Tiga Pelajaran Madrasah Idul Adha
Oleh : Nurfauzy Lubis, M.Sos – Majelis Tabligh PDM Mandailing Natal
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَلَّذِى لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ : يَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ, أُوْصِيْكُمْ والنَّفْسِي بِتَقْوَي الله وَطَاعَتِهِ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنْ. وَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ, أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
اَللَّهُ اَكْبَر, اَللَّهُ اَكْبَرْ, لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ اَللَّهُ اَكْبَر, اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
Segala puji bagi Allah Swt, Zat Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Atas limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, kita masih diizinkan bernapas, menggerakkan langkah kaki ke tempat ini, dan merayakan idul adha dalam keadaan iman dan Islam. Salawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, nabi pembawa cahaya kedamaian, teladan sejati yang mengajarkan kita hakikat pengorbanan, kepatuhan, dan keteguhan iman yang tak tergoyahkan.
Hari ini adalah hari yang agung. Hari yang Allah SWT tetapkan untuk menggantikan dua hari raya jahiliyah terdahulu. Ketika Nabi SAW berhijrah ke kota Al-Madinah Al-Munawwarah, beliau bersabda:
قَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Allah telah menggantikan hari raya Jahiliyahmu dengan dua hari raya yang lebih hebat, lebih dahsyat, dan lebih besar, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Pada saat yang sama hari ini, saudara-saudara kita di Tanah Suci sedang berkumpul menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Mereka bergerak dari Mina ke Padang Arafah, dari Arafah ke Muzdalifah, dan kembali lagi ke Mina untuk melontar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah. Setelah itu, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Kota Makkah Al-Mukarramah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i.
Sementara kita yang berada di tanah air dan di seluruh penjuru dunia lainnya, diperintahkan untuk mengagungkan Allah SWT selama lima hari lengkap, dimulai semenjak selesai waktu Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), berlanjut pada hari Nahar (10 Dzulhijjah), hingga tiga hari Tasyrik (11, 12, dan berakhir pada waktu Asar 13 Dzulhijjah). Selama hari-hari ini, gema takbir tiada henti kita kumandangkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kalimat takbir ini adalah obat. Jika ujian hidup yang kita hadapi terasa teramat besar, ingatlah bahwa kita memiliki Zat Yang Maha Besar sebagai tempat bersandar. Jika terdetik di dalam hati perasaan bahwa diri kita besar, entah karena jabatan, kekuasaan, popularitas, harta, maupun ilmu, maka runtuhkanlah kesombongan itu dengan berkata Allahu Akbar! Allah Maha Besar, kita mahluk yang kecil dan tidak ada apa-apanya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Gema takbir yang kita kumandangkan hari ini bukan sekadar pemanis lisan yang berlalu begitu saja. Di balik syiar Idul Adha yang megah ini, tersimpan lembaran-lembaran sejarah yang penuh pembelajaran. Mari kita buka mata hati kita, menengok kembali jalinan kisah teladan masa lalu, untuk memetik sari pati kehidupan yang nyata bagi diri dan keluarga kita. Setidaknya, ada tiga pelajaran inti yang wajib kita bawa pulang dari madrasah Idul Adha hari ini.
Pelajaran Pertama, Ujian Hidup Nabi Ibrahim as.
Jamaah yang dirahmati Allah, Pelajaran pertama yang dapat kita petik dari Idul Adha adalah pemahaman mendalam bahwa hidup ini adalah madrasah ujian. Mari kita tengok betapa dahsyatnya ujian yang dilalui oleh Nabiyullah Ibrahim As.
1. Ujian Menghadapi Keluarga
Nabi Ibrahim terlahir dari seorang ayah bernama Azar yang tidak beriman dan justru menjadi pembuat berhala. Ketika Nabi Ibrahim mengajaknya bertauhid dengan penuh kelembutan, apa jawaban ayahnya? Azar menghardik sebagaimana dicatat dalam Al-Qur’an:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku ya Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti mendakwahiku, niscaya kamu akan ku rajam dengan batu sampai mati! Pergilah tinggalkan aku dalam waktu yang lama!” (QS. Maryam: 46)
Bagaimana respon Nabi Ibrahim? Beliau tidak membalas dengan makian. Beliau justru menjawab dengan santun:
قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
“Salamun ‘alaika (keselamatan untukmu ayah), aku akan tetap memohonkan ampunan untukmu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia amat baik kepadaku.” (QS. Maryam: 47).
