PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat kolaborasi global melalui kuliah tamu internasional. Acara yang berlangsung di RSGM Soelastri pada Sabtu (9/5) ini fokus menyoroti penanganan TMJ Disorder.
Pihak universitas menghadirkan Prof. Dr. Firdaus Hariri, pakar dari Universiti Malaya, sebagai pembicara utama. Ia memaparkan materi mendalam mengenai gangguan sendi rahang dalam bidang Bedah Mulut dan Maksilofasial.
Peran Vital Dokter Gigi dalam Kasus TMJ Disorder
Prof. Hariri menegaskan bahwa dokter gigi memegang peran sentral dalam menangani gangguan sendi temporomandibular. Menurutnya, tidak ada profesi kesehatan lain yang lebih kompeten dalam mengelola kasus TMJ Disorder selain dokter gigi.
Oleh karena itu, mahasiswa harus menguasai anatomi dan cara manajemen gangguan tersebut dengan tepat. Hariri menyebutkan bahwa masalah ini umumnya menyerang masyarakat pada rentang usia 20 hingga 40 tahun.
Data global menunjukkan sekitar 5 hingga 12 persen populasi dunia mengalami gejala gangguan rahang. Selain teori, mahasiswa juga mempraktikkan teknik barton sling bandage di bawah arahan langsung sang profesor.
Mengenal Gejala dan Diagnosis Gangguan Sendi Rahang
Dekan FKG UMS, Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG., menjelaskan bahwa kasus TMJ Disorder sangat sering muncul di tengah masyarakat. Namun, banyak pasien yang belum menyadari gejala awalnya secara spesifik.
Pasien biasanya mengeluhkan nyeri sendi, rahang yang terasa sakit, hingga bunyi clicking saat membuka mulut. Rasa tidak nyaman saat mengunyah juga menjadi indikator utama adanya masalah pada sendi temporomandibular.
“Pemahaman klinis mengenai TMJ Disorder menjadi sangat penting bagi calon dokter gigi. Hal ini mencakup aspek diagnosis hingga manajemen pasien secara menyeluruh,” ujar Noor Hafida.
Baca Juga: Tim FKG UMS Raih Silver Medal YISF 2026 lewat Inovasi DentAware
Peningkatan Kompetensi Klinis Mahasiswa UMS
Kuliah tamu ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan ilmiah terbaru. Mahasiswa tingkat sarjana maupun profesi belajar mengenai etiologi, faktor risiko, dan pendekatan pengobatan berbasis bukti (evidence-based treatment).
Topik TMJ Disorder sangat relevan bagi masa depan praktik kedokteran gigi modern. Calon dokter gigi tidak hanya belajar prosedur klinis, tetapi juga harus memahami keluhan pasien secara holistik.
Melalui kegiatan akademik ini, FKG UMS terus mendorong diskusi ilmiah yang dinamis. Institusi berharap kompetensi mahasiswa semakin berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu kedokteran gigi internasional.
Kontributor : Maysali
Editor: Al-Afasy
The post Kuliah Tamu Internasional FKG UMS Soroti Penanganan TMJ Disorder appeared first on Muhammadiyah Jateng.





