UMSU Terus Melejit: Bukan Hanya tentang Rektor, tetapi Perjalanan Panjang Sebuah Perjuangan
Oleh: Jufri
Setiap kali Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mencatatkan prestasi, selalu ada rasa bangga yang sulit dipisahkan dari perjalanan panjang kampus ini. Namun, kebanggaan itu sebaiknya tidak berhenti pada angka peringkat, jumlah mahasiswa, kemegahan gedung, atau nama seorang rektor. Di balik semua itu, ada sejarah, perjuangan, pengorbanan, dan kerja kolektif banyak orang yang menjadi fondasi kemajuan UMSU hingga hari ini.
UMSU tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses panjang, melewati berbagai tantangan, dan dirawat oleh generasi demi generasi yang meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagai seseorang yang telah bersentuhan dengan perjalanan UMSU sejak 1996, saya melihat kemajuan kampus ini bukan sekadar cerita tentang fasilitas yang semakin modern. Lebih dari itu, UMSU adalah ikhtiar kolektif untuk menghadirkan pendidikan berkualitas, membangun sumber daya manusia, dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ketika UMSU terus melejit, yang patut diapresiasi bukan hanya hasil akhirnya, melainkan juga proses panjang yang memungkinkan pencapaian tersebut terjadi.
Kepemimpinan Berganti, Perjuangan Harus Berlanjut
Peralihan kepemimpinan dari Prof. Dr. Agussani, M.AP., kepada Prof. Dr. Akrim, M.Pd., sebagai Rektor UMSU periode 2026–2030 merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat.
Setiap pemimpin memiliki karakter, pendekatan, dan tantangan yang berbeda. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah: komitmen membawa UMSU semakin maju.
Prof. Agussani telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan UMSU selama masa kepemimpinannya. Berbagai capaian yang dirasakan hari ini tentu tidak dapat dilepaskan dari fondasi, kebijakan, dan kerja keras yang dibangun selama periode tersebut.
Kini, amanah kepemimpinan berada di tangan Prof. Akrim. Harapannya, capaian yang sudah ada dapat dipertahankan, dievaluasi, dan dikembangkan menjadi lompatan baru.
Pemimpin baru tidak harus memulai semuanya dari nol. Justru salah satu ukuran kepemimpinan yang baik adalah kemampuan melanjutkan hal-hal baik dari pendahulunya, memperbaiki kekurangan, dan membuka ruang bagi inovasi.
Dalam organisasi sebesar UMSU, keberlanjutan lebih penting daripada sekadar pergantian figur. Rektor boleh berganti, tetapi visi besar institusi harus tetap berjalan. Jabatan memiliki masa, sedangkan perjuangan pendidikan memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang.
Rektorat dan Seni Kepemimpinan Kolektif
Kepemimpinan universitas tentu tidak bertumpu pada seorang rektor semata. Ada jajaran wakil rektor dengan bidang tugas dan keahlian masing-masing yang memastikan roda institusi bergerak secara terpadu.
Dalam kepemimpinan UMSU periode ini, Prof. Akrim didampingi empat wakil rektor:
1. Dr. Marah Doly Nasution, M.Si., Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Pendidikan, Pengajaran, dan Digitalisasi.
2. Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A., Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Keuangan.
3. Dr. Faisal, S.H., M.Hum., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni.
4. Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian, dan Internasionalisasi.
Pembagian bidang tersebut memperlihatkan bahwa mengelola perguruan tinggi membutuhkan tanggung jawab yang jelas dan saling terhubung. Pendidikan dan pengajaran perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Pengelolaan sumber daya dan keuangan harus mendukung kualitas akademik. Kemahasiswaan perlu melahirkan generasi yang kompeten dan berkarakter, sementara riset, inovasi, pengabdian, dan internasionalisasi harus memperluas kontribusi universitas.
Kepemimpinan kolektif bukan sekadar membagi jabatan, melainkan seni menyatukan berbagai keahlian, karakter, dan gagasan untuk mencapai tujuan bersama.
Tentu saja, keberhasilan sebuah tim tidak cukup diukur dari bagusnya susunan nama. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh unsur mampu bekerja sama, menghindari ego sektoral, saling menguatkan, dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi institusi.
Hal serupa berlaku bagi para dekan dan wakil dekan di setiap fakultas. Merekalah yang berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan akademik, dosen, mahasiswa, dan pengembangan program studi. Kebijakan universitas baru akan terasa manfaatnya apabila diterjemahkan menjadi peningkatan mutu pembelajaran dan pelayanan di tingkat fakultas.
Demikian pula Sekolah Pascasarjana yang memiliki peran strategis dalam memperkuat tradisi akademik, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Sekolah Pascasarjana UMSU dipimpin oleh Prof. Dr. Triono Eddy, S.H., M.Hum., sebagai Direktur, didampingi Assoc. Prof. Dr. Adi Mansar, S.H., M.Hum., sebagai Wakil Direktur.
