Filosofi Padi Semakin Berisi, Semakin Merunduk
(Tulisan ke-65 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Suatu pagi, cobalah berdiri di tepi sawah ketika padi mulai menguning. Angin akan datang perlahan, lalu menggerakkan hamparan padi seperti ombak yang berkejaran. Tidak ada suara. Tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan. Namun di balik diamnya, Allah sedang memperlihatkan salah satu pelajaran kehidupan yang paling indah. Di hamparan yang sama, ada bulir-bulir padi yang tegak menjulang, ada pula yang justru merunduk ke bumi. Mengapa yang berisi justru menunduk? Mengapa yang kosong tampak paling tegak? Alam ternyata sedang mengajukan pertanyaan kepada manusia. Allah tidak hanya mengajarkan hikmah melalui ayat-ayat yang dibaca, tetapi juga melalui ayat-ayat yang dibentangkan di alam semesta. Langit, gunung, sungai, pepohonan, bahkan sebatang padi adalah bahasa Allah bagi orang-orang yang mau berpikir.
Allah berfirman, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang terdapat tanda-
tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 190)
Maka sawah bukan hanya tempat menghasilkan beras. Ia adalah ruang belajar tentang kepemimpinan, ilmu, pengabdian, dan kaderisasi.
Bulir yang Berisi Selalu Merunduk
Fenomena ini bukan sekadar ungkapan bijak. Secara ilmiah, bulir padi yang semakin penuh akan semakin berat sehingga batangnya melengkung ke bawah. Sebaliknya, bulir yang kosong tetap tegak karena tidak memikul apa pun. Allah seakan sedang mengajarkan bahwa beratnya isi melahirkan kerendahan hati. Demikian pula manusia. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin ia menyadari betapa luas ilmu Allah. Semakin tinggi amanah yang dipikul, semakin ia memahami bahwa semua hanyalah titipan. Semakin besar pengaruh yang dimiliki, semakin ia
merasa membutuhkan pertolongan-Nya. Karena itu para ulama besar tidak pernah merasa dirinya paling alim. Para pemimpin besar tidak sibuk meninggikan dirinya. Mereka justru menjadi pribadi yang paling mudah mendengar, paling lembut berbicara, dan paling ringan meminta maaf. Kerendahan hati bukan tanda kelemahan. Ia adalah buah dari kedewasaan.
Padi Tidak Pernah Memakan Buahnya Sendiri
Ada pelajaran lain yang jauh lebih dalam. Padi bekerja sepanjang hidupnya bukan untuk dirinya sendiri. Ia tumbuh, berbunga, menghasilkan bulir, lalu seluruh hasilnya menjadi makanan bagi manusia. Padi tidak pernah menikmati buah yang dihasilkannya. Bukankah inilah hakikat pengabdian?
Rasulullah ﷺ bersabda, ” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” Hadis ini menemukan maknanya di tengah hamparan sawah.
Seorang kader Muhammadiyah tidak hidup untuk memperbesar dirinya sendiri. Ia hidup agar masyarakat menjadi lebih cerdas. Agar anak-anak memperoleh pendidikan. Agar fakir miskin memperoleh pertolongan. Agar masjid hidup. Agar ilmu berkembang. Agar dakwah terus berjalan. Seperti padi, seluruh hidupnya dipersembahkan untuk kehidupan orang lain.
Sawah Harus Selalu Dialiri Air
Tidak ada padi yang tumbuh baik tanpa air. Air adalah kehidupan. Begitu aliran air terputus, perlahan padi mengering. Daunnya menguning. Bulirnya mengecil. Panennya gagal. Begitulah seorang kader. Air itu adalah Al-Qur'an. Air itu adalah ilmu. Air itu adalah pengajian. Air itu adalah halaqah. Air itu adalah proses kaderisasi yang terus menghidupkan jiwa. Kader yang berhenti belajar sesungguhnya sedang mengering. Mungkin ia masih aktif menghadiri rapat.