Maka tanyakanlah pada lubuk hati kita yang paling dalam, jika hari ini ada di antara kita yang diuji oleh Allah dengan anggota keluarga yang melalaikan shalat, atau hati yang remuk menyaksikan anak istri belum mau menutup aurat. Demi Allah, sadarilah, bahwa badai ujian kita hari ini belum ada seujung kuku dibanding runtuhnya hati Nabiyullah Ibrahim!
Bayangkanlah sebuah nestapa, ketika seorang anak dipaksa memilih, di satu sisi harus teguh memeluk tauhid kepada Penciptanya, namun di sisi lain, ia harus menerima kenyataan pahit diusir, dihardik, dan dibuang bagai sampah oleh ayah kandungnya sendiri. Betapa hancur dan berdarahnya hati Ibrahim tidak dimaafkan ayahnya, namun keteguhan cintanya kepada Ilahi Rabbi tak pernah surut selangkah pun.
2. Ujian Menghadapi Umat
Lolos dari ujian keluarga, Nabi Ibrahim dihadapkan pada ujian umat. Beliau berhadapan dengan kaum penyembah berhala, matahari, bulan, dan bintang. Tatkala Al-Qur’an menceritakan kisah Nabi Ibrahim melihat bulan dan matahari lalu berkata “Inilah Tuhanku”, itu bukanlah tanda beliau sedang bingung mencari Tuhan. Itu adalah metode retorika (debat) Nabi Ibrahim untuk mematahkan logika kaumnya. Ketika benda-benda langit itu tenggelam, beliau membuktikan bahwa sesuatu yang hilang, sirna, dan mati tidak layak disembah. Allah bersifat Wajibul Wujud (pasti ada), tidak mengantuk, dan tidak tidur.
Nabi Ibrahim bahkan nekat menghancurkan berhala-berhala kecil dan menyisakan satu berhala paling besar dengan kapak yang dikalungkan di lehernya. Saat kaumnya menuduh beliau, Nabi Ibrahim memakai strategi logika: “Tanyakan saja pada berhala besar itu jika mereka bisa bicara.” Beliau memaksa akal sehat kaumnya berpikir. Jika berhala itu tidak mampu membela dirinya sendiri saat dihancurkan, bagaimana mungkin ia bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudarat bagi manusia? Sungguh, Zat yang mendatangkan manfaat (An-Nafi’) dan menolak mudarat (Adh-Dhar) hanyalah Allah SWT.
3. Ujian Buah Hati
Ujian belum selesai. Nabi Ibrahim diuji dengan penantian anak yang teramat lama. Berdasarkan keterangan Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, setelah berdoa pagi dan petang, barulah di usia 86 tahun beliau dikaruniai putra pertama, Ismail, dari rahim Hajar. Kelak di usia 99 tahun, Allah karuniai lagi putra kedua, Ishaq, dari rahim Sarah.
Namun, puncaknya adalah ketika Ismail yang baru beranjak remaja (usia sekitar 13 tahun) harus diuji lewat perintah penyembelihan. Nabi Ibrahim berkata:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُر| مَاذَا تَرَىٰ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash-Saffat: 102)
Sungguh luar biasa keshalihan sang anak, Nabi Ismail menjawab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Saffat: 102).
Kesimpulannya, bahwa rangkaian peristiwa ini mengajarkan kita bahwa Islam tidak serta-merta menghapus ujian hidup, melainkan mengubah cara pandang kita dalam menghadapi ujian tersebut. Kita mungkin tetap didera sakit atau kesulitan ekonomi, namun kita tidak lagi memandangnya sebagai kutukan. Boleh jadi sakit itu adalah penggugur dosa, dan boleh jadi hidup yang pas-pasan adalah cara Allah menyelamatkan kita agar tidak sombong. Tugas kita adalah berikhtiar maksimal lalu berprasangka baik kepada Allah SWT.