Pendidikan pascasarjana tidak cukup hanya menghasilkan gelar akademik. Ia harus melahirkan pemikir, peneliti, pemimpin, dan praktisi yang mampu menawarkan solusi atas persoalan nyata. Gelar doktor semestinya bukan sekadar penanda keberhasilan menyelesaikan pendidikan, melainkan amanah intelektual untuk memperluas manfaat ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, rektorat, fakultas, dan Sekolah Pascasarjana merupakan bagian dari satu ekosistem kepemimpinan. Berbeda tugas, tetapi harus bergerak menuju tujuan yang sama: meningkatkan mutu institusi dan memperluas manfaat pendidikan.
Hampir 30 Ribu Mahasiswa, Sebuah Amanah Besar
Jumlah mahasiswa juga menjadi salah satu indikator penting dalam membaca perkembangan UMSU. Angka sekitar 29.617 mahasiswa yang disebutkan dalam informasi mengenai perkembangan kampus menggambarkan besarnya kepercayaan masyarakat. Angka ini tentu perlu dibaca sesuai periode dan data resmi yang digunakan.
Namun, di balik angka tersebut ada tanggung jawab yang tidak kecil. Setiap mahasiswa datang membawa harapan keluarga, cita-cita pribadi, dan keinginan memperbaiki masa depan.
Bagi orang tua, menyekolahkan anak ke perguruan tinggi bukan perkara ringan. Ada biaya, pengorbanan, dan doa yang menyertai perjalanan mereka. Karena itu, kepercayaan masyarakat harus dijawab dengan pendidikan bermutu, dosen yang kompeten, tata kelola profesional, dan lingkungan akademik yang mendukung perkembangan mahasiswa.
Mahasiswa tidak boleh hanya diperlakukan sebagai angka dalam laporan institusi. Mereka adalah manusia yang sedang dipersiapkan menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan tantangan sosial yang semakin kompleks.
Universitas yang baik bukan hanya universitas yang mampu menarik banyak mahasiswa, melainkan juga yang sanggup mendampingi mereka hingga berkembang menjadi lulusan yang berilmu, berintegritas, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Di sinilah kualitas pendidikan menemukan maknanya yang sesungguhnya.
“Melejit”, Semangat Khas UMSU di Era Rektor Prof Akrim.Mpd
Ada satu kata yang menarik untuk menjadi penanda semangat UMSU pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Akrim, M.Pd., yaitu
” Melejit”.
Kata ini bukan sekadar ungkapan penyemangat atau pemanis promosi kampus. Ia dapat menjadi energi untuk membawa UMSU bergerak lebih cepat, melompat lebih tinggi, dan menghasilkan capaian yang semakin bermakna.
Jika Unggul, Cerdas, Terpercaya merupakan nilai yang terus dijaga, maka Melejit dapat menjadi semangat untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam langkah nyata.
UMSU tidak cukup hanya mempertahankan prestasi yang sudah diraih. Kampus ini perlu terus berinovasi, memperkuat sumber daya manusia, meningkatkan kualitas riset, memperluas kolaborasi internasional, dan menghadirkan pendidikan yang semakin relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun, melejit bukan berarti sekadar berlari cepat atau mengejar angka peringkat. Kemajuan yang sesungguhnya harus dibangun di atas fondasi yang kokoh: tata kelola yang baik, integritas akademik, budaya kerja yang sehat, dan keberanian melakukan pembaruan.
Lompatan tinggi akan lebih berarti apabila disertai kemampuan menjaga kualitas dan keberlanjutan.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi Rektor Akrim bersama seluruh jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan keluarga besar Muhammadiyah. Semangat Melejit harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya slogan yang melekat pada figur seorang rektor.
Setiap fakultas perlu menemukan ruang untuk berkembang. Setiap program studi harus berupaya meningkatkan mutu. Dosen perlu didorong menghasilkan karya dan inovasi. Mahasiswa harus diberi ruang untuk berprestasi, berkreasi, dan membangun karakter. Sementara itu, hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus semakin terasa manfaatnya.
Kita berharap “Melejit” benar-benar menjadi semangat khas UMSU pada era Rektor Akrim: tidak cepat berpuas diri, tidak takut menghadapi perubahan, dan tidak berhenti berusaha menjadi lebih baik.
UMSU boleh melejit dalam prestasi, tetapi jangan kehilangan kerendahan hati. UMSU boleh semakin besar, tetapi harus semakin dekat dengan masyarakat. UMSU boleh mengejar reputasi kelas dunia, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Muhammadiyah dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Unggul, Cerdas, Terpercaya ” adalah nilai yang dijaga. Melejit adalah semangat untuk bergerak. Berdampak adalah tujuan yang harus diwujudkan.**
Islam Berkemajuan dan Perguruan Tinggi Berdampak
Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, UMSU memiliki identitas dan tanggung jawab yang melampaui pencapaian akademik semata.
Pendidikan bukan hanya proses memindahkan pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa, melainkan juga ikhtiar membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.