Masih memiliki jabatan. Masih dikenal banyak orang. Namun jika hubungan dengan ilmu mulai terputus, perlahan ruh perjuangannya ikut mengering. Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas tradisi iqra’ . Organisasi ini besar bukan karena kekuatan politiknya. Melainkan karena kekuatan ilmu yang mengalir dari generasi ke generasi.
Gulma Selalu Tumbuh Lebih Cepat
Petani memahami satu kenyataan. Yang paling cepat tumbuh di sawah sering kali bukan padi. Melainkan gulma. Jika dibiarkan, gulma akan merebut air, cahaya, dan unsur hara yang seharusnya menjadi makanan padi. Begitulah kehidupan organisasi. Kesombongan lebih mudah tumbuh daripada keikhlasan. Ambisi jabatan lebih cepat berkembang daripada semangat pengabdian. Fitnah lebih cepat menyebar daripada ilmu. Kultus individu lebih mudah menarik perhatian daripada kerja-kerja sunyi. Karena itu kaderisasi bukan hanya menanam.
Ia juga membersihkan. Membersihkan hati dari riya’ . Membersihkan organisasi dari ego. Membersihkan perjuangan dari kepentingan pribadi. Tidak semua yang tumbuh adalah kebaikan. Kadang justru yang harus paling sering dicabut adalah gulma dalam diri kita sendiri.
Panen Tidak Pernah Datang dalam Semalam
Tidak ada petani yang marah karena padi belum berbuah seminggu setelah ditanam. Ia tahu bahwa kehidupan membutuhkan proses. Benih harus bertunas. Akar harus menguat. Batang harus tumbuh. Bulir harus terisi. Lalu menguning. Barulah panen tiba. Begitu pula kaderisasi. Tidak ada kader besar yang lahir dalam satu pelatihan. Tidak ada pemimpin matang yang selesai dibentuk dalam satu periode kepengurusan. Muhammadiyah telah
membuktikannya selama lebih dari satu abad. Tokoh-tokohnya lahir dari pengajian yang panjang, pembinaan yang sabar, dan pengabdian yang tidak mengenal lelah. Peradaban tidak dibangun oleh kader instan. Peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang bersedia bertumbuh bersama waktu.
Jangan Menjadi Bulir yang Kosong
Barangkali inilah kritik paling halus yang diajarkan sawah kepada kita. Bulir yang kosong selalu tampak paling tegak. Ia terlihat paling menonjol. Namun ketika musim panen tiba, justru ia menjadi yang paling sedikit nilainya.
Begitulah manusia. Kadang yang paling keras berbicara belum tentu paling banyak berkarya. Yang paling sering
tampil belum tentu paling banyak beramal. Yang paling sibuk mencari pengakuan belum tentu paling besar pengabdiannya. Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar tinggi dalam pencitraan.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang penuh isi. Penuh ilmu. Penuh adab. Penuh keikhlasan. Penuh amal. Karena hanya bulir yang berisi yang mampu menghidupi banyak orang.
Menjadi Padi yang Menghidupi Peradaban
Suatu hari nanti, nama kita mungkin tidak lagi dikenang. Jabatan akan berganti. Masa kepengurusan akan selesai. Namun ilmu yang kita ajarkan akan tetap hidup. Kader yang kita bina akan melanjutkan perjuangan. Sekolah yang kita dirikan akan terus melahirkan generasi. Masjid yang kita makmurkan akan tetap mengumandangkan azan. Sebagaimana sebutir padi yang mati agar ribuan bulir baru tumbuh, begitulah hakikat kaderisasi. Ia bukan tentang mempertahankan diri. Ia adalah tentang melahirkan generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Mungkin itulah sebabnya Allah memilih padi sebagai sumber kehidupan miliaran manusia. Karena melalui padi, Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak kehidupan yang tumbuh karena keberadaan kita. Maka jadilah seperti padi. Terus bertumbuh dalam ilmu.
Merunduk karena adab. Menguatkan karena manfaat. Dan menyerahkan seluruh hasil hidup untuk kemaslahatan umat. Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang paling sering disebut namanya. Melainkan mereka yang, seperti padi, diam-diam menghidupi peradaban.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb. (***)






