WARTAPTM.ID, BANDUNG — Menjadi lulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi dalam sebuah angkatan tentu menjadi capaian tersendiri. Bagi Fransisca Natalia Hedy, pencapaian itu memiliki makna lebih karena ia menjadi bagian dari angkatan perdana Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
Fransisca meraih IPK 3,96 dalam pengambilan sumpah 12 lulusan perdana program tersebut di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Sabtu (3/10/2026). Di balik capaian akademiknya, tersimpan pengalaman belajar di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai mahasiswa beragama Katolik.
“Saya enjoy bisa kuliah di UM Bandung. Tidak ada diskriminasi terkait latar belakang agama,” ujar Fransisca.
Pengalaman itu membuat pendidikan profesi yang dijalaninya tidak hanya menjadi perjalanan untuk memperoleh kompetensi sebagai apoteker, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Salah satu pengalaman yang ia rasakan adalah ketika mengikuti mata kuliah agama. Alih-alih menjadikan perbedaan sebagai jarak, Fransisca memilih melihat nilai-nilai yang dapat mempertemukan satu sama lain.
Baginya, cara pandang tersebut membantu menciptakan suasana belajar yang saling menghargai. Ia juga merasakan dukungan dari dosen dan fasilitas pembelajaran selama menjalani pendidikan profesi.
Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Fransisca hingga menyelesaikan pendidikan sebagai salah satu lulusan terbaik. Pada saat yang sama, ia menjadi saksi awal perjalanan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung yang meluluskan 12 mahasiswa pada angkatan pertamanya.
Seluruh lulusan tersebut dinyatakan lulus ujian kompetensi nasional sebelum mengikuti pengambilan sumpah profesi. Sepuluh di antaranya meraih predikat pujian, sedangkan dua lainnya memperoleh predikat sangat memuaskan dan memuaskan.
Bagi Fransisca, menjadi bagian dari angkatan pertama juga berarti memikul tanggung jawab sebagai pelopor. Setelah mengucapkan sumpah apoteker, ia ingin membawa nilai kejujuran, tanggung jawab, profesionalisme, dan kepedulian terhadap pasien dalam menjalankan profesinya.
Pesan serupa disampaikan Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto kepada para lulusan. Menurutnya, profesi apoteker tidak cukup hanya ditopang oleh penguasaan ilmu kefarmasian, tetapi juga membutuhkan kepedulian terhadap masyarakat.
“Jadilah apoteker yang peduli kepada masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Teruslah memperkuat layanan kesehatan masyarakat,” ujar Herry.
Ia menyebut para lulusan angkatan pertama memiliki peran dalam membangun reputasi profesi apoteker UM Bandung. Karena itu, kemampuan profesional perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berkolaborasi, baik dengan sesama apoteker maupun tenaga kesehatan dari berbagai bidang.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian UM Bandung, Dadang Kahmad, menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi teknis, kemampuan berkomunikasi, kerja sama, dan akhlak.
“Ilmu harus berjalan bersama soft skill dan akhlak. Itu yang akan membuat seorang profesional benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari mengingatkan bahwa sumpah apoteker bukan sekadar prosesi seremonial. Sumpah tersebut menjadi landasan moral dan profesional bagi lulusan dalam menjalankan tanggung jawab kepada pasien dan masyarakat.
“Di mana pun Anda mengabdi, junjung tinggi etika dan profesionalisme. Teruslah belajar karena dunia kefarmasian saat ini terus berkembang,” katanya.
Bagi Fransisca, perjalanan sebagai apoteker kini memasuki tahap baru. Predikat lulusan dengan IPK tertinggi menjadi bagian dari catatan awal, tetapi tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengetahuan dan nilai yang diperoleh selama pendidikan ke dalam praktik profesional.
Sebagai bagian dari angkatan perdana, ia bersama 11 lulusan lainnya akan membawa nama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung ke dunia kerja.
Di sana, keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari capaian akademik. Kompetensi, integritas, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap pasien menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dijalankan.
The post Fransisca, Lulusan Perdana Apoteker UM Bandung yang Menemukan Ruang untuk Bertumbuh appeared first on Warta PTM.