Semangat Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa agama harus menghadirkan kemaslahatan. Ilmu pengetahuan perlu dikembangkan, akal sehat harus dirawat, dan kemajuan harus diarahkan pada kehidupan manusia yang lebih baik.
Karena itu, ukuran keberhasilan UMSU seharusnya tidak berhenti pada peringkat, akreditasi, atau banyaknya program studi. Semua itu penting sebagai indikator mutu, tetapi bukan tujuan akhir.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa besar kontribusi UMSU bagi masyarakat? Seberapa banyak penelitian yang menjawab persoalan nyata? Seberapa jauh pengabdian kampus membantu UMKM, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat pelayanan sosial, dan membuka kesempatan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan?
Perguruan tinggi yang berdampak adalah perguruan tinggi yang ilmunya keluar dari ruang kuliah, penelitiannya menjawab persoalan kehidupan, dan lulusannya membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
Di sinilah nilai “khairunnas anfa’uhum linnas”—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—menemukan relevansinya dalam pengelolaan pendidikan tinggi.
Bagi Muhammadiyah, kemajuan institusi bukan sekadar kebanggaan organisasi. Kemajuan itu harus menjadi jalan untuk memperluas manfaat dan memperkuat pengabdian kepada bangsa.
Mengapresiasi Tanpa Kehilangan Sikap Kritis
Saya selalu berpandangan bahwa mengapresiasi kemajuan sebuah institusi tidak berarti menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih ada. Sebaliknya, rasa memiliki justru seharusnya membuat kita berani memberikan masukan dengan cara yang baik dan bertanggung jawab.
UMSU masih perlu terus memperkuat mutu pembelajaran, meningkatkan produktivitas riset, mengembangkan sumber daya manusia, memperluas kolaborasi internasional, dan memastikan transformasi digital benar-benar mempermudah pelayanan serta meningkatkan kualitas akademik.
Kampus besar juga membutuhkan budaya organisasi yang sehat. Perbedaan pendapat harus ditempatkan sebagai sumber perbaikan, bukan dianggap sebagai ancaman. Kritik yang disampaikan dengan adab perlu didengarkan, sementara setiap kebijakan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Institusi yang besar bukanlah institusi yang tidak pernah memiliki kekurangan. Institusi yang besar adalah institusi yang mampu mengenali kekurangan, memperbaikinya, dan terus belajar.
Kita berharap kepemimpinan Prof. Akrim bersama seluruh jajaran pimpinan UMSU dapat melanjutkan capaian yang sudah ada sekaligus membuka ruang bagi inovasi baru.
Harapan itu bukan beban yang harus dipikul rektor seorang diri, melainkan tanggung jawab bersama. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, pimpinan fakultas, pimpinan pascasarjana, persyarikatan, dan para mitra memiliki kontribusi masing-masing.
Kemajuan akan lebih mudah dicapai apabila seluruh unsur bergerak dalam semangat kolaborasi, saling percaya, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
UMSU Adalah Perjuangan Bersama
Pada akhirnya, UMSU bukan hanya tentang seorang rektor, sejumlah wakil rektor, para dekan, atau pimpinan Sekolah Pascasarjana. UMSU adalah perjalanan panjang perjuangan pendidikan yang melibatkan banyak orang, lintas generasi, dan lintas kepemimpinan.
Setiap pemimpin memiliki masa pengabdian. Setiap generasi menghadapi tantangan. Namun, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa tidak boleh berhenti karena pergantian jabatan.
Ketika UMSU meraih prestasi, kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi. Ketika UMSU menghadapi tantangan, kita perlu ikut memikirkan jalan keluarnya. Dan ketika UMSU memiliki cita-cita yang lebih besar, kita harus mendukungnya melalui kerja nyata, gagasan yang sehat, dan komitmen berkelanjutan.
Kita berharap, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Akrim, M.Pd., UMSU semakin kuat dalam tata kelola, semakin unggul dalam akademik, semakin maju dalam transformasi digital, semakin luas dalam jejaring internasional, dan semakin nyata dampaknya bagi masyarakat.
Sebab, kemajuan sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kecakapan pemimpinnya, tetapi juga oleh kualitas tim, budaya organisasinya, kepercayaan masyarakat, dan kemampuannya menjaga kesinambungan perjuangan.
UMSU: Unggul, Cerdas, Terpercaya. Melejit dalam Prestasi, Berdampak bagi Negeri. Kampus Digital, Menuju Kelas Dunia.
Bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari sebuah perjuangan pendidikan: bukan sekadar membesarkan institusi, melainkan menjadikan kebesarannya sebagai jalan untuk membesarkan manfaat bagi sesama.
Karena rektor akan berganti, kepemimpinan akan beralih, dan zaman akan terus berubah. Namun, perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa harus tetap menyala.
UMSU terus melejit, bukan hanya karena satu orang, melainkan karena perjuangan banyak orang yang tidak boleh berhenti.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni



