
Pernahkah terbayang, sebuah organisasi Islam yang telah berdiri lebih dari seabad lalu, kini dengan lugas berbicara tentang Kecerdasan Buatan (AI)? Itulah Muhammadiyah.
Melalui suara Ketua Umum Pimpinan Pusatnya, Bapak Haedar Nashir. Beliau dengan jernih menyatakan, “Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah dan tajdid harus menjadi solusi dari problem disrupsi. Seluruh sistem yang dihasilkan oleh Artificial Intelligence (AI) harus kita jadikan wasilah atau alat, dan untuk itu kita harus memiliki kerangka berpikir yang luas.”
Pernyataan ini, bagi saya, adalah sebuah penanda penting. Bukan sekadar wacana seminar atau pidato formal, melainkan semacam kompas strategis yang mengarahkan Muhammadiyah untuk terus relevan dan adaptif di tengah pusaran perubahan zaman.
Bukan Sekadar Kata, tapi Gerakan Jiwa Muhammadiyah
Kita tahu, Muhammadiyah bukan organisasi kemarin sore. Sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, organisasi ini tak pernah berhenti bergerak, berinovasi. Dari sekolah hingga rumah sakit, dari panti asuhan hingga perguruan tinggi, semuanya dibangun atas semangat “tajdid” – pembaruan. Tajdid bukan hanya soal syariat, tapi juga cara berpikir, cara berorganisasi, dan cara berkarya.
Maka, ketika Pak Haedar bicara “disrupsi”, itu bukan sesuatu yang asing bagi jiwa Muhammadiyah. Dulu, disrupsi bisa jadi adalah kolonialisme, kemiskinan, atau ketertinggalan pendidikan. Kini, disrupsi itu berwujud teknologi yang begitu cepat, informasi yang melimpah, dan perubahan sosial yang tak terduga. Muhammadiyah, dengan DNA adaptifnya, terpanggil untuk tidak hanya bertahan, tapi menjadi “solusi”. Solusi yang berarti memberikan arah, nilai, dan juga inovasi nyata.
AI: Bukan Musuh, tapi “Wasilah” Kita
Inilah bagian paling menarik dan progresif dari pernyataan Pak Haedar: “Seluruh sistem yang dihasilkan oleh Artificial Intelligence (AI) harus kita jadikan wasilah atau alat…”
Bayangkan, ini adalah narasi yang begitu membumi dan sangat Muhammadiyah. AI tidak diletakkan sebagai entitas menakutkan yang akan mengambil alih manusia, apalagi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Justru sebaliknya, AI ditempatkan pada posisi yang tepat: sebuah “wasilah” atau alat. Sama seperti pensil yang bisa untuk menulis puisi indah atau surat ancaman, atau gunting yang bisa untuk membuat pola baju atau merusak, AI juga demikian. Kekuatan AI terletak pada bagaimana kita menggunakannya. Bagi Muhammadiyah, alat ini harus diarahkan untuk kemaslahatan, untuk mendukung misi dakwah dan tajdid.
Artinya, kita bisa membayangkan:
- Di rumah sakit Muhammadiyah: AI bisa membantu dokter mendiagnosis penyakit lebih akurat, mengatur jadwal pasien lebih efisien, atau bahkan membantu penelitian obat baru.
- Di sekolah atau universitas Muhammadiyah: AI bisa menjadi asisten belajar yang personal untuk setiap siswa, membantu guru menyiapkan materi ajar yang interaktif, atau menganalisis pola belajar untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
- Di kantor pusat Muhammadiyah: AI bisa mengelola data anggota yang besar, membantu merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, atau mengoptimalkan penggunaan sumber daya organisasi.
Ini bukan fantasi, ini adalah keniscayaan. Dan dengan menempatkan AI sebagai “wasilah,” Muhammadiyah telah membuka pintu lebar-lebar bagi eksplorasi dan pemanfaatannya tanpa keraguan yang berlebihan, melainkan dengan pijakan nilai yang kokoh.
“Kerangka Berpikir yang Luas”: Kunci Performa Adaptif Masa Depan
Namun, ada satu bagian lagi yang tak kalah penting, bahkan bisa dibilang fondasi dari semuanya: “…dan untuk itu kita harus memiliki kerangka berpikir yang luas.”
Kalimat ini adalah inti dari performa adaptif Muhammadiyah di masa depan. AI itu teknologi, bisa dipelajari. Tapi “kerangka berpikir yang luas” adalah pola pikir, sebuah budaya. Apa artinya?
- Tidak Gampang Kaget: Artinya, kita tidak boleh kaget atau panik dengan perubahan apapun. AI hari ini mungkin canggih, besok mungkin ada teknologi lain lagi. Kerangka berpikir luas membuat kita siap untuk terus belajar dan beradaptasi.
- Melihat Lebih Jauh: Ini tentang visi. Kita tidak hanya melihat apa yang di depan mata, tapi juga potensi jangka panjang dan dampak berantai dari setiap inovasi. Misalnya, bagaimana AI bisa menciptakan pekerjaan baru, tapi juga menyingkirkan yang lama? Bagaimana kita mempersiapkan umat menghadapi perubahan itu?
- Etika dan Kemanusiaan di Atas Segala: Sebuah kerangka berpikir yang luas bagi Muhammadiyah pasti berlandaskan pada nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Ini berarti, seberapa canggih pun AI, ia tidak boleh mengikis martabat manusia, menciptakan ketidakadilan, atau bertentangan dengan prinsip moral. Muhammadiyah bisa menjadi pelopor dalam merumuskan etika penggunaan AI dari perspektif Islam.
- Kolaborasi Tanpa Batas: Kerangka berpikir yang luas juga mendorong kolaborasi. Muhammadiyah tidak bisa sendiri. Perlu sinergi dengan pemerintah, industri teknologi, akademisi, dan bahkan komunitas global untuk bersama-sama mengembangkan AI yang bermanfaat dan bertanggung jawab.
Menatap Horizon Baru
Pernyataan Haedar Nashir ini adalah undangan bagi seluruh warga Muhammadiyah, dan bahkan kita semua, untuk melihat masa depan dengan optimisme namun juga kesiapan. Muhammadiyah, dengan warisan tajdidnya, kini sedang mempersiapkan diri untuk menatap horizon baru, di mana teknologi canggih seperti AI akan menjadi sahabat dalam perjuangan dakwah dan pembangunannya.
Ini bukan sekadar adaptasi, melainkan sebuah lompatan. Sebuah lompatan yang menjadikan Muhammadiyah bukan hanya sebagai pengamat, melainkan sebagai pemain kunci yang ikut membentuk masa depan yang lebih baik, berbekal kerangka berpikir yang luas dan menjadikan setiap alat, termasuk AI, sebagai “wasilah” untuk kemaslahatan bersama.






![[mv] Muhammadiyah Memeluk AI: Wasilah Baru Dakwah dan Masa Depan Adaptif](https://virtumu.com/wp-content/uploads/2025/07/Sehatmu-75x75.jpg)