PWMJATENG.COM, JAKARTA – Gerakan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak dan Ternate menjadi bukti nyata bahwa kerja lintas iman serta pelestarian lingkungan dapat tumbuh melalui pendekatan sederhana. Melalui kesabaran dan konsistensi, program ini berhasil membangun ruang kolaborasi yang kokoh dari akar rumput.
Sesi berbagi pengalaman bertajuk “Pelibatan Para Pihak” ini menghadirkan Octavia Shinta Aryani (Pontianak) dan Usman Mansur (Ternate). Mereka mengisahkan perjalanan mengelola program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) Eco Bhinneka Muhammadiyah di wilayah masing-masing.
Kepala Sekolah Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ahsan Jamet Hamidi, memberikan pengantar yang mendalam. Ia menekankan bahwa membangun komunikasi dan kepercayaan di kalangan anak muda lintas agama membutuhkan proses panjang sejak memulai program pada 2021 lalu.
Diplomasi Kuliner Pererat Kerukunan di Pontianak
Octavia Shinta Aryani memulai langkah Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pontianak dengan strategi unik bernama “diplomasi kuliner”. Ia mengundang tokoh-tokoh agama makan bersama untuk memperkenalkan visi program secara personal dan hangat.
Silaturahmi menjadi kunci utama bagi Shinta dalam membangun kedekatan tanpa batas agenda formal. Oleh karena itu, hubungan yang terbangun terasa lebih tulus dan melampaui sekat organisasi lintas iman yang kaku.
Hasilnya, lahir komunitas Sahabat Eco Bhinneka (SEKA) yang terdiri dari jejaring anak muda lintas agama. Mereka aktif menginisiasi kegiatan seperti Cycling to Religious Sites, youth camp, hingga kampanye lingkungan di berbagai ruang publik.
Kini, pemerintah daerah dan berbagai sekolah mulai memberikan kepercayaan penuh kepada gerakan ini. Seiring berjalannya waktu, kader muda SEKA bahkan telah bertransformasi menjadi penggerak mandiri yang tangguh di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Hening Parlan: Cara Pandang Keliru Terhadap Bumi Jadi Pemicu Utama Krisis Lingkungan
Gerakan Lingkungan Memutus Trauma di Ternate
Berbeda dengan Pontianak, Usman Mansur mengawali perjalanan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Ternate dengan penuh tantangan. Ia mengaku awalnya sempat bingung menghubungkan isu kerukunan dengan agenda pelestarian lingkungan.
Namun, semangat keterbukaan perlahan mencairkan hambatan administrasi dan resistensi internal. Usman bersama komunitas lintas iman mulai konsisten menggelar aksi bersih pantai hingga pengamanan hari besar keagamaan secara bersama-sama.
Menurut Usman, kerusakan lingkungan berdampak pada semua orang tanpa memandang latar belakang agama. Karena itu, penyelesaian masalah alam harus menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.
Pendekatan ini sekaligus bertujuan memutus rantai trauma konflik sosial masa lalu di Maluku Utara. Ruang perjumpaan yang sehat melalui Eco Bhinneka Muhammadiyah memberikan harapan baru bagi generasi muda untuk saling percaya.
Kolaborasi Strategis untuk Masa Depan Lestari
Praktik baik di dua kota tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan merupakan pintu masuk efektif untuk mempertemukan perbedaan. Perubahan sosial ini membutuhkan kesabaran serta keberanian dalam menghadapi setiap tantangan di lapangan.
Selanjutnya, Akademi Eco Bhinneka Muhammadiyah terus berupaya memperluas gerakan ini dari skala wilayah menjadi berbasis individu. Hal ini bertujuan membekali kader muda agar memiliki kepekaan tinggi terhadap isu kerukunan.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 1-3 Mei 2026 ini diharapkan melahirkan agen perubahan yang tangguh. Melalui jejaring yang kuat, keberlanjutan lingkungan dan kedamaian di Indonesia akan semakin terjaga.
Kontributor: Farah Adiba
Editor: Al-Afasy
The post Inspirasi dari Pontianak & Ternate: Cara Eco Bhinneka Muhammadiyah Rajut Kerukunan Lewat Isu Lingkungan appeared first on Muhammadiyah Jateng.





