Belakangan ini kita sering mendengar slogan yang viral di media sosial dan dunia kerja: “Tidak penting ijazah, yang penting kompetensi.”
Kalimat ini terdengar heroik. Seolah-olah membela orang-orang terampil yang tak punya gelar tinggi. Namun jika ditelan mentah-mentah, slogan ini bisa menyesatkan dan melahirkan budaya anti-intelektualisme baru.
Benarkah ijazah tidak penting sama sekali?
Iazah Itu Bukan Sekadar Kertas
Kita perlu jujur. Memang ada orang berijazah tinggi tapi tidak kompeten. Ada yang bergelar mentereng tapi minim karya.
Tapi menyimpulkan ijazah tidak penting adalah logika yang keliru.
Dalam sistem pendidikan, ijazah bukan sekadar kertas. Ia adalah dokumen resmi yang menjadi bukti bahwa seseorang telah menempuh proses belajar, diuji, dan diakui oleh lembaga yang berwenang. Ijazah menunjukkan jenjang pendidikan, bidang ilmu, dan standar capaian pembelajaran.
Kritik terhadap peminjaman ijazah sebagai satu-satunya ukuran itu sah. Tapi kritik terhadap pendidikan formal itu sendiri adalah kekeliruan besar.
Bedakan Empat Hal Ini
Agar tidak terjebak dikotomi yang salah, kita harus membedakan empat konsep kunci:
1. Ijazah: Pengakuan atas proses pendidikan.
2. Kompetensi: Kemampuan yang terbukti. Bukan sekadar merasa bisa, tapi mampu menunjukkan penguasaan ilmu, keterampilan, analisis masalah, dan tanggung jawab kerja.
3. Pengalaman: Guru terbaik, tapi bisa menyesatkan jika tanpa evaluasi. Pengalaman bertahun-tahun tanpa pembaruan ilmu hanya akan mengulang kesalahan yang sama.
4. Integritas: Inilah yang sering dilupakan. Orang bisa pintar dan terampil, tapi tidak jujur dan tidak amanah. Tanpa integritas, kompetensi justru berbahaya.
Profesionalisme sejati adalah gabungan dari keempatnya: berijazah, kompeten, berpengalaman, dan berintegritas.
Indonesia Tidak Mempertentangkan Ijazah dan Kompetensi
Justru, negara kita sudah sangat maju dalam hal ini. Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 61 dengan tegas membedakan:
– Ijazah diberikan atas penyelesaian jenjang pendidikan.
– Sertifikat Kompetensi diberikan setelah lulus uji kompetensi untuk pekerjaan tertentu.
Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Diperkuat lagi dengan Permendikbudristek No. 50 Tahun 2024 tentang Ijazah dan Sertifikat Kompetensi di Perguruan Tinggi.
Artinya, narasi “ijazah tidak penting” bertentangan dengan sistem nasional kita, apalagi di bidang-bidang yang menyangkut keselamatan publik seperti kedokteran, hukum, teknik sipil, dan pendidikan.
Seorang dokter tidak cukup hanya merasa kompeten. Ia wajib punya kualifikasi pendidikan dan izin praktik. Seorang guru tidak cukup hanya pandai bicara, ia wajib punya kualifikasi pedagogi.
Perspektif Islam: Ilmu Harus Dibuktikan
Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu dan buktinya.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah SAW bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menegaskan pentingnya keahlian yang dapat dipertanggungjawabkan. Keahlian itu dalam tradisi Islam diperoleh melalui proses belajar yang bersanad, berguru, dan diakui, yang dalam konteks modern salah satunya diwujudkan dalam ijazah.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan mengajarkan keseimbangan: berilmu, beramal, dan berakhlak. Berilmu tanpa amal adalah sombong, beramal tanpa ilmu adalah sesat.
Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?
Jangan ajari generasi muda untuk meremehkan pendidikan formal. Ajari mereka untuk tidak cepat puas hanya dengan ijazah.
Paradigma yang benar adalah:
Kejar ijazah dengan sungguh-sungguh, buktikan dengan kompetensi, asah dengan pengalaman, dan jaga dengan integritas.
Dunia kerja global memang sedang bergerak ke arah skills-first (mengutamakan keterampilan) seperti dilaporkan OECD 2026. Tapi mereka tidak menghapus ijazah. Mereka menambahkan sertifikat kompetensi sebagai pelengkap.
Bagi anak-anak muda Muhammadiyah, pesannya jelas: Lanjutkan kuliah, raih ijazah terbaik, sertifikasi kompetensi sebanyak mungkin, perbanyak pengalaman organisasi dan wirausaha, dan yang terpenting, jaga kejujuran. (*)
Artikel Benarkah Ijazah Tak Penting? Ini Pandangan Islam Soal Ijazah dan Kompetensi pertama kali tampil pada PWMU.CO.



