Kader Muhammadiyah Madina Ikuti Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif, Soroti Krisis Kesadaran dan Etika Kemanusiaan
INFOMU.CO | Jakarta – Kader Muhammadiyah Mandailing Natal, Nurfauzy Lubis, mengikuti kegiatan Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif: Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa yang diselenggarakan oleh MAARIF Institute pada 18–19 Juni 2026 di Tamarin Hotel Jakarta.
Kegiatan yang mengangkat tema “Pendidikan, Ekologi, dan Keadaban Publik: Menjawab Krisis Kemanusiaan melalui Reaktualisasi Gagasan Kebudayaan Buya Syafii Maarif” ini mempertemukan akademisi, peneliti, aktivis, mahasiswa, dan kader organisasi kemasyarakatan dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendiskusikan relevansi pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan kontemporer.
Sebagai peserta dari Mandailing Natal, Nurfauzy Lubis tergabung dalam Kelas Ekologi. Diskusi tersebut dipandu oleh penulis, editor, dan peneliti Ayu Arman sebagai pembahas.
Dalam kelas tersebut, peserta tidak hanya membahas persoalan kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga menyoroti akar persoalan yang lebih mendasar, yaitu krisis kesadaran manusia dan merosotnya etika kemanusiaan. Kerusakan ekologis dipandang bukan semata-mata akibat kesalahan tata kelola lingkungan, melainkan juga akibat hilangnya kesadaran moral manusia.
“Dalam diskusi kelas ekologi, kami melihat bahwa krisis lingkungan yang terjadi hari ini sesungguhnya berkaitan erat dengan krisis kesadaran dan etika kemanusiaan. Ketika manusia tidak sadar bahwa dirinya adalah bagian dari alam, maka eksploitasi menjadi sesuatu yang dianggap wajar,” ujar Nurfauzy.
Menurutnya, perspektif yang ditawarkan dalam forum tersebut sejalan dengan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban. Oleh karena itu, penyelesaian krisis ekologis tidak cukup hanya melalui pendekatan teknis dan kebijakan, tetapi juga memerlukan transformasi nilai, kesadaran, dan etika publik.
Selama kegiatan berlangsung, peserta juga mengikuti seminar umum bertajuk “Transformasi Paradigma Kebudayaan: Intervensi Strategis Mengatasi Krisis Ekologi, Reorientasi Pendidikan, dan Peneguhan Keadaban Bangsa” yang menghadirkan Dr. Saleh Partaonan Daulay dan Dr. Luthfi Assyaukanie. Selain itu, peserta mengikuti Malam Budaya bersama Menteri Kebudayaan RI, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc., serta berbagai sesi panel yang membahas institusionalisasi gagasan kebudayaan Ahmad Syafii Maarif.
Nurfauzy menilai kegiatan ini menjadi ruang refleksi penting bagi kader Muhammadiyah, khususnya generasi muda, untuk menghidupkan kembali warisan intelektual Buya Syafii Maarif dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari krisis moral, kerusakan lingkungan, ketimpangan pendidikan, hingga menurunnya kualitas ruang publik.
“Buya Syafii Maarif mengajarkan bahwa kemajuan bangsa harus dibangun di atas nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada kemaslahatan bersama. Karena itu, membangun kesadaran ekologis pada hakikatnya adalah membangun kesadaran kemanusiaan,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut ditutup dengan pembacaan Deklarasi Manifesto Kebudayaan sebagai bentuk komitmen bersama dalam mengawal agenda pendidikan, ekologi, dan keadaban publik demi terwujudnya Indonesia yang lebih berkemajuan. (***)



