Habiskan Duit Rp434 T dalam Dua Bulan Perang, AS Diguncang Bencana Politik dan
INFOMU.CO | WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan 25 miliar dolar AS atau setara Rp434 triliun (dengan kurs Rp17.300 per dolar AS) untuk membiayai perang melawan Iran. Hal itu diungkap pejabat senior Pentagon ketika menghadiri sidang bersama Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Rabu (30/4/2026).
Pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst, mengungkapkan dana 25 miliar dolar AS tersebut digunakan untuk berbagai keperluan. “Sebagian besar dana tersebut untuk amunisi. Sebagian dari itu jelas untuk O&M (operasi dan pemeliharaan) dan penggantian peralatan,” kata Hurst selama sidang untuk membahas permintaan anggaran Pentagon untuk tahun fiskal 2027.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine turut hadir dalam sidang bersama Komite Angkatan Bersenjata. Pada kesempatan itu, Hegseth membela keputusan Pemerintah AS untuk berperang dengan Iran.
Dalam sidang tersebut, Hegseth menolak pertanyaan soal biaya perang. Dia justru mengajukan pertanyaan retorik. “Pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada komite ini adalah, berapa nilainya untuk memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir?”ujar dia.
Sidang tersebut merupakan momentum perdana Hegseth memberikan kesaksian di hadapan Kongres sejak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Kini dampak perang tersebut harus turut ditanggung banyak negara dunia.

Dalam sidang bersama Komite Angkatan Bersenjata, Hegseth turut menyerang anggota parlemen dari Partai Demokrat. Hegseth menyebut mereka “tidak becus” karena terus mengkritik konflik yang kini sedang melibatkan AS. Padahal, sebagian publik AS memang menolak adanya perang, termasuk dengan Iran.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat memang menghujani Hegseth dengan berbagai pertanyaan, misalnya soal mengapa perang tak kunjung usai. Salah satu perwakilan Demokrat, John Garamendi, menyebut konflik yang melibatkan AS saat ini sebagai “bencana politik dan ekonomi di setiap tingkatan”.
Merespons hal tersebut, Hagseth justru mengkritik anggota parlemen Partai Demokrat dan menyebut mereka “ceroboh, tidak becus, dan pesimis”. “Jangan katakan: ‘Di satu sisi saya mendukung pasukan, tetapi di sisi lain misi dua bulan ini terasa seperti rawa’. Siapa yang Anda dukung di sini? Siapa yang Anda perjuangkan?” kata Hagseth.
AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Hingga kini AS dan Iran belum menyepakati perjanjian untuk menghentikan pertempuran secara permanen. Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi konflik diketahui telah melambungkan harga minyak dunia.
Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, popularitas Presiden AS Donald Trump merosot tajam sejak konflik dimulai. Survei Reuters menunjukkan, hanya 34 persen warga AS yang menyetujui konflik negara tersebut dengan Iran. Angka itu turun dari 36 persen pada pertengahan April 2026 dan 38 persen pada pertengahan Maret 2026. (rep)





