PWMJATENG.COM, Semarang – Pelaku UMKM olahan ikan Semarang di pesisir Tambak Lorok kini mulai merombak total sistem pengemasan (packaging). Selain itu, mereka juga memperbaiki daya tahan pangan demi bisa menembus pusat oleh-oleh modern. Langkah taktis ini menjadi solusi setelah produk kuliner lokal ciptaan mereka kerap ditolak masuk swalayan akibat kemasan yang kurang menarik, lewat program pendampingan teknologi pangan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Senin (25/5/2026).
Kawasan pesisir Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, sebenarnya menyimpan potensi perikanan luar biasa. Wilayah ini merupakan salah satu kampung nelayan terbesar di Kota Semarang. Warga setempat aktif memproduksi berbagai macam kuliner matang maupun camilan kering berbasis laut. Sayangnya, keterbatasan pengetahuan teknis membuat produk bernilai ekonomi tinggi ini sering kali kalah bersaing di luar wilayah produksi mereka sendiri.
Perwakilan kelompok usaha perempuan Srikandi Cipta Bahari, Rita, mengungkapkan kendala nyata yang selama ini mengganjal laju bisnis para nelayan lokal. Menurutnya, aspek cita rasa produk mereka sebenarnya berani diadu dengan produk pabrikan. Kendala terbesar muncul saat mereka mencoba mendistribusikan produk ke jaringan pasar yang lebih luas.
“Produk olahan ikan yang kami produksi sebenarnya memiliki kualitas rasa yang baik dan mampu bersaing,” ujar Rita dalam sesi diskusi interaktif di Semarang.
Namun, dirinya mengakui bahwa produk mereka selalu terbentur syarat standar etalase modern. “Akan tetapi, ketika mencoba memasuki pasar yang lebih luas, termasuk pusat oleh-oleh dan pasar modern, produk kami masih menghadapi kendala pada aspek kemasan (packaging) yang belum menarik dan belum mengikuti tren pasar saat ini,” lanjutnya.
Rahasia Menembus Pasar Oleh-Oleh Modern
Merespons jeritan hati pelaku usaha pesisir tersebut, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berkolaborasi dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kedua kampus menerjunkan tim ahli ke lapangan. Kampus menghadirkan solusi konkret lewat standarisasi teknologi pangan, perbaikan estetika kemasan, serta adopsi ekosistem digital. Langkah taktis ini bertujuan menyelamatkan potensi ekonomi lokal agar tidak terus-menerus terjebak dalam pasar tradisional yang stagnan.
Dosen PGSD FKIP UMP, Dr. Sriyanto, M.Pd., menegaskan bahwa sebuah produk kuliner tidak bisa lagi hanya mengandalkan faktor kelezatan semata pada era digital ini. Pembeli modern menuntut jaminan visual, keamanan pangan, serta kemudahan akses informasi yang tercantum pada label luar produk.
“Produk yang baik perlu didukung dengan kemasan yang menarik, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, penting juga dilakukan kajian terkait daya tahan produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Sriyanto saat ditemui di Purwokerto.
Sriyanto menambahkan, tim akademisi kini tengah merancang formula pengemasan modern untuk memperpanjang umur simpan produk tanpa merusak kualitas pangan. Langkah ini mencakup pemilihan material bungkus kedap udara. Selain itu, tim juga mengkaji penggunaan bahan pengawet organik yang aman dan sesuai dengan regulasi standar pangan nasional. Berbagai produk lokal daerah lain terbukti mampu merajai pusat perbelanjaan berkat sistem pengemasan yang kokoh dan strategi distribusi yang rapi.
Digitalisasi dan Keterlibatan Mahasiswa
Transformasi lini hilir bisnis ini tidak hanya menyentuh aspek fisik produk, tetapi juga merombak metode pemasaran. Sebanyak 14 pelaku usaha lokal mendapatkan pendampingan langsung untuk mengaktifkan lapak digital mereka. Upaya penguatan identitas produk (branding) ini menjadi kunci penting agar produk lokal Semarang memiliki daya tawar tinggi di mata konsumen luar daerah.
Menariknya, kegiatan pengabdian masyarakat ini juga mengikutsertakan mahasiswa sebagai bagian dari program pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Kehadiran anak muda tersebut mempercepat proses edukasi digital bagi para ibu-ibu nelayan yang melek teknologi secara bertahap.
Sebagai langkah penutup, tim gabungan perguruan tinggi memberikan perangkat stimulus kemasan baru kepada mitra Srikandi Cipta Bahari. Bantuan stimulan ini menjadi simbol awal komitmen keberlanjutan kerja sama untuk mengawal olahan ikan Semarang naik kelas hingga benar-benar mandiri secara ekonomi.
Kontributor : Sasmita
Editor: Al-Afasy
The post Rasa Juara Tapi Kemasan Jadul, Ini Cara Olahan Ikan Semarang Tembus Pasar Modern appeared first on Muhammadiyah Jateng.



