Seginjang Ni Aik Batang Gadis, Adong Do Ujung Muarana
Oleh : Jufri
Sore ini, sambil membuka-buka handphone karena kebetulan tidak ke mana-mana, saya menemukan sebuah kata-kata penting dari ungkapan Mandailing yang menurut saya sederhana, tetapi dalam maknanya. Saya membacanya beberapa kali dan kemudian berpikir, ternyata ungkapan orang-orang tua kita dahulu banyak menyimpan pelajaran kehidupan.
“Seginjang ni aik Batang Gadis, adong do ujung muarana.”
Sepanjang aliran air Batang Gadis, ada ujung dan ada muaranya.
Ungkapan ini mengingatkan saya bahwa hidup juga seperti aliran sungai. Kita tidak selalu tahu bagaimana perjalanan air itu. Ada yang mengalir tenang, ada yang harus melewati bebatuan, berbelok, menyempit, bahkan kadang menghadapi arus yang deras. Tetapi air tetap mengalir menuju muaranya.
Begitu juga perjalanan hidup manusia.
Kita boleh mempunyai cita-cita. Kita boleh membuat rencana. Kita boleh bekerja keras dan berusaha sungguh-sungguh. Tetapi tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan seperti yang kita inginkan.
Ada perjalanan yang panjang. Ada cita-cita yang belum tercapai. Ada harapan yang harus ditunda. Bahkan ada tujuan yang akhirnya berubah sama sekali.
Lalu apakah itu berarti kita gagal?
Saya kira tidak sesederhana itu.
Kalau perjalanan kita belum sampai kepada tujuan yang kita inginkan, bukan berarti perjalanan itu sia-sia.
Sebab dalam perjalanan kita belajar banyak hal. Kita belajar sabar ketika menunggu, belajar ikhlas ketika kehilangan, belajar bangkit ketika jatuh, dan belajar rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung sudah berapa jauh kita berjalan, sampai lupa melihat berapa banyak pelajaran yang sudah kita dapatkan sepanjang perjalanan.
Dalam kehidupan, manusia memang harus punya tujuan. Tetapi jangan sampai karena terlalu terikat kepada tujuan, kita kemudian menganggap semua jalan yang tidak sesuai rencana sebagai kegagalan.
Bisa jadi jalan yang berbelok itu justru membawa kita kepada pengalaman yang lebih berharga.
Bisa jadi pintu yang tertutup membuat kita menemukan pintu lain.
Dan bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan hari ini, beberapa tahun kemudian justru kita syukuri sebagai bagian penting dari perjalanan hidup.
Di sinilah saya melihat nilai yang sangat dekat dengan semangat Islam berkemajuan.
Islam mengajarkan manusia untuk bergerak, berpikir, belajar, bekerja dan melakukan perbaikan. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Kita harus menggunakan akal, ilmu dan ikhtiar untuk menghadapi masa depan.
Tetapi pada saat yang sama, kita juga harus sadar bahwa manusia bukan penentu tunggal atas segala sesuatu.
Kita berencana, Allah menentukan. Kita berikhtiar, Allah memberikan hasil.
Karena itu, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal justru lahir setelah ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Kalau hasilnya belum seperti yang kita harapkan, jangan buru-buru mengatakan bahwa Tuhan tidak berpihak kepada kita. Bisa jadi kita sedang diarahkan menuju sesuatu yang belum kita pahami.
Maka tetaplah berdoa.
Tetaplah bersemangat.
Tetaplah belajar.
Tetaplah bekerja dan berbuat baik.
Sebab kita tidak pernah tahu di mana sebenarnya muara dari perjalanan hidup kita.
“Seginjang ni aik Batang Gadis, adong do ujung muarana.”
Sepanjang apa pun aliran air, pada akhirnya ia akan menemukan muaranya.
Begitu pula kehidupan. Ada masa kita berada di hulu, ada masa melewati perjalanan yang panjang, dan ada saatnya kita sampai di muara.
Yang terpenting adalah sepanjang perjalanan itu kita tidak kehilangan arah, tidak kehilangan iman, tidak kehilangan akal sehat, dan tidak berhenti memberikan manfaat kepada sesama.
Bukankah salah satu semangat Islam berkemajuan adalah terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik, dengan ilmu, amal, akhlak dan kemanfaatan?
Kita tidak dituntut untuk mengetahui seluruh rahasia masa depan. Kita hanya diminta menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Maka jangan terlalu cepat menyebut diri kita gagal hanya karena belum sampai pada tujuan.
Mungkin kita bukan gagal. Mungkin kita hanya sedang dalam perjalanan.
Dan selama perjalanan itu masih berlangsung, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki ikhtiar, memperluas ilmu, memperbanyak doa dan memberikan manfaat.
Pada akhirnya, Tuhanlah yang menentukan di mana jalan kita akan bermuara.
Boleh jadi bukan di tempat yang pernah kita bayangkan.
Tetapi kita percaya, Allah lebih tahu ke mana seharusnya kita sampai.
Sebab seperti air Batang Gadis, perjalanan kita mungkin panjang dan berliku.
Tetapi insyaallah, setiap perjalanan yang dijalani dengan doa, ikhtiar dan kebaikan tidak pernah benar-benar sia-sia.
Seginjang ni aik Batang Gadis, adong do ujung muarana.
Ada ujungnya.
Ada muaranya.
Dan ada Tuhan yang menuntun perjalanan kita menuju ke sana.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




