UMSU DAN PANGGUNG 2045: MENJAWAB KOMPAS KAPOLRI DI ERA BONUS DEMOGRAFI
Oleh: Affan Al Quddus,.S.Sos., M.Si.
Kuliah umum Kapolri Jenderal Listyo Sigit di hadapan 6.027 mahasiswa baru UMSU pada 27 September 2026 bukan sekadar seremonial PKKMB. Kalimat kuncinya tajam: “Tahun 2045 merupakan panggung pembuktian bagi calon pemimpin Indonesia Kedepan.”Jika dibaca dengan kacamata demografi, pernyataan itu adalah peringatan dini.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui proyeksi 2020-2050 menunjukkan kita sedang berada di puncak bonus demografi. Pada 2030-2035, sekitar 64-72,8% penduduk Indonesia berada di usia produktif 15-64 tahun. Dependency ratio kita di 2025 masih 45,02%, artinya 100 pekerja menanggung 45 non-produktif. Namun proyeksi BPS menyebut angka ini akan naik menjadi 53,35% pada 2045.
Artinya jelas: bonus ini tidak abadi. BPS mencatat 6 provinsi akan mengakhiri bonusnya kurang dari 10 tahun lagi, seperti Sumbar 2030, DIY 2033, Jatim 2034. Sumatera Utara, tempat UMSU berdiri, hanya sampai 2037. Jika gagal dikelola, bonus berubah menjadi kutukan demografi berupa pengangguran massal dan kemiskinan struktural.
Dari Ijazah ke Integritas.
Penekanan lifelong learning, integritas, dan moralitas. Data WEF Global Human Capital Report 2023 menempatkan Indonesia peringkat 87 dari 130 negara, di bawah Malaysia (33) dan Thailand (40), dengan 42,7% lulusan bekerja tidak sesuai bidang (mismatch). Ini sejalan dengan teori Human Capital Becker; “bahwa pendidikan tanpa relevansi keterampilan adalah pemborosan”.
UMSU menjawab dengan model Al-Islam Kemuhammadiyahan yang mengintegrasikan hard skill dan soft skill. Tridharma tidak hanya di kelas, tetapi penjagaan kampus dari narkoba, kekerasan, dan intoleransi sebagai fondasi social capital (Putnam, 2000).
Mahasiswa menjadi pencipta lapangan kerja. Tantangannya nyata: 45% pemuda desa usia 20-35 tahun memilih merantau ke kota (BPS 2024), sementara dunia kerja formal semakin sempit karena otomatisasi.
UMSU memiliki modal untuk ini. Dengan basis kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat, mahasiswa diarahkan menjadi wirausaha digital. Ini sejalan dengan konsep entrepreneurial university (Etzkowitz, 2004), di mana kampus bukan menara gading, tapi mesin ekonomi lokal.
Ini pesan paling kontemporer dimana Kapolri mengingatkan ancaman judi online, phishing, deepfake, dan hoaks. Data Polri menunjukkan kejahatan siber naik 30% tiap tahun sejak 2022. Mahasiswa sebagai digital native harus menjadi pelopor kamtibmas di ruang digital, bukan agen penyebar disinformasi.
Literasi digital di UMSU harus naik kelas menjadi digital resilience. Bukan sekadar bisa memakai AI, tapi bijak memanfaatkannya. Sesuai teori Media Literacy (Potter, 2019), ketahanan informasi adalah benteng terakhir persatuan.
Penutup:
Bonus demografi adalah jendela kesempatan yang hanya terbuka sekali dalam sejarah sebuah bangsa. Ia tidak akan menunggu siapa pun yang tidak siap.
Di sinilah relevansi slogan UMSU menjadi jawaban paling konkret: Unggul, Cerdas, dan Terpercaya.
Unggul dalam prestasi akademik dan daya saing global, agar lulusan UMSU tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Cerdas dalam membaca zaman, melek teknologi, dan bijak mengelola informasi di tengah banjir disrupsi. Dan Terpercaya dalam integritas, moralitas, dan pengabdian, karena tanpa kepercayaan, kepemimpinan hanyalah kekuasaan kosong.
Jika 6.027 mahasiswa baru hari ini ditempa dengan tiga nilai itu, maka panggung 2045 bukanlah utopia. Indonesia Emas tidak akan lahir dari gedung-gedung tinggi di Jakarta semata, ia akan lahir dari ruang-ruang kelas di Medan, dari kampus seperti UMSU yang konsisten menyiapkan pemimpin berhati bersih dan berpikiran terbuka.
Kapolri sudah memberi kompas. Kini tugas kita bersama memastikan kompas itu tetap menyala. Karena ketika UMSU Unggul, Cerdas, dan Terpercaya, berbuah nyata maka Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar visi, melainkan kepastian. (***)
*** Penulis: Dosen Fisip UMSU, Pemerhati kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat.