Pelajaran Kedua, Hakikat Ibadah Kurban & Pesan Keikhlasan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pelajaran kedua dari Idul Adha adalah perintah penyembelihan hewan kurban sebagai wujud syukur atas nikmat-Nya yang melimpah. Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsar: 1-2)
Shalat adalah gambaran dari ibadah badan (seperti halnya tawaf, sa’i, dan jihad). Sedangkan kurban adalah gambaran dari ibadah harta (seperti zakat, wakaf, dan sedekah). Pada hari ini, kita memadukan keduanya. Kita melaksanakan shalat Idul Adha dan dilanjutkan dengan menyembelih hewan kurban.
Nabi SAW mengabarkan bahwa pahala berkurban sangatlah instan dan besar. Sebelum tetesan darah hewan kurban itu menyentuh tanah, ampunan Allah telah turun kepada orang yang ikhlas berkurban. Kelak di hari kiamat, hewan kurban tersebut akan datang lengkap dengan tanduk, bulu, dan kukunya untuk menjadi saksi ibadah kita di hadapan Allah SWT.
Di sinilah esensi penting yang harus kita camkan. Tetaplah berkurban dengan penuh keikhlasan, walaupun pengorbananmu itu kadang tidak dilihat oleh orang lain, tidak dipedulikan oleh tetangga, bahkan tidak mendapat apresiasi dan pujian dari sesama manusia. Ingatlah, kurban ini kita persembahkan untuk Allah SWT, bukan untuk meraih sanjungan di media sosial atau pengakuan dari panitia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).
Jika manusia menutup mata atas kebaikanmu, ketahuilah bahwa Allah SWT Maha Melihat dan Dialah yang akan membalas setiap ketulusan hatimu. Bagi yang memiliki kelapangan harta, berkurbanlah. Namun bagi yang benar-benar belum mampu, jangan berkecil hati. Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Kita masih bisa beribadah dengan mengagungkan Allah lewat zikir dan takbir di rumah masing-masing.
Saat kita menyaksikan hewan kurban disembelih, resapilah sebuah pesan moral. Apa? Hewan itu mati, penderitaannya selesai di dunia, dan tidak dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Namun kita manusia, setelah mati kita masih harus menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, menunggu hari kebangkitan, berdiri di Padang Mahsyar, melewati jembatan Shirathal Mustaqim, hingga melalui proses hisab amalan. Kematian kita akan jauh lebih menyakitkan daripada matinya hewan kurban jika kita tidak wafat dalam keadaan husnul khatimah. Oleh karena itu, bawalah bekal amal shalih dan jauhilah kesyirikan.
Pelajaran Ketiga, Pendidikan Anak dan Warisan Amal
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Pelajaran ketiga sekaligus yang terakhir adalah tentang bagaimana mendidik anak. Akhir-akhir ini, kita kerap disuguhkan berita pilu di media sosial mengenai perilaku anak-anak zaman sekarang yang merusak kehormatan dan martabat orang tuanya. Ini adalah alarm keras bagi kita semua. Nabi SAW mengingatkan:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaq ‘Alaih)
Berkaitan dengan tanggung jawab besar ini, mari kita renungkan bersama sebuah kegelisahan yang mendalam dalam upaya membentuk dan merawat generasi Muhammadiyah saat ini. Sungguh memprihatinkan melihat keadaan hari ini, di mana sebagian generasi muda kita, anak-anak panah persyarikatan, justru semakin jarang terlihat di masjid. Masjid-masjid kita sepi dari semangat pemuda yang sujud dan mengaji.
Tidak kalah merisaukan, ada kecenderungan di mana gairah berorganisasi di kalangan kader tidak lagi murni diniatkan sebagai ladang jihad li i’laai kalimatillah, melainkan telah bergeser orientasinya, terjebak sekadar untuk kepentingan politis praktis, meraih panggung kekuasaan, atau keuntungan pribadi semata. Akibat dari menipisnya keikhlasan ini, kita kini menyaksikan krisis kaderisasi yang nyata di atas mimbar-mimbar dakwah.
Berapa jumlah khatib muda persyarikatan di ranting-ranting kita hari ini, berapa lagi mubaligh yang tangguh serta ikhlas menyuarakan kebenaran Islam berkemajuan? Kini krisis kader ulama itu semakin nyata. Ini adalah tantangan dan pekerjaan rumah terbesar kita untuk memurnikan kembali niat, menghidupkan kembali ruh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah, agar mereka kembali ke khittah “memakmurkan masjid dan ikhlas menjadi pembawa estafet dakwah persyarikatan.”
