Imigrasi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pada dasarnya sangat cepat berubah dari satu bidang ke bidang lainnya. Faisal Hasan Basri, S.IP., Sekretaris Jenderal Sahabat UMKM dan Pemerhati Sosial mengatakan hal tersebut tidak bisa dibetulkan juga bagi pelaku UMKM, karena akan menjadi bahaya yang menyebabkan ketidakfokusan dan tidak konsisten berwirausaha. Hal ini disampaikannya dalam Seminar Nasional yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta (FEB UMJ) di Aula FEB, Sabtu (26/11).
Menurut Faisal eloknya pelaku UMKM harus fokus ke satu bidang dengan memilih sesuai passionnya. Lebih lanjut, ia mengutarakan bahwa sebagai mahasiswa dapat mendampingi dan mendorong pelaku UMKM untuk konsisten di bidang usaha yang dijalani, dengan edukasi tentang digital payment yang tersedia agar lebih mudah dalam bertransaksi antara penjual dan pembeli. “Kalau bisa, kalian (mahasiswa) turut menjadi pelaku UMKM juga, agar daya saing UMKM di Indonesia yang cukup besar ini, tidak menurun,” tambah Faisal.
Agenda yang bertajuk “Digital Payment For The Relization of Modern UMKM”, dimoderatori Dosen Manajemen FEB UMJ Darto, MM. Selain itu, dihadiri juga oleh Dekan FEB UMJ Dr. Luqman Hakim, M.Si. serta jajarannya, Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Hubungan Antar Lembaga Ir. Luhur Pradjarto, MM., Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan Drs. H. Warman Syanudin, MM., dan Dosen Manajemen FEB UMJ Sampor Ali, MM.
Luqman Hakim menyatakan bahwa ia mendukung penuh kegiatan HIMMA FEB UMJ, karena dapat memunculkan gairah wirausaha kepada mahasiswa. “Nanti, kalau bisa mahasiswa FEB UMJ tidak boleh jadi karyawan. Kita ikhtiar menjadi wirausaha, karena jadi pengusaha itu menyelamatkan berbagai aspek kehidupan,” tuturnya.
Luqman juga mengatakan bahwa prospek Indonesia negara maju 2024 dihadapi beberapa tantangan, yaitu produksi sumber daya alam, ketahanan pangan, digitalisasi, ekonomi kreatif, dan ekonomi syariah. Berangkat dari tantangan ini, ia menegaskan mahasiswa harus merubah pola pikirnya lebih baik untuk kemajuan bangsa di masa depan.
Sampor Ali menyampaikan materi mengenai UMKM Indonesia di era digital, pasar transaksi digital, hingga total transaksi digital. Selain itu, visi sistem pembayaran 2025, masalah dasar UMKM dan solusinya, serta roadmap pengembangan UMKM tak luput dari bahasannya. “Ada lima masalah dasar UMKM yaitu akses teknologi, akses pasar, akses legal, akses modal, dan akses sumber daya. Namun, didapati jalan keluarnya ialah multistakeholders entrepreneurship initaitives, dengan adanya fasilitasi akses, peningkatan kapasitas, serta pendampingan berkelanjutan,” ucap Ali.
Warman Syanudin mengungkapkan bahwa Dinas Koperasi dan UKM Tangerang Selatan menyambut baik agenda HIMMA FEB UMJ, karena selaras dengan UMKM di Tangerang Selatan yang terus dikembangkan. “Pemerintah Daerah mengembangkan koperasi dan UMKM agar Visi dan Misi Tangerang Selatan tahun 2026 terwujud, yaitu unggul, efektif, dan efisien meningkatkan ekonomi berbasis dengan ilmu ekonomi kreatif,” ujar Warman.
Selaras dengan pemateri lain, namun Luhur Pradjarto menjelaskan lebih komprehensif mengenai ekosistem ekonomi digital di Indonesia, posisi tranformasi digital UMKM dan percepatan target dengan tim satgas, serta produk UMKM yang paling banyak terjual. Menurutnya, tantangan digitalisasi UMKM yaitu literasi digital, kapasitas produksi kecil, pola pikir kewirausahaan, kualitas produk rendah, akses pasar, dan infrastruktur.
Foto bersama antara narasumber dan sivitas akademika FEB UMJ, Sabtu (26/11).
Seminar Nasional ini merupakan salah satu rangkaian Management Week 2022. Kegiatan digelar bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa mengenai ekonomi kreatif serta ekonomi digital dengan perkembangan financial technology di Indonesia. (QF/KSU)
Artikel Imigrasi Pelaku UMKM di Berbagai Bidang Jadi Penyebab Tidak Konsisten Berwirausaha pertama kali tampil pada Universitas Muhammadiyah Jakarta.





