Mendidik anak adalah amanah besar yang Allah titipkan kepada setiap orang tua. Amanah ini bukan sekadar tanggung jawab untuk memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi juga kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai agama, akhlak mulia dalam menjalani kehidupan.
Anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah: suci, bersih, dan belum mengenal baik-buruk. Mereka ibarat kertas putih yang siap diwarnai oleh tangan orang tuanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa lingkungan keluarga adalah faktor utama pembentuk kepribadian anak. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di rumah akan membentuk dasar karakter mereka ketika dewasa. Orang tua menjadi “guru pertama” sekaligus teladan yang menentukan arah masa depan anak.
Salah satu cara paling mendasar dan efektif dalam mendidik anak adalah melalui nasihat. Nasihat yang tulus, bijak, dan tepat waktu bisa menjadi cahaya penerang yang menuntun anak di tengah gelapnya tantangan zaman.
Namun, nasihat yang disampaikan dengan cara kasar, penuh emosi, atau nada merendahkan justru berpotensi menutup hati anak. Bahkan, ada kalanya mereka menolak pesan yang sebenarnya bermanfaat hanya karena cara penyampaiannya kurang tepat.
Di sinilah pentingnya seni memberi nasihat. Islam telah memberikan panduan jelas bagaimana orang tua dan pendidik menasihati dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Dalam al-Quran, kita mendapati kisah-kisah teladan seperti Luqman yang menasihati anaknya dengan panggilan penuh cinta, atau Rasulullah Saw yang membimbing para sahabat muda tanpa memarahi atau mempermalukan.
Pandangan umum pendidikan modern pun selaras dengan prinsip ini. Psikologi perkembangan menekankan bahwa nasihat yang dibungkus dengan empati dan bahasa positif akan jauh lebih efektif dibanding teguran keras.
Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam suasana penuh dukungan emosional cenderung lebih percaya diri, berperilaku baik, dan memiliki hubungan yang sehat dengan orang tuanya.
Oleh karena itu, baik menurut ajaran Islam maupun ilmu pendidikan modern, memberikan nasihat kepada anak bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran itu sampai dan diterima di hati mereka.
Selain itu, nasihat harus dijadikan jembatan yang menghubungkan hati orang tua dengan hati anak, bukan tembok yang memisahkan keduanya.
Ajaran Islam tentang Cara Menasihati Anak
Al-Quran memberikan teladan menasihati anak dengan penuh hikmah. Salah satu contoh terbaik adalah nasihat Luqman kepada anaknya yang diabadikan dalam al-Quran:
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs Luqman: 17)
Ayat ini mengandung beberapa prinsip, di antaranya yakni:
- Satu, Dengan panggilan penuh kasih (yaa bunayya: wahai anakku tercinta)
Kata yaa bunayya adalah bentuk panggilan lembut dan penuh cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Dalam bahasa Arab, tambahan “yaa” sebagai seruan dan “bunayya” (dengan bentuk tashghir) menunjukkan rasa sayang, perhatian, dan kedekatan emosional.
Panggilan seperti ini membuat anak merasa dihargai dan dicintai sehingga lebih terbuka menerima nasihat. Dalam pendidikan, pendekatan emosional yang positif terbukti membuat pesan lebih mudah diterima daripada teguran yang dingin atau kasar.
- Dua, Mengajarkan kewajiban agama
Nasihat pertama yang Luqman sampaikan adalah ‘aqimis shalah (dirikanlah shalat). Ini menunjukkan prioritas utama pendidikan anak dalam Islam adalah menanamkan kewajiban ibadah sejak dini.
Shalat adalah tiang agama, penghubung seorang hamba dengan Tuhannya, dan fondasi akhlak yang baik. Mengajarkan kewajiban agama bukan sekadar menghafal perintah, tetapi juga membiasakan anak melaksanakannya dengan kesadaran dan keteladanan orang tua.
- Tiga, Mengarahkan pada kebaikan dan mencegah keburukan
Perintah وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ berarti membimbing anak untuk aktif mengajak kepada hal-hal baik serta menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Ini melatih anak memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk lingkungannya. Prinsip amar ma’ruf nahi munkar menanamkan nilai keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak dan penuh hikmah.
- Empat, Menguatkan anak untuk bersabar dalam menjalani kehidupan
Perintah وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ mengajarkan bahwa hidup tak selalu berjalan mulus. Anak perlu dibekali kesabaran dalam menghadapi ujian, kegagalan, atau penolakan.
Sabar adalah sifat yang membuat seseorang tetap teguh di jalan kebenaran meski menghadapi kesulitan. Dalam pendidikan modern, ini disebut resilience (ketangguhan mental), yaitu kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan. Islam menempatkan sabar sebagai salah satu kunci keberhasilan dunia dan akhirat.
Selain itu, Rasulullah Saw juga memberikan contoh nyata. Beliau menasihati dengan kelembutan, tidak memaki, dan tidak mempermalukan di depan umum.
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah menasihati Abdullah bin Abbas dengan kalimat yang penuh kehangatan:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَوْمًا فَقَالَ:
يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ. (HR. الترمذي وقال حديث حسن صحيح، وأبو داود)
Dari Ibnu Abbas berkata: Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah Saw, lalu beliau bersabda,
“Wahai anakku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan sahih; juga diriwayatkan Abu Dawud).
Cara Menasihati Anak dalam Perspektif Psikologi
Psikologi pendidikan modern juga menekankan bahwa nasihat yang efektif tidak hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana dan kapan menyampaikannya.
Ada beberapa prinsip penting yang bisa dipegang oleh orang tua maupun pendidik, di antaranya:
- Satu, Komunikasi yang empatik.
Sebelum memberikan nasihat, orang tua perlu mendengarkan terlebih dahulu perasaan dan sudut pandang anak.
Misalnya, ketika anak pulang sekolah dengan wajah murung karena bertengkar dengan temannya, orang tua bisa bertanya, “Nak, sepertinya kamu sedang sedih. Mau cerita sama Ibu?”
Setelah anak merasa didengar, barulah orang tua memberikan arahan. Pendekatan ini membuat nasihat terasa sebagai bentuk dukungan, bukan sekadar koreksi.
- Dua, Timing yang tepat.
Memberi nasihat ketika anak sedang marah, lapar, atau lelah sering kali tidak efektif, bahkan bisa menimbulkan penolakan.
Lebih baik menunggu sampai suasana hati anak lebih tenang, misalnya setelah makan atau sebelum tidur, ketika mereka lebih rileks dan siap mendengar. Dalam kondisi ini, pesan yang disampaikan akan lebih mudah masuk dan diingat.
- Tiga, Bahasa yang positif.
Penggunaan kata-kata yang merendahkan atau bernada menghakimi dapat melukai harga diri anak. Sebaliknya, bahasa positif memfokuskan pada perilaku yang diharapkan, bukan pada kesalahan semata.
Contoh: alih-alih berkata “Kamu selalu malas belajar!”, orang tua bisa mengatakan, “Ibu tahu kamu bisa lebih fokus kalau belajar sebentar-sebentar tapi rutin. Yuk, kita atur jadwalnya bersama.” Bahasa positif menumbuhkan motivasi tanpa menimbulkan rasa bersalah berlebihan.
- Empat, Teladan nyata.
Nasihat akan lebih bermakna jika diiringi dengan contoh dari perilaku orang tua sendiri. Jika orang tua menasihati anak untuk tidak berkata kasar, tetapi mereka sendiri mudah terpancing emosi, pesan tersebut akan kehilangan kekuatannya. Sebaliknya, anak akan belajar lebih cepat ketika melihat orang tua konsisten antara ucapan dan tindakan.
- Lima, Pendekatan kolaboratif.
Anak cenderung lebih berkomitmen pada suatu keputusan jika mereka dilibatkan dalam proses mencari solusi.
Misalnya, jika anak sering lupa mengerjakan PR, orang tua bisa berkata, “Menurut kamu, cara apa yang bisa membantu supaya PR selalu selesai tepat waktu?” Pendekatan ini membuat anak merasa memiliki tanggung jawab dan mendorong kemandirian. (*)
Artikel Cara Menasihati Anak dengan Baik Menurut Perspektif Islam dan Psikologi pertama kali tampil pada PWMU.CO.







