Infak Bukan Sekadar Memberi, tetapi Juga Merawat Bumi
( Tulisan Pertama dari Dua Tulisan Terkait Lingkungan)

Oleh: Jufri
Dalam beberapa kali Jumat terakhir ini, senior saya, Ogek Hadriman Khair Pasaribu, menyampaikan program LAZISMU Kota Medan, salah satunya adalah Infak Peduli Lingkungan. Saya melihat program ini sangat baik, bukan hanya karena mengajak masyarakat untuk berinfak, tetapi juga karena menghubungkan semangat filantropi Islam dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Menurut saya, gagasan ini menarik untuk kita renungkan. Selama ini, ketika mendengar kata infak atau sedekah, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada pembangunan masjid, bantuan kepada kaum dhuafa, santunan anak yatim, atau bantuan kemanusiaan ketika terjadi bencana. Semua itu tentu penting dan merupakan bagian dari tradisi filantropi Islam yang harus terus dipelihara.
Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian kita. Lingkungan yang rusak juga dapat melahirkan penderitaan bagi manusia. Sampah yang tidak terkelola dapat mengganggu kesehatan, banjir dapat merusak rumah dan harta benda, sementara kerusakan alam dapat mengancam kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya juga merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan manusia.
Infak bukan sekadar memberi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang berkelanjutan.
Bayangkan jika dana infak yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan penghijauan, penanaman pohon, pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan di sekitarnya. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu orang, tetapi dapat menjangkau banyak orang, bahkan generasi yang belum lahir hari ini.
Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberikan keteduhan beberapa tahun mendatang. Kebiasaan memilah sampah yang diperkenalkan sekarang mungkin baru memperlihatkan hasilnya setelah berlangsung secara konsisten. Begitu pula pendidikan lingkungan kepada anak-anak, yang manfaatnya mungkin baru terasa ketika mereka tumbuh dewasa.
Artinya, program ini bukan hanya berbicara tentang uang yang dikumpulkan, melainkan juga tentang kesadaran, kebiasaan, dan masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Muhammadiyah dan Filantropi yang Berdampak
Muhammadiyah sejak lama dikenal sebagai gerakan Islam yang tidak berhenti pada dakwah lisan. Dakwah harus hadir dalam tindakan nyata melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana, dan berbagai kegiatan sosial kemanusiaan.
LAZISMU menjadi salah satu instrumen penting dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan secara terarah dan memberikan manfaat yang luas. Sementara itu, Majelis Lingkungan Hidup memiliki ruang pengabdian untuk membangun kesadaran ekologis dan mendorong gerakan pelestarian lingkungan.
Ketika keduanya berkolaborasi, terbuka peluang untuk melahirkan gerakan yang menarik: dana filantropi mendukung kepedulian ekologis, sementara gerakan lingkungan memperoleh dukungan sosial dan sumber daya yang lebih terorganisasi.
Inilah bentuk dakwah yang kontekstual. Ajaran agama tidak hanya disampaikan melalui ceramah di mimbar, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan merawat bumi, mengurangi sampah, menanam pohon, dan membangun kebiasaan hidup bersih.
Kita tentu tidak ingin agama hanya terdengar indah dalam kata-kata, tetapi kurang terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah salah satu ukuran kebaikan adalah sejauh mana kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang lain?
Menjaga lingkungan bukanlah urusan tambahan di luar dakwah. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab moral untuk memelihara kehidupan dan mencegah kerusakan.
Tentu, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan infak. Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang baik, fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, perlindungan lingkungan, serta partisipasi masyarakat. Infak Peduli Lingkungan dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memperkuat seluruh upaya tersebut.
Bagi saya, justru di situlah kekuatan gagasan ini. Ia mempertemukan kepedulian keagamaan dengan tanggung jawab sosial, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah, dan warga.
Tidak semua orang mampu menyumbang dalam jumlah besar. Namun, setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya. Ada yang berinfak, ada yang menjadi relawan, ada yang menanam pohon, dan ada pula yang memulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan.
Jangan sampai kita rajin mengisi kotak infak, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Keduanya harus berjalan beriringan. Infak menggerakkan sumber daya, sedangkan kesadaran menggerakkan perilaku.
Pada akhirnya, bumi bukan sekadar tempat kita mencari rezeki dan menikmati kehidupan. Bumi adalah amanah yang harus kita jaga bersama.
Mari berinfak, mari bergerak, dan mari merawat bumi. Sebab, sedekah yang baik bukan hanya yang meringankan beban hari ini, tetapi juga yang ikut menjaga kehidupan untuk hari esok.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.
*** Penulis, Jufri Pengamat Sosial & Politik dan Penulis Tamu Infomu.co





