Hasyimsyah Nasution : Sungguh-sungguhlah Belajar dan Dekat dengan Masjid
INFOMU.CO | Medan – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara (PWM Sumut), Prof. Dr. H. Hasyimsyah Nasution, MA., menyampaikan dua pesan penting kepada ribuan mastawan dan mastawati dalam kegiatan Masa Ta’aruf (Masta) Kolosal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) 2026.
Dua pesan tersebut adalah agar mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajar dan memperbanyak kedekatan dengan masjid. Menurut Hasyimsyah, kedua hal itu merupakan bekal penting bagi mahasiswa dan kader IMM dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan sekaligus membentuk karakter yang kuat.
Ia mengutip kisah Nabi Musa yang diabadikan dalam Al-Qur’an, termasuk dalam Surah Al-Kahfi ayat 60-61, sebagai ilustrasi tentang pentingnya ketekunan dalam mencari ilmu. Menurutnya, proses belajar tidak cukup dilakukan sekali, tetapi membutuhkan pengulangan, ketekunan dan kesungguhan.
“Belajar itu harus diawali dengan niat dan komit terhadap niat itu. Belajar satu kali tidak memadai, tetapi harus diulang,” pesannya.
Hasyimsyah juga mengingatkan para mahasiswa bahwa tantangan kehidupan akademik maupun sosial yang dihadapi generasi muda tidak akan semakin ringan. Karena itu, mahasiswa justru harus membiasakan diri berhadapan dengan persoalan.
Ia mengajak mastawan dan mastawati untuk tidak menghindari tantangan, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.
Menurut Hasyimsyah, kemampuan mengubah tantangan menjadi kesempatan dan peluang membutuhkan ilmu pengetahuan. Karena itu, mahasiswa harus menjadikan masa pendidikan sebagai momentum untuk memperkuat kapasitas intelektual sekaligus mental.
“Ini adalah momentum mengubah tantangan itu menjadi kesempatan dan peluang. Itu diperlukan ilmu,” ujarnya.
Perbanyak Aktivitas di Masjid
Pesan kedua yang disampaikan Prof Hasyimsyah adalah agar kader IMM memperbanyak intensitas berada dan berkegiatan di masjid.
Ia mengingatkan hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, salah satunya adalah pemuda yang hatinya tertambat kepada masjid.
“Bahkan kalau membuka grup diskusi, gelarlah diskusi di masjid,” katanya.
Hasyimsyah menjelaskan, kebiasaan berada di masjid secara tidak langsung mendidik seseorang untuk menjaga kebersihan, keteraturan dan kontrol diri. Bukan hanya pakaian yang dituntut bersih, tetapi juga ucapan dan pikiran.
“Kalau berada di masjid ada syaratnya: harus bersih. Pakaian kita harus bersih, ucapan kita harus bersih, teratur dan terkontrol. Pikiran kita juga harus bersih,” tuturnya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut pada akhirnya akan membentuk kepribadian seseorang. Masjid juga memiliki suasana yang teduh sehingga memungkinkan mahasiswa mengembangkan tradisi intelektual sekaligus spiritual.
“Masjid bukan cuma tempat beribadah, tetapi juga sebagai sarana untuk mendiskusikan berbagai hal. Ini sudah dibuktikan dalam sejarah perjuangan Nabi,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan kader IMM agar tidak menjauh dari dimensi spiritualitas dan kehidupan keagamaan.
“Jadi, jika ada kader IMM yang justru lari dari vibe dan suasana spiritualitas keagamaan, itu tidak benar,” tegasnya.
Hasyimsyah menekankan bahwa IMM harus mampu menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi kader yang memiliki komitmen terhadap perubahan. Perubahan tersebut, menurutnya, tidak mungkin lahir tanpa kekuatan mental dan karakter.
“IMM harus berusaha menunjukkan jati dirinya, membangun image bahwa kalian adalah orang-orang yang benar-benar melakukan perubahan. Tidak ada perubahan kalau tidak dimulai dengan mental yang kuat,” katanya.
“Ketabahan, kejujuran, kesungguhan dan kepribadian yang disebut dengan karakter moralitas atau akhlakul karimah itu hanya bisa dibangun melalui agama. Agama itu harus terbangun melalui masjid,” jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan kembali sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Salah satu langkah awal yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid sebagai pusat kehidupan umat.
“Itu sebabnya ketika hijrah sampai ke Madinah, yang dibangun pertama adalah masjid,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari arahan Prof Hasyimsyah kepada peserta Masta Kolosal IMM UMSU 2026 agar proses pengenalan organisasi tidak berhenti pada pengenalan struktur dan aktivitas IMM, tetapi juga menjadi momentum membangun tradisi keilmuan, ketangguhan mental, spiritualitas dan karakter kader.(*)











