Ketika Guru Mengajarkan Keadilan, tetapi Masih Harus Memperjuangkannya
Oleh : Jufri
Siang menjelang sore Jum’at ini awalnya saya membaca beberapa tulisan yang saling berkaitan, meski lahir dari sudut pandang yang berbeda. Diawali dari unggahan Haji Hendra Cipta , Anggota Komisi E DPRD Sumatera Utara, kemudian saya membaca tulisan seorang guru yang menyuarakan kegelisahannya tentang makna keadilan dalam dunia pendidikan. Tak lama kemudian, saya juga membaca tanggapan mengenai Badan Gizi Nasional (BGN), sekolah, dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tiga bacaan yang berbeda itu seolah bertemu pada satu titik yang sama. Pendidikan bukan sekadar soal ruang kelas, kurikulum, atau program pemerintah. Pendidikan adalah tentang nilai, keadilan, keteladanan, dan penghargaan terhadap mereka yang setiap hari mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa.
Khatulistiwa hanyalah garis imajiner. Tak seorang pun dapat melihatnya dengan mata telanjang. Namun, garis yang tak kasatmata itu mampu membagi bumi dengan begitu bermakna. Ia menjadi penanda, penyeimbang, sekaligus titik acuan bagi banyak hal dalam kehidupan manusia.
Begitu pula nilai dan prinsip hidup. Ia tidak memiliki bentuk, tidak dapat disentuh, tetapi justru menjadi penentu arah, sikap, dan langkah seseorang maupun sebuah bangsa.
Yang tak kasatmata sering kali justru paling menentukan.
Karena itulah pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai. Di ruang-ruang kelas, para guru setiap hari mengajarkan anak-anak untuk mencintai negeri ini. Mereka memperkenalkan arti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, persatuan, dan keadilan. Mereka berharap kelak lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.
Namun, di tengah semua harapan itu, muncul sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Bagaimana menjelaskan arti keadilan jika guru sendiri masih terus memperjuangkannya?
Ironisnya, guru tetap diminta menjadi teladan kejujuran, integritas, dan pengabdian. Mereka mengajarkan bahwa setiap hak harus dipenuhi dan setiap kewajiban harus ditunaikan. Namun, dalam kehidupan nyata, tidak sedikit guru yang masih harus berjuang untuk memperoleh hak-haknya sendiri.
Padahal, keadilan adalah pelajaran yang paling mudah diajarkan, tetapi paling sulit diyakinkan jika kenyataan tidak berjalan seiring dengan nilai yang diajarkan. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, melainkan juga dari realitas yang mereka saksikan.
Guru tidak pernah mengajarkan murid untuk membenci negeri ini. Sebaliknya, mereka terus menanamkan rasa cinta kepada bangsa, bahkan ketika mereka sendiri sedang belajar bersabar menghadapi berbagai keterbatasan.
Kami tidak meminta untuk dimuliakan. Kami hanya berharap pendidikan berhenti dijajah oleh berbagai kepentingan yang mengaburkan tujuan sucinya. Pendidikan seharusnya menjadi jalan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar alat memenuhi ambisi sesaat atau kepentingan jangka pendek.
Di sisi lain, guru juga sering dibebani berbagai administrasi, target, survei, dan laporan yang terus bertambah. Tidak sedikit yang berkelakar bahwa terkadang yang lebih penting bukan lagi membaca isi laporan, melainkan sekadar melihat hasil akhirnya. Kondisi seperti ini tentu menjadi bahan renungan bersama. Pendidikan akan lebih bermakna jika budaya kejujuran, kepercayaan, dan tanggung jawab tumbuh secara alami, bukan sekadar mengejar angka-angka dan formalitas.
Sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak dibangun hanya dengan kekayaan alam atau megahnya gedung-gedung. Bangsa yang maju lahir karena mereka menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama dan menempatkan guru sebagai aset strategis, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Program-program pendidikan, termasuk MBG, tentu memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa. Namun, sebaik apa pun sebuah program, keberhasilannya tetap bergantung pada ekosistem pendidikan yang sehat. Guru yang dihargai, sekolah yang didengar, serta kebijakan yang berpihak akan menjadi fondasi yang jauh lebih kokoh dibanding sekadar mengejar target pelaksanaan.
Jika khatulistiwa yang tak terlihat mampu menjaga keseimbangan bumi, maka keadilan yang juga tak kasatmata seharusnya menjadi garis penyeimbang kehidupan berbangsa. Ketika keadilan hadir, kepercayaan akan tumbuh. Ketika kepercayaan tumbuh, pendidikan akan melahirkan harapan. Dan ketika harapan tetap hidup, masa depan bangsa akan selalu menemukan jalannya.
Sebab pada akhirnya, menghargai guru bukan sekadar menghormati sebuah profesi. Menghargai guru berarti menghargai masa depan. Sebab guru bukan hanya mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan.
Mungkin benar, yang tak kasatmata sering kali justru paling menentukan. Seperti khatulistiwa yang menjaga keseimbangan bumi, demikian pula keadilan menjaga keseimbangan sebuah bangsa. Ketika keadilan benar-benar dirasakan oleh para guru, saat itulah anak-anak akan lebih mudah percaya bahwa apa yang mereka pelajari di sekolah bukan sekadar teori, melainkan kenyataan yang hidup di negeri yang mereka cintai.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



