika keadaan menuntut keputusan bersama.

              Kita perlu menempatkan kontribusi tersebut secara proporsional dalam sejarah. Indonesia tidak lahir dari satu kelompok, satu tokoh, atau satu gagasan. Indonesia lahir dari perjumpaan banyak pemikiran yang pada akhirnya menemukan satu rumah bernama republik.

              Baca Juga: Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

              Warisan Ki Bagus Hadikusumo untuk Indonesia Hari Ini

              Di sinilah kisah Ki Bagus terasa relevan bagi Indonesia hari ini. Perbedaan politik mudah berubah menjadi permusuhan. Identitas agama pun kerap menjadi alat untuk menarik garis antara “kami” dan “mereka”.

              Namun, sejarah 1945 justru memberikan pelajaran yang berbeda.

              Para pendiri bangsa memiliki perbedaan pandangan dalam persoalan yang sangat mendasar, tetapi mereka tidak membiarkan perbedaan tersebut menghancurkan republik yang sedang mereka bangun. Mereka berdebat keras, tetapi juga mencari jalan keluar. Mereka memiliki prinsip, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk bermusyawarah.

              Lebih dari delapan dekade kemudian, pertanyaan tentang dasar negara sebenarnya belum pernah benar-benar selesai. Bukan karena Pancasila belum memiliki rumusan final, melainkan karena tantangan untuk menerjemahkan nilai-nilainya terus berubah.

              Ketuhanan harus berhadapan dengan intoleransi. Kemanusiaan menghadapi ujian ketidakadilan. Politik identitas menguji persatuan. Kekuasaan menguji kerakyatan. Kesenjangan menguji keadilan sosial.

              Dengan demikian, tugas generasi sekarang bukan mengulang perdebatan 1945, melainkan memastikan bahwa cita-cita para pendiri bangsa tidak kehilangan makna dalam kehidupan nyata.

              Ki Bagus Hadikusumo akhirnya meninggalkan warisan yang lebih besar daripada sekadar sebuah nama dalam buku sejarah. Ia meninggalkan pelajaran tentang keteguhan sekaligus kelapangan.

              Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat memperjuangkan keyakinannya dengan kuat tanpa kehilangan kemampuan untuk membangun ruang bersama dengan mereka yang berbeda.

              Ia juga menunjukkan bahwa kompromi tidak selalu identik dengan menyerah. Dalam kondisi tertentu, kompromi merupakan keberanian untuk mencari jalan ketika mempertahankan kepentingan bersama jauh lebih sulit daripada mempertahankan posisi sendiri.

              Sebab Indonesia tidak lahir ketika semua orang sepakat. Indonesia lahir ketika orang-orang yang berbeda bersedia mencari kesepakatan.

              Dan mungkin, di situlah makna terdalam perjalanan Ki Bagus Hadikusumo.

              Ia tidak mendapatkan seluruh rumusan sebagaimana yang pernah ia perjuangkan. Namun, ia ikut berada dalam proses yang membantu republik muda menemukan dasar konstitusionalnya.

              Di antara keyakinan dan persatuan, antara prinsip dan kompromi, antara suara kelompok dan kepentingan bangsa, Ki Bagus memperlihatkan bahwa politik kebangsaan tidak selalu berakhir pada pertanyaan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

              Terkadang, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah sebuah keputusan mampu memberi ruang bagi sebuah bangsa untuk tetap berjalan bersama?

              Itulah sebabnya sejarah perumusan dasar negara tidak seharusnya hanya menjadi rangkaian tanggal dan nama untuk kita kenang. Kita harus membacanya sebagai kisah tentang manusia-manusia yang berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

              Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu tokoh yang membuat kita memahami bahwa membangun negara bukan hanya pekerjaan merumuskan kalimat dalam konstitusi.

              Membangun negara adalah pekerjaan belajar mengendalikan ego, merawat perbedaan, memegang prinsip tanpa menutup ruang dialog, serta menempatkan masa depan bersama di atas kemenangan sesaat.

              Lebih dari delapan dekade setelah republik berdiri, pertanyaan paling penting bukan lagi apakah kita masih mengingat Ki Bagus Hadikusumo. Pertanyaannya jauh lebih tajam: apakah kita masih memiliki kebesaran hati seperti para pendiri bangsa ketika perbedaan datang mengetuk pintu Indonesia?

              Editor: Al-Afasy

              The post Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara appeared first on Muhammadiyah Jateng.

              Share98Tweet62Send
              Previous Post

              Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

              Next Post

              Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

              admin

              admin

              InfoLain

              BeritaMu

              Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

              17/08/2026
              BeritaMu

              Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

              17/08/2026
              BeritaMu

              Bedah Rumah LAZISMU Pekalongan Sukses Ubah Hunian Mbah Danali Jadi Layak Huni

              17/08/2026
              Next Post

              Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

              Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              Stay Connected

                • Trending
                • Comments
                • Latest

                Kaprodi MPI SPs UMJ Hadiri Muktamar Hidayatul Qur’an di Makkah

                05/09/2024

                Kepemimpinan IMM: Dari Nilai Hingga Transformasi Gerakan

                03/10/2025

                MPI PWM Jateng Gelar Pesantren Digital Ramadan, Siapkan Jurnalis Muda Andal!

                18/03/2025

                BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Enam Hari di Sumut akibat IOD Negatif

                26/11/2025

                Perkuat Internasionalisasi Muhammadiyah, PCIM Arab Saudi Kuatkan Kelembagaan

                0

                Cerita Perkembangan dan Corak Beragam Islam di Amerika

                0

                Ngaji on the Street Makin Asyik saat Belajar Qiroah

                0

                Kompak, Walikota Melton dan Orang tua Siswa Takjub dengan Muhammadiyah Australia College

                0

                Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

                17/08/2026

                Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

                17/08/2026

                Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

                17/08/2026

                Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah

                17/08/2026
                Virtumu – Muhammadiyah All Channel

                Virtumu adalah kumpulan ragam informasi muhammadiyah dari berbagai kanal internet, dengan harapan akan menjadi wahana warta terpadu.

                Follow Us

                Kategori Info

                • BeritaMu (29,108)
                • Hukum Islam (1,630)
                • Kabar PTMA (4,093)
                • KesehatanMu (70)
                • Majelis Virtual (6)
                • Muktamar48 (7)
                • ortomMu (15)
                • sekolahMu (10)
                • Uncategorized (7,428)

                Info terbaru

                Bawa Wonosobo ke Panggung Dunia, Abdul Mu’ti Resmikan Gedung SMK Mutu

                17/08/2026

                Peran Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia: Dari Pendidikan hingga Perjuangan

                17/08/2026

                Ki Bagus Hadikusumo dan Jalan Panjang Perumusan Dasar Negara

                17/08/2026
                • Tentang
                • Sumber
                • Advertise
                • Privacy & Policy
                • Contact

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                No Result
                View All Result

                © 2025 VM - Virtual Muhammadiyah by Virtumu1912.

                Welcome Back!

                Sign In with Facebook
                Sign In with Google
                OR

                Login to your account below

                Forgotten Password?

                Retrieve your password

                Please enter your username or email address to reset your password.

                Log In