Literasi sebagai Pilar Kaderisasi Muhammadiyah Membangun Tradisi Pengetahuan melalui Pengalaman Aktivisme
(Tulisan ke-52 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Literasi dalam Gerakan: Menemukan Kekuatan Baru
Dalam dunia yang terus berkembang ini, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kekuatan yang mampu mengubah cara berpikir, cara bertindak, dan cara memahami dunia. Bagi seorang aktivis, literasi adalah alat utama untuk memperdalam pengetahuan, memperluas pandangan, dan menciptakan gagasan yang mampu mentransformasi masyarakat.
Sebagai seorang aktivis, saya sendiri menyadari bahwa menulis adalah tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar berbicara di depan publik. Berpidato di hadapan ribuan peserta mungkin terasa lebih natural, tetapi merangkai kata dan ide menjadi tulisan—itu adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit. Dulu, saya sering merasa bahwa tulisan harus sempurna, terstruktur rapi, dan layak untuk dipublikasikan. Tetapi melalui perjalanan panjang, saya menyadari bahwa menulis adalah keterampilan yang berkembang melalui latihan, kemauan, dan keberanian untuk mulai.
Artikel ini saya tulis tepat satu tahun setelah saya pertama kali menulis di Infomu, sebuah platform yang saya gunakan untuk berbagi pengalaman dan pemikiran saya seputar gerakan Muhammadiyah. Melalui tulisan ini, saya ingin merefleksikan perjalanan saya dalam dunia literasi, serta bagaimana literasi menjadi bagian tak terpisahkan dari kaderisasi Muhammadiyah. Tujuan saya sederhana: mengajak para kader muda untuk menulis, menjadikan menulis sebagai bagian integral dari perjalanan intelektual dan keberlanjutan gerakan kita.
Literasi dalam Perspektif Muhammadiyah
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah mengakui pentingnya literasi sebagai pondasi utama dalam dakwah dan pembaruan pemikiran Islam. KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memupuk tradisi membaca dan menulis yang menjadi salah satu pilar utama gerakan ini. Beliau adalah seorang pendidik yang mengutamakan pemikiran kritis, menjadikan literasi sebagai jalan untuk membangun gerakan yang berakar pada pemahaman yang mendalam.
Tradisi ini diteruskan oleh para tokoh besar Muhammadiyah, seperti Buya Hamka, Buya Syafii Maarif, dan Kyai Haji Haedar Nashir, yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai penulis produktif. Karya-karya mereka menjadi warisan pemikiran yang menginspirasi generasi berikutnya. Dengan demikian, literasi dalam Muhammadiyah bukan hanya aktivitas individual, melainkan bagian dari etika keilmuan yang menjadi landasan gerakan ini.
Minimnya Tradisi Menulis di Kalangan Aktivis Muda
Selama bertahun-tahun memimpin organisasi, saya menyaksikan fenomena yang cukup mengkhawatirkan: aktivitas kader Muhammadiyah sangat aktif di lapangan, dalam kegiatan sosial, pelatihan, dan diskusi. Namun, kader-kader ini jarang menuangkan gagasan mereka ke dalam tulisan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Muhammadiyah, tetapi juga merupakan refleksi dari kondisi literasi di Indonesia secara umum.
Menurut data UNESCO, minat baca di Indonesia sangat rendah, hanya sekitar 0,001%. Artinya, hanya 1 dari 1.000 orang yang memiliki kebiasaan membaca secara intensif. Sementara itu, media sosial dan konsumsi konten visual mendominasi waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengembangkan pengetahuan melalui buku dan artikel. Generasi muda lebih sering menghabiskan waktu dengan video pendek, hiburan, dan media sosial, yang membuat stamina membaca dan kemampuan menulis semakin menurun.
Di sisi lain, Muhammadiyah adalah gerakan yang kaya dengan pengalaman. Pengalaman yang tidak dituliskan akan hilang. Tanpa tradisi menulis, sebuah gerakan akan kehilangan memori kolektif yang berharga.
Mengapa Kader Muhammadiyah Perlu Menulis?
Literasi dan menulis memiliki banyak manfaat dalam konteks kaderisasi Muhammadiyah. Berikut adalah beberapa alasan mengapa menulis sangat penting:
- Menulis sebagai Proses Intelektual
Menulis memaksa kita untuk mengorganisasi pikiran, menyusun argumen, dan memeriksa kembali logika yang dibangun. Proses ini menjadi bagian penting dalam keterampilan berpikir reflektif, yang menjadi ciri khas pemimpin intelektual Muhammadiyah.
