Berpikir Irfani Menuntun Manusia Menemukan Hikmah Kehidupan
INFOMU.CO | Yogyakarta – Kemampuan berpikir irfani menjadi salah satu bekal penting dalam menghadapi kehidupan modern yang semakin cepat dan kompleks. Melalui cara berpikir ini, seseorang tidak hanya mengandalkan nalar, tetapi juga melibatkan kepekaan hati dan refleksi diri untuk menemukan makna di balik setiap peristiwa kehidupan.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Erik Tauvani Somae dalam pengajian bulanan karyawan PP Muhammadiyah Yogyakarta bertema “Seni Berpikir Irfani: Membangun Cara Merasakan Kehidupan” yang digelar di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat (5/6).
Erik menjelaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam terdapat tiga pendekatan berpikir, yakni bayani, burhani, dan irfani. Jika bayani berorientasi pada pemahaman teks dan hafalan, sedangkan burhani menekankan nalar kritis, maka irfani berfokus pada kedalaman batin yang dibangun melalui rasa (dzawa), pikir (taffakur), dan zikir (dzikir).
“Kalau sudah melibatkan rasa, pikir, dan zikir, akan ada hikmah. Orang yang mampu mengambil hikmah, itu orang yang melibatkan rasa, pikir, dan zikir,” ujarnya.
Menurut Erik, cara berpikir irfani juga tercermin dalam cara menyampaikan dakwah. Ia mengutip pesan almarhum Buya Syafii Maarif yang mendorong umat Islam untuk menghadirkan sentuhan kemanusiaan dalam menyampaikan ajaran agama.
“Sampaikanlah pesan Islam itu dalam bahasa hati,” kutip Erik.
Menurut Erik, pesan tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui pendekatan hukum dan logika semata, tetapi juga melalui empati serta kemampuan memahami kondisi orang lain. Dengan pendekatan itu, dakwah menjadi lebih mudah diterima dan mampu menyentuh sisi kemanusiaan audiens.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berpikir irfani semakin relevan di tengah kehidupan yang dipenuhi mobilitas tinggi dan derasnya arus media sosial. Kondisi tersebut kerap membuat seseorang menjalani kehidupan secara terburu-buru tanpa memiliki cukup ruang untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memaknai pengalaman yang dialami.
“Segala-galanya cepat, tidak sempat berzikir, tidak sempat berpikir, tidak sempat merenung. Karena segala-galanya berjalan dengan sangat cepat,” katanya.
Selain dalam kehidupan spiritual, Erik menilai cara berpikir irfani juga penting diterapkan dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pelayanan. Dalam pendidikan, misalnya, guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga tidak dapat diukur dengan standar yang sama.
Sementara dalam kepemimpinan dan pelayanan, sikap irfani mendorong seseorang untuk memimpin dengan keteladanan, memahami kondisi orang lain, serta memandang setiap tugas sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Melalui pengajian tersebut, Erik mengajak peserta untuk membiasakan refleksi diri, memperkuat rasa syukur, dan menghadirkan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, kehidupan tidak hanya dijalani sebagai rutinitas, tetapi juga menjadi sarana untuk memperoleh hikmah dan membangun karakter yang lebih matang. (muhammadiyah.or.id)



