Muhammadiyah Siapkan Seribu Relawan Psikososial untuk Respons Bencana Nasional
INFOMU.CO | Medan – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP
Muhammadiyah) terus memperkuat peran kemanusiaannya dalam merespons situasi kebencanaan di Indonesia. Melalui mandat darurat kebencanaan Muhammadiyah, Ketua MPKS PP Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si., dipercaya sebagai penanggung jawab layanan psikososial bagi korban banjir di Pulau Sumatera.
Sebagai langkah strategis, MPKS menyiapkan sedikitnya 1.000 relawan yang tergabung dalam KawanMu (Korps Relawan Sosial Muhammadiyah) untuk diterjunkan ke wilayah terdampak. Kehadiran relawan psikososial dinilai krusial, tidak hanya dalam membantu pemulihan mental penyintas, tetapi juga mempercepat proses adaptasi korban, khususnya kelompok rentan, pada fase pascabencana.
Untuk memastikan kesiapan tersebut, MPKS PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui unit BISPAR (Bisnis dan Pariwisata) menyelenggarakan Pelatihan dan Pembekalan Relawan Psikososial bertema “Relawan Tangguh, Pendampingan Psikososial yang Empatik di Area Bencana.”
Kegiatan berlangsung pada 13–17 Februari 2026 di Kota Medan dan diikuti oleh 20 relawan KawanMu dari berbagai daerah.
Ketua MPKS PW Muhammadiyah Sumatera Utara, Dr. Mohd. Yusri, M.Si., dalam sambutan pembukaan di BBPPMPV-BBL Medan (P4TK) menegaskan bahwa relawan Muhammadiyah memikul tanggung jawab moral dan institusional dalam setiap misi kemanusiaan. “Relawan harus mampu merespons situasi kebencanaan dengan cepat dan tepat, karena setiap relawan membawa serta nama besar Muhammadiyah dalam setiap tugas kemanusiaan yang dijalankan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa profesionalitas relawan tidak hanya diukur dari kehadiran fisik di lokasi bencana, tetapi juga dari kapasitas empati, ketepatan intervensi, serta kemampuan menjaga martabat penyintas.
Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah, Misran, S.Ag., menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menyiapkan relawan psikososial yang berasal dari unsur guru, mahasiswa, dan tenaga pendidik agar mampu memberikan dukungan emosional dan layanan trauma healing, terutama di sekolah-sekolah darurat. (***)