- Menulis sebagai Dokumentasi Pengalaman Gerakan
Setiap langkah yang kita ambil sebagai kader Muhammadiyah memiliki nilai yang besar. Jika tidak dituliskan, pengalaman itu hanya akan menjadi cerita lisan yang hilang seiring waktu. Dengan menulis, kita memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk belajar dari pengalaman dan pelajaran yang kita peroleh.
- Menulis sebagai Alat Dakwah Berkelanjutan
Tulisan lebih tahan lama dibandingkan ucapan. Ia dapat diakses kembali, dikutip, dan menjadi referensi dalam diskursus publik. Dengan menulis, gagasan Muhammadiyah dapat tetap hidup dan berkembang, jauh melampaui waktu dan ruang.
- Menulis sebagai Penguat Identitas Kader Intelektual Muhammadiyah
Kader Muhammadiyah harus memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam percakapan intelektual di tingkat nasional dan global. Menulis adalah salah satu cara kita mengukuhkan diri sebagai kader yang berilmu dan mampu berperan dalam perdebatan intelektual yang membentuk arah masa depan bangsa.
- Menulis sebagai Sarana Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dengan menulis, kita bisa menyebarkan nilai-nilai kebaikan, keadaban, dan kemajuan, melampaui batas ruang dan waktu. Tulisan menjadi sarana untuk mengajak umat menuju perubahan positif, tanpa harus mengandalkan metode konvensional.
Mengatasi Hambatan Psikologis dalam Menulis
Bagi banyak kader, menulis adalah tantangan yang besar. Ketakutan akan ketidaksempurnaan, rasa tidak layak, dan perasaan tulisan tidak akan cukup ilmiah sering kali menghalangi langkah pertama. Namun, hambatan ini bisa diatasi:
- Memulai dari Narasi Pengalaman
Menulis tidak harus selalu dimulai dengan teori-teori berat. Justru, menulis tentang pengalaman konkret, cerita gerakan, atau refleksi pribadi bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk mengembangkan tulisan lebih lanjut.
- Mengizinkan Diri Menulis Tidak Sempurna
Draf pertama tidak perlu mulus. Banyak penulis besar mengatakan bahwa keindahan tulisan terletak pada proses revisi, bukan pada draf awal.
- Membaca Karya Tokoh Muhammadiyah
Mempelajari tulisan-tulisan Buya Hamka, Syafii Maarif, dan Haedar Nashir membantu saya memahami bahwa keindahan tulisan tidak terletak pada kerumitan bahasa, tetapi pada kedalaman gagasan dan kejelasan pemikiran.
- Menulis dalam Satuan Kecil
Menulis sedikit demi sedikit, seperti menulis satu paragraf setiap hari, lebih efektif daripada memaksakan diri untuk menulis panjang dalam satu waktu.
- Mempublikasikan Tulisan Pertama
Langkah pertama yang menentukan adalah mempublikasikan tulisan pertama. Setelah itu, hambatan psikologis akan berkurang dan semangat menulis akan tumbuh.
Membangun Ekosistem Literasi di Muhammadiyah
Untuk memperkuat budaya literasi, organisasi harus menyediakan ekosistem literasi yang mendukung kader untuk membaca, berdiskusi, menulis, dan mempublikasikan tulisan mereka. Beberapa langkah yang dapat diambil adalah:
- Membentuk Komunitas Menulis Kader
Mengajak kader untuk bergabung dalam komunitas menulis yang saling mendukung.
- Memberi Ruang Publikasi
Membuka ruang bagi kader untuk mempublikasikan tulisan mereka melalui buletin, blog, atau kolom opini di media.
- Menyelenggarakan Pelatihan Literasi
Mengadakan pelatihan menulis dan membaca yang berkelanjutan untuk kader muda.
- Mengintegrasikan Menulis dalam Kaderisasi Formal
Memasukkan tugas menulis dalam setiap tahap kaderisasi formal di Muhammadiyah.
- Mengapresiasi dan Mendokumentasikan Karya Kader
Menghargai karya tulis kader dan menjadikannya sebagai bahan referensi gerakan.
Menulis sebagai Warisan Gerakan
Menulis bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi adalah pernyataan tanggung jawab intelektual seorang kader terhadap gerakan dan masa depan. Dengan menulis, kita memastikan bahwa setiap pengalaman dan gagasan yang kita miliki tetap hidup dalam memori kolektif Muhammadiyah, menjadi warisan untuk generasi mendatang.
Mari kita mulai dari hal kecil: menulis satu paragraf, satu refleksi, atau satu pengalaman. Sebab, dari langkah kecil ini lahir gagasan besar yang bisa mengubah arah gerakan dan bangsa.
“Kalau kamu ingin menggerakkan dunia, berbicaralah.
Kalau kamu ingin mengenal dunia, bacalah.
Kalau kamu ingin dikenal dunia, menulislah.”
Wallahu a’lam bish shawab



