PWMJATENG.COM, JEPARA – Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) PDA Jepara menghadirkan suasana baru yang cukup menarik selama Ramadan tahun ini. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan Ramadan terasa lebih ceria dan menyenangkan. Setiap sore menjelang berbuka, para ibu ‘Aisyiyah dan keluarga seolah memiliki sesuatu yang dinantikan.
Bukan hanya menu berbuka puasa untuk membatalkan dahaga setelah seharian berpuasa. Lebih dari itu, hadir sebuah tayangan singkat di media sosial YouTube yang dapat disimak setiap menjelang berbuka. Tayangan tersebut bernama KURMA, akronim dari Kajian Ringan Menjelang Berbuka.
Jika selama ini kurma dikenal sebagai buah khas dari tanah suci yang dianjurkan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa, maka KURMA yang dimaksud di sini adalah sebuah produk dakwah digital melalui media sosial. Program ini lahir dari gagasan MTK bersama Korps Muballighat, dengan tujuan memberdayakan serta mengoptimalkan peran para muballighat yang telah terbentuk.
Debut KURMA yang berupa tayangan kultum singkat semakin hari semakin menarik perhatian para pemirsanya. Materi yang disampaikan beragam, berbobot, dan dikemas secara menarik. Durasi tayangan yang hanya sekitar lima hingga tujuh menit sering terasa kurang, bahkan tidak jarang pemirsa mengulang tayangan agar dapat menyimak materi dengan lebih seksama.
Selain singkat, tayangan KURMA juga fleksibel karena dapat disimak kapan saja tanpa menyita banyak waktu. Bahkan, kajian ini tetap bisa dinikmati sambil melakukan aktivitas rumah tangga lainnya, tanpa mengurangi kualitas pesan dakwah yang disampaikan.
Program KURMA sendiri merupakan tindak lanjut dari kegiatan Training of Trainers (ToT) Muballighat yang telah digelar sebelumnya. Dengan lahirnya sejumlah muballighat—atau mubaligah menurut KBBI—diharapkan dakwah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas hingga ke tingkat akar rumput.
KURMA yang tayang setiap sore diisi secara bergiliran oleh para muballighat dari berbagai cabang dan ranting di Jepara. Program ini terbukti mampu membangkitkan semangat berdakwah agar lebih terarah dan tepat sasaran. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari pembahasan Asmaul Husna hingga tema-tema keislaman lainnya.
Setiap cabang di Jepara diwajibkan mengirimkan minimal tiga muballighat untuk mengisi tayangan KURMA. Dari 15 cabang yang ada, diharapkan seluruhnya dapat memenuhi target selama Ramadan, bahkan berlanjut hingga bulan-bulan setelahnya.
Agar semangat dakwah terus terjaga, para muballighat juga diberikan tugas-tugas ringan oleh MTK PDA, seperti kultum atau kuliah tujuh menit secara spontan dalam setiap pertemuan rutin bulanan. Perbedaan tingkat kemampuan tidak membuat para muballighat berkecil hati, justru menjadi pemacu semangat untuk terus belajar dan berkembang.
Melalui cara tersebut, para muballighat dituntut untuk selalu siap dengan materi dakwahnya. Selain menjadi sarana latihan berdakwah di depan umum, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menggali potensi tersembunyi para muballighat yang selama ini belum terlihat secara optimal.
Program KURMA pun menjadi jawaban atas kebutuhan dakwah di era digital. Selain sebagai sarana dakwah yang mudah diakses, KURMA juga menjadi ruang bagi para muballighat untuk menunjukkan kemampuan, sekaligus menebar kebaikan dan amal saleh kepada masyarakat luas.
Kontributor : Wurry Srie
The post KURMA, Kajian Ringan Jelang Berbuka Selama Ramadan appeared first on Muhammadiyah Jateng.





