Jurnalistik Berkemajuan Menyambut Muktamar ke-49
Oleh: Jufri
Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ’Aisyiyah tahun 2027 semakin dekat. Persiapan demi persiapan terus dilakukan, baik dari sisi fisik dan infrastruktur maupun berbagai hal lainnya yang bertujuan menyukseskan sekaligus menyemarakkan syiar Muktamar bersejarah di Tanah Deli ini.
Muktamar bukan sekadar sebuah agenda organisasi yang berlangsung beberapa hari. Ia adalah peristiwa besar yang akan menjadi bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah. Karena itu, persiapannya pun tidak cukup hanya dengan membangun tempat, menyiapkan sarana, mengatur akomodasi, transportasi, konsumsi dan berbagai kebutuhan teknis lainnya. Ada satu hal yang juga tidak kalah penting, yaitu bagaimana Muktamar ini dikabarkan, diceritakan dan dikenang melalui informasi dan jurnalistik.
Dalam era globalisasi dan digitalisasi, informasi memainkan peran yang sangat penting dalam suksesnya sebuah kegiatan. Apalagi Muktamar Muhammadiyah adalah agenda besar organisasi pergerakan yang membawa semangat Islam berkemