PWMJATENG.COM, OPINI – Kita saat ini berada di tengah pusaran peradaban bernama Society 5.0. Era ini menempatkan manusia sebagai tokoh utama untuk memecahkan berbagai masalah sosial melalui teknologi. Di tengah lompatan peradaban ini, muncul sebuah pertanyaan menarik mengenai posisi institusi agama. Bagaimana organisasi seperti Muhammadiyah menempatkan diri agar tetap relevan bagi generasi muda?
Bagi anak muda digital atau Generasi Z, cara pandang terhadap agama perlahan bergeser. Mereka tidak lagi memandang agama sebatas kumpulan aturan kaku atau ritual yang berjarak. Generasi kritis ini membutuhkan panduan spiritual yang masuk akal dan menghargai ilmu pengetahuan. Di titik inilah, visi Islam Berkemajuan tampil sebagai jawaban yang sangat relevan bagi kebutuhan mereka.
Pendekatan Rasional yang Memikat Anak Muda
Apa yang membuat Muhammadiyah begitu mudah diterima oleh generasi digital? Jawabannya terletak pada pendekatan yang sangat rasional. Anak muda masa kini menyukai sistem yang berjalan efisien, terukur, dan memberikan kepastian. Pendekatan ini ternyata sejalan dengan cara Muhammadiyah dalam mempraktikkan ajaran agama di ruang publik.
Sebuah survei menunjukkan bahwa mayoritas anak muda menganggap cara beragama Muhammadiyah sangat simpel dan tidak kaku. Contoh nyata terlihat pada penggunaan metode astronomi modern (hisab) dalam menentukan hari-hari besar. Muhammadiyah tidak ragu memadukan teks agama dengan ilmu pengetahuan terkini. Hasilnya, masyarakat bisa merencanakan agenda jauh-jauh hari karena adanya kepastian data.
Profesionalisme Institusi dan Dampak Sosial Nyata
Muhammadiyah membuktikan bahwa pelayanan publik bisa berjalan secara profesional dan mandiri. Hal ini terlihat dari jaringan sekolah, kampus, hingga rumah sakit yang tersebar luas. Kondisi tersebut menumbuhkan kepercayaan yang tinggi di mata publik. Bahkan, banyak anak muda menilai tokoh berlatar belakang Islam Berkemajuan memiliki kinerja yang sangat baik.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah menghadirkan agama sebagai institusi pelayanan yang tangguh. Mereka tidak sekadar terjebak dalam ruang perdebatan teori yang membosankan. Bukti paling nyata adalah wujud inklusivitas organisasi yang mampu menembus batas-batas identitas kelompok. Semangat kosmopolitanisme ini menjadikan Muhammadiyah sebagai rumah bersama bagi siapa saja yang menginginkan pencerahan.
Fenomena “Login Muhammadiyah” di Media Sosial
Tingginya antusiasme anak muda melahirkan fenomena unik di media sosial bertajuk “Login Muhammadiyah”. Menariknya, banyak anak muda yang mengapresiasi kiprah ini bukanlah kader internal organisasi. Mereka menaruh rasa hormat karena melihat konsistensi dalam memperjuangkan keadilan sosial. Hal ini membuktikan bahwa nilai kemanusiaan adalah bahasa universal yang bisa diterima semua kalangan.
Menghadapi era Society 5.0 memang membutuhkan keseimbangan antara teknologi dan moral. Muhammadiyah secara elegan mampu menawarkan keseimbangan tersebut kepada generasi digital. Melalui Islam Berkemajuan, anak muda tetap bisa menjadi pribadi yang rasional dan kritis. Mereka tetap berorientasi ke depan tanpa harus kehilangan pijakan spiritual yang kuat.
Kontributor: M Istajib
Editor: Ayma
The post Menakar Relevansi Islam Berkemajuan Muhammadiyah bagi Generasi Digital appeared first on Muhammadiyah Jateng.



