Kartu UNO dan operasi perkalian menjadi cara unik siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 18 Surabaya belajar menyunting teks. Melalui permainan interaktif pada Rabu (4/11/2026), siswa berlatih menemukan kesalahan penulisan sekaligus mengasah ketelitian dan kerja sama.
Pembelajaran Bahasa Indonesia yang dikemas dengan konsep fun learning ini mengajak siswa terlibat aktif dalam proses belajar. Mereka tidak hanya mempelajari kaidah kebahasaan melalui buku dan latihan soal, tetapi juga menerapkannya secara langsung dalam permainan.
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok mengirimkan perwakilan untuk maju ke depan kelas dan memilih teks yang akan disunting. Pemilihan teks dilakukan melalui kombinasi permainan kartu UNO dan operasi perkalian.
Sebanyak sembilan amplop berisi soal penyuntingan teks telah disiapkan secara acak. Melalui tantangan perkalian dan kartu UNO, siswa menentukan amplop yang akan dipilih. Setiap amplop berisi teks dengan tantangan penyuntingan yang berbeda.
Setelah memperoleh teks, masing-masing kelompok mulai bekerja sama menemukan kesalahan penulisan. Mereka memeriksa penggunaan huruf kapital, tanda baca, kata baku, hingga ketepatan susunan kalimat.
Hasil temuan kemudian didiskusikan bersama. Siswa saling bertukar pendapat sebelum memperbaiki teks agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Proses ini mendorong mereka untuk lebih teliti sekaligus berani menyampaikan alasan atas setiap perbaikan yang dilakukan.
Suasana kelas pun terasa lebih hidup. Perpaduan permainan dan materi pelajaran membuat siswa terlibat dalam setiap tahapan pembelajaran, mulai dari memilih amplop hingga menyunting teks bersama kelompoknya.
Salah satu siswa, Akhtarsyah Karuma Setiarsa, mengaku menikmati pembelajaran tersebut. Menurutnya, permainan kartu UNO dan perkalian membuat siswa penasaran dengan tantangan yang akan mereka dapatkan.
“Seru sekali! Apalagi saat memilih amplop menggunakan kartu UNO dan perkalian. Kami jadi penasaran dengan soal yang akan didapatkan. Selain itu, kami juga belajar menemukan kesalahan penulisan yang sebelumnya mungkin tidak kami sadari,” ungkap Akhtarsyah.
Pengalaman serupa disampaikan Asma Nabila Althaf. Ia merasa pembelajaran berkelompok membuat materi lebih mudah dipahami karena siswa dapat saling membantu dan mengoreksi.
“Belajarnya jadi tidak membosankan. Kami bisa bekerja sama dengan teman-teman, saling mengoreksi, dan belajar dari jawaban kelompok lain. Ternyata menyunting teks membutuhkan ketelitian,” tutur Asma.
Melalui metode fun learning, siswa tidak hanya memahami teori kebahasaan, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam situasi nyata. Aktivitas tersebut sekaligus mendorong kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
Pembelajaran Bahasa Indonesia pun menjadi pengalaman yang lebih bermakna. Dengan permainan edukatif, siswa dapat mengembangkan keterampilan literasi sambil belajar secara aktif, kreatif, dan menyenangkan. (*)
Artikel Siswa SD Muhammadiyah 18 Surabaya Belajar Menyunting Teks dengan Kartu UNO pertama kali tampil pada PWMU.CO.



