Konsolidasi PCIA, ‘Aisyiyah Perkuat Strategi Perluasan Dakwah di Tingkat Global
INFOMU.CO | Yogyakarta – Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menyelenggarakan Konsolidasi Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) pada Sabtu (31/10/2026). Mengusung tema “Konsolidasi Gerakan untuk Perluasan Dakwah Internasional ‘Aisyiyah: Penguatan Ideologi, Tata Kelola Organisasi, dan Strategi Dakwah Global”, kegiatan menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan ‘Aisyiyah di tingkat internasional.
Kegiatan tersebut diikuti oleh utusan dari 9 PCIA dan 2 Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah (PRIA) serta anggota perempuan dari 11 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang berasal dari 20 negara yakni PCIA Hongkong, PCIA Mesir, PCIA Jepang, PCIA Australia, PCIA Malaysia, PCIA Taiwan, PCIA Pakistan, PCIA Turki, PRIA NSW (PCIA Australia), PRIA Kampung Pandan (PCIA Malaysia), PCIM Iran, PCIM Jerman, PCIM Arab Saudi, PCIM Hungaria, PCIM USA, PCIM Spanyol, PCIM Sudan, PCIM Rusia, PCIM India, PCIM Thailand, dan PCIM Libya.
Dalam sambutannya, Salmah Orbayinah menyampaikan bahwa dinamika persoalan global yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi dan sosial, kemiskinan, konflik kemanusiaan, krisis lingkungan, hingga diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, menuntut keterlibatan perempuan sebagai agen perubahan.
Menurutnya, ‘Aisyiyah di mana pun berada perlu mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan tersebut, baik di Indonesia maupun di negara tempat para kader berada. Dakwah tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol dan penyampaian verbal, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
“PCIA tentunya memiliki posisi yang sangat strategis karena bukan sekedar organisasi berkumpulnya warga ‘Aisyiyah di luar negeri tentunya, tetapi, merupakan representasi nilai pemikiran dan juga praksis gerakan ‘Aisyiyah di tengah masyarakat internasional sehingga setiap kader PCIA sesungguhnya membawa identitas dan misi gerakan dari ‘Aisyiyah itu sendiri,” ungkap Salmah.
Ia menjelaskan, PCIA memiliki tiga fungsi strategis. Pertama, sebagai duta nilai Islam Berkemajuan dan perempuan berkemajuan yang memperkenalkan wajah Islam yang damai, moderat, inklusif, menjunjung keadilan, serta menghormati martabat manusia. Kedua, sebagai penggerak dakwah dan pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga sakinah, serta kepedulian terhadap kelompok rentan. Ketiga, sebagai jembatan kolaborasi internasional dengan membangun jejaring bersama organisasi perempuan, lembaga pendidikan, komunitas Muslim, organisasi kemanusiaan, dan berbagai institusi di negara tempat PCIA berada.
Lebih lanjut, Salmah menekankan empat hal yang perlu menjadi perhatian dalam konsolidasi gerakan PCIA. Pertama, penguatan ideologi dan visi gerakan agar seluruh kader memiliki pemahaman dan komitmen yang sama terhadap misi ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan. Kedua, penguatan tata kelola organisasi dan kepemimpinan, termasuk kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan. “Organisasi harus menyiapkan kader-kader yang tangguh, harus menyiapkan regenerasi kepemimpinan serta juga membangun koordinasi antar PCIA di berbagai negara karena bagaimanapun juga kaderisasi itu harus juga diperhatikan dan memperhatikan potensi perempuan-perempuan muda diaspora Indonesia dan juga komunitas muslim setempat agar gerakan ‘Aisyiyah tentunya semakin luas dan berkelanjutan.”
Ketiga, pengembangan program dakwah yang kontekstual. Menurut Salmah, setiap PCIA memiliki karakteristik, kondisi sosial, budaya, dan regulasi negara yang berbeda. Karena itu, program dakwah perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat tanpa kehilangan identitas sebagai kader ‘Aisyiyah.
Keempat, penguatan jejaring dan kolaborasi global. Menurut Salmah, dakwah ‘Aisyiyah perlu menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan global melalui kemitraan dengan organisasi perempuan, lembaga perdamaian, perguruan tinggi, dan berbagai institusi internasional
Dalam memperluas dakwah internasional, ia juga mendorong penguatan literasi digital dan komunikasi internasional agar gagasan serta praktik baik ‘Aisyiyah dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat dunia. Pengembangan dakwah berbasis komunitas dan kemanusiaan, termasuk kepedulian terhadap penyandang disabilitas, kelompok rentan, perempuan migran, keluarga, anak, dan lansia, juga perlu menjadi perhatian sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Salmah berharap PCIA tidak hanya menjadi organisasi yang aktif di negara tempat keberadaannya, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan, program, dan praktik baik yang berkontribusi bagi pengembangan gerakan ‘Aisyiyah, baik secara nasional maupun internasional.
Ia menegaskan bahwa perluasan dakwah internasional bukan semata-mata tentang memperbanyak jumlah PCIA dan Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah, melainkan memperluas pengaruh nilai, meningkatkan kualitas kontribusi, dan memperbesar kebermanfaatan gerakan ‘Aisyiyah di tingkat dunia.
Kegiatan konsolidasi ini juga menjadi bagian dari rangkaian Pra Tanwir II ‘Aisyiyah yang akan berlangsung pada 4–6 Desember 2026 di Yogyakarta dengan tema “Kolaborasi Strategis Dakwah untuk Pemberdayaan Masyarakat”. Melalui konsolidasi ini, diharapkan seluruh PCIA semakin solid dalam menyatukan visi, memperkuat ideologi, menyelaraskan langkah, serta membangun kolaborasi strategis untuk memperluas dakwah ‘Aisyiyah di kancah internasional. Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah; Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah; Ketua PCIM Amerika Serikat, Shamsi Ali; serta Ketua Majelis Pembinaan Kader (MPK) PP ‘Aisyiyah, Mami Hajaroh. (Suri)










