Berdakwah di tengah masyarakat yang sudah terbiasa mengikuti kajian tentu memiliki tantangan tersendiri.
Namun, ada pekerjaan yang tidak kalah penting: menjangkau mereka yang belum tersentuh dakwah, mendatangi komunitas yang jauh dari lingkungan masjid, dan hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Pesan tersebut menjadi sorotan dalam Kajian Ahad Pagi Matahari Terbit Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng Kota Surabaya.
Kajian tersebut berlangsung pada Ahad (1/11/2026), di Masjid Jenderal Sudirman, Jalan Dharmawangsa Nomor 2, Surabaya.
Menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ust Muchammad Arifin SAg MAg, kajian ini mengangkat tema “Dakwah Dekat, Komunitas Kuat, Umat Bermartabat”.
Arifin mengingatkan bahwa dakwah tidak boleh hanya berputar di lingkungan yang sudah ramai dengan aktivitas keagamaan. Di luar sana, masih banyak masyarakat yang membutuhkan kehadiran dai, pendampingan, dan pemberdayaan.
Menurutnya, tantangan dakwah semakin kompleks. Masyarakat marginal, komunitas pedalaman, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan perhatian. Begitu pula berbagai komunitas perkotaan yang memiliki latar belakang, hobi, dan kebutuhan berbeda.
Dakwah tidak boleh hanya menunggu orang datang. Dakwah harus memiliki keberanian untuk mendatangi.
Keluar dari Zona Nyaman Dakwah
Ketua LDK PP Muhammadiyah tersebut menegaskan bahwa pendekatan komunitas sebenarnya telah dicontohkan sejak awal perkembangan Islam.
Rasulullah SAW membangun pembinaan umat melalui kelompok kecil di rumah Arqam bin Abi Arqam. Dari ruang sederhana itu tumbuh generasi yang menjadi fondasi perubahan peradaban.
Semangat tersebut juga tercermin dalam perjuangan KH. Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga diwujudkan dalam pendidikan, pelayanan sosial, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Karena itu, dakwah komunitas bukan sekadar memperluas tempat berceramah. Lebih dari itu, pendekatan ini mengubah cara pandang dai terhadap masyarakat. Mereka bukan hanya objek yang menerima pesan, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dipahami dan diberdayakan.
Melalui LDK PP Muhammadiyah, ikhtiar tersebut dilakukan dengan mengirimkan dai ke daerah tertinggal dan terpencil serta mengembangkan dakwah berbasis komunitas hobi.
Para dai dituntut tidak sekadar hadir untuk menyampaikan materi keagamaan. Mereka harus membangun kedekatan, memahami kebutuhan masyarakat, dan ikut terlibat dalam proses perubahan.
Dakwah Ikut Menyelesaikan Persoalan
Salah satu tantangan dakwah adalah bagaimana pesan agama dapat menjawab persoalan nyata. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang kebaikan, tetapi juga membutuhkan kehadiran orang-orang yang mau membantu mewujudkannya.
Arifin juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Ruang digital kini menjadi medan dakwah yang strategis.
Pesan Islam berkemajuan perlu hadir melalui komunikasi digital sekaligus tetap dirawat melalui perjumpaan langsung.
Dengan demikian, dakwah tidak harus memilih antara mimbar dan komunitas, ataupun antara ruang nyata dan dunia maya. Keduanya dapat saling menguatkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Syukur yang Tidak Berhenti pada Diri Sendiri
Dalam kajian tersebut, Arifin turut mengingatkan jamaah tentang nikmat yang dititipkan Allah SWT. Nikmat tidak seharusnya hanya dinikmati sendiri, tetapi juga disyukuri melalui tindakan nyata, salah satunya dengan sedekah dan infak.
Ia mengajak jamaah menikmati kehidupan secukupnya. Perumpamaan secangkir kopi menggambarkan bahwa kenikmatan memiliki takaran.
Kopi terasa nikmat dalam secangkir, bukan harus diminum segalon. Sesuatu yang berlebihan justru dapat mendatangkan mudarat.
Pesan ini memiliki kaitan erat dengan dakwah komunitas. Ketika seseorang memiliki kelebihan harta, ilmu, tenaga, maupun kemampuan, semua itu dapat menjadi jalan untuk membantu orang lain.
Sedekah dan infak bukan hanya bentuk ibadah personal, tetapi juga wujud kepedulian sosial. Rasa syukur menjadi lebih bermakna ketika menghadirkan manfaat bagi sesama.
Mengukur Dakwah dari Manfaatnya
Kajian Matahari Terbit ini mengajak umat melakukan refleksi: apakah dakwah sudah menjangkau mereka yang membutuhkan, atau justru masih berputar di lingkungan yang sama?
Pertanyaan tersebut penting bagi gerakan dakwah, termasuk Muhammadiyah. Organisasi tidak cukup hanya memiliki kegiatan yang rutin dan jamaah yang terus bertambah. Dakwah juga perlu diukur dari seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.
Masjid tetap menjadi pusat pembinaan, tetapi semangat dakwah harus meluas ke berbagai ruang kehidupan. Dari lingkungan keluarga, komunitas hobi, masyarakat perkotaan, hingga wilayah terpencil.
Dakwah yang besar bukan hanya yang ramai dihadiri, tetapi yang mampu menjangkau mereka yang selama ini belum terjangkau.
Melalui pendekatan yang dekat, komunitas dapat tumbuh menjadi kekuatan sosial. Dari kekuatan itulah kepedulian dibangun, pemberdayaan dijalankan, dan martabat umat ditingkatkan.
Inilah pesan penting dari Kajian Matahari Terbit PCM Gubeng. “Jangan hanya membuat dakwah semakin ramai di tempat yang sama. Buatlah dakwah semakin dekat dengan mereka yang membutuhkan” tegasnya.
Sebab, lanjutnya, dakwah bukan tentang seberapa jauh suara kita terdengar, melainkan seberapa dekat kehadiran kita dirasakan.
Artikel Jangan Sampai Dakwah Hanya Berputar di Lingkaran Sendiri pertama kali tampil pada PWMU.CO.



