Antrian di Muktamar
SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Namanya Pak Basyir. Ia adalah salah seorang peserta Muktamar dari NTT. Tak tahu apa yang memaksaku untuk menghampirinya. Terjadi secara spontan. Terjadi begitu saja. Alami. Aku menghampiri beliau dan kemudian duduk bersebelahan di tangga lantai pertama Gedung Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ia kelihatan lelah, matanya merah seperti kurang tidur. Aku mencoba menyapa langsung dengan sebuah pertanyaan, Sedang apa bapak? Ia langsung menjawab, singkat, jelas. “Sedang menunggu antrian untuk penginapan,” ucapnya. Aku pun memperkenalkan diri.
Ternyata ia sedang mengantri bersama rombongan lain peserta Muktamar untuk mendapatkan penginapan. Menunggu antrian sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 16.00 WIB sampai saat kami mengobrol tentang antusiasnya datang ke Muktamar Muhammadiyah yang menurutnya sangat menggembirakan.
Selain antusiasnya terhadap momen Muktamar yang berlangsung lima tahunan tersebut, ia mengeluhkan kurangnya pelayanan panitia terkait dengan antrian untuk pembagian penginapan bagi para peserta. Ia mengeluhkan lamanya waktu antrian yang membuat para peserta harus menunggu tanpa kejelasan.
“Kalau seperti ini apa bedanya dengan saat kita berada di terminal atau stasiun,” ujarnya kepada Suara Muhammadiyah.
Ia mengatakan hal itu tentu bukan tanpa alasan seperti saat aku menghampirinya. Pasalnya ia telah menunggu tujuh jam hingga saat kami sedang melangsungkan obrolan.
Menurutnya, hal yang membuat para peserta menunggu sampai berjam-jam tak lain adalah loket yang hanya tersedia satu dan harus melayani semua peserta yang hadir dari berbagai macam daerah.
Saat duduk dengan memangku lelahnya menunggu ia berkata yang entah ditujukan kepada siapa. “Modern itu jika ada pekerjaan yang biasa diselesaikan dalam waktu 10 jam, kita dapat menyelesaikannya dalam 1 jam. Itulah modern,” ucapnya dengan nada cukup berat.
Aku tahu apa yang ia maksud. Secara tak langsung ia ingin menegaskan suatu hal. Janganlah membuat orang menunggu lama. Kalaupun tak bisa, paling tidak memberikan pelayanan yang paling efisien. Modern itu urusan waktu. Modern adalah mengefisienkan waktu. Maksimalkannya. Tidak membuangnya dengan percuma.
Di sela-sela obrolan yang cukup serius namun dibalut dengan penuh kewajaran jiwa, untuk mengurangi lelah yang ia pikul, beliau mengajakku untuk menikmati kopi yang telah disiapkan tak jauh dari tempat kami duduk. Tak lupa juga mengambil cemilan sebagai teman kopi kami yang sempurna.
Setelah satu seruputan, aku meneruskan pertanyaanku karena masih penasaran. Terus bagaimana baiknya? Ia pun menatapku, tak beberapa lama ia berkata “Paling tidak jangan hanya ada satu loket saja. Kalau ada 33 provinsi, paling tidak juga ada 33 loket untuk setiap provinsi. Sehingga antrian dan waktu tunggu bisa diantisipasi.”
Sedikit banyak aku paham bagaimana perasaannya. Aku yakin Pak Basyir tak sendirian. Tentu masih banyak yang mengalami hal serupa seperti yang beliau alami.
Ia melanjutkan bahwa kedatangannya ke Surakarta tidak semata hanya untuk urusan Muktamar. Tapi juga ingin menjenguk anaknya yang sedang ada di pesantren. Waktu tujuh jam tentu akan sangat efektif jika bisa ia gunakan untuk menemui anaknya.
Tambahnya dengan memberikan opsi lain, jika tidak bisa menyediakan 33 loket, panitia bisa mengantisipasi waktu tunggu para peserta dengan menunjuk perwakilan dari setiap rombongan untuk mengurus seluruh administrasi dan persyaratan. Dan anggota rombongan yang tidak berkepentingan bisa langsung diantarkan ke penginapan masing-masing yang telah disiapkan.
Tak terasa sudah setengah jam kami mengobrol. Di luar urusan menunggu antrian penginapannya, Basyir memuji pelayanan panitia kepada para peserta Muktamar yang hadir ke Solo. “Di sini banyak makanan, saya sangat senang. Sambil menggu kita bisa ngopi dan menikmati cemilan yang telah disediakan,” ujarnya. Setelah itu waktu soalah memaksa kami untuk berpisah, namun masih dalam urusan yang berangsur reda, karena ini Muktamar. Bagaimanapun, kita harus berbahagia. (diko)
The post Antrian di Muktamar appeared first on Suara Muhammadiyah.