Tugas kita adalah berikhtiar mendidik dan mendoakan mereka di setiap sujud terakhir kita. Memberikan fasilitas kepada mereka untuk berkegiatan, jangan biarkan mereka berjalan sendirian. Berhasil atau tidak, serahkanlah kepada Allah SWT.
Ingatlah kisah Nabi Nuh As yang anaknya sendiri, Kan’an, menolak naik ke atas perahu dan memilih tenggelam dalam banjir bandang:
يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُن مَعَ الْكَافِرِينَ . قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ
(Wahai anakku, naiklah bersama kami…) Dia (anaknya) menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air liar ini!” (QS. Hud: 42-43)
Begitu pula kisah Ibunda Hajar yang berlari bolak-balik dari bukit Shafa ke Marwah mencari air; air zamzam justru tidak keluar dari hentakan kaki Hajar yang kelelahan, melainkan dari hentakan kaki bayi mungilnya, Ismail. Pesannya jelas: Allah hanya menilai proses dan usaha kita, bukan hasil akhirnya.
Jamaah sekalian,
Hidup di dunia ini layaknya seorang pengembara yang berteduh sejenak di bawah pohon yang rindang. Ketika sore tiba, kita harus melanjutkan perjalanan panjang menuju alam barzakh. Sadarlah bahwa durasi kita di alam kubur jauh lebih lama ketimbang umur kita di dunia. Maka, mempersiapkanlah investasi akhirat kita sejak sekarang. Didiklah anak agar menjadi shalih dan shaliha yang kelak berdoa untuk kita, wakafkanlah sebagian harta untuk fasilitas agama, atau tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat.
Semoga Allah menerima semua ibadah kita, memberkahi kita dengan kebahagiaan di Hari Raya ini, dan mengabulkan segala doa dan harapan kita. Selamat Idul Adha 1447 H. Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Swt, mudah-mudahan Allah Swt mengabulkan doa-doa kita.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ, اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِديْنَا وَارْحَمْهُم كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Di hari raya yang agung ini, kami bersujud menundukkan jiwa dan raga kami di hadapan-Mu. Kami mengagungkan asma-Mu, mengakui bahwa Engkaulah Yang Maha Besar, sementara kami hanyalah makhluk-Mu yang kecil, lemah, dan tak punya daya selain atas pertolongan-Mu.
Ya Allah, Zat Yang Maha Membolak-balikkan Hati, anugerahkanlah kepada kami keteguhan iman dan kesabaran seluas samudra sebagaimana Engkau menanamkannya pada jiwa Nabiyullah Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail alaihimus salam. Jika hari ini Engkau menguji hidup kami, keluarga kami, dan ekonomi kami, jadikanlah ujian itu sebagai penggugur dosa dan jembatan yang membawa kami lebih dekat kepada-Mu.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Menyaksikan, terimalah ibadah shalat dan setiap tetesan darah hewan kurban kami. Tanamkanlah keikhlasan yang kokoh di dalam dada kami, agar kami tetap istiqamah berkurban dan beramal shalih. Cukuplah Engkau, ya Allah, yang menjadi saksi dan pemberi balasan terbaik bagi kami.
Ya Rabbana, Selamatkanlah anak-cucu kami, generasi muda kami, dan segenap kader penentu masa depan persyarikatan Muhammadiyah. Kami mengadukan kegelisahan hati kami kepada-Mu, ya Allah. Gerakkanlah kembali langkah kaki anak-anak muda kami untuk memakmurkan masjid-masjid-Mu. Bersihkanlah niat mereka dalam berorganisasi agar murni demi meninggikan kalimat-Mu. Jangan Engkau biarkan mimbar-mimbar kami sunyi, jangan Engkau biarkan umat-Mu kehilangan arah. Lahirkanlah dari rahim persyarikatan ini generasi ulama yang ikhlas dan mubaligh yang tangguh, yang siap menyuarakan kebenaran Islam berkemajuan dengan penuh keberanian dan kelembutan hati.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين
Terimakasih banyak atas perhatian. Mohon maaf untuk semua kesalahan. Kepada Allah Swt kita sama-sama memohon ampun. Nun, wal qolami wa ma yasturun. Billahi taufiq wal hidayah.
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ



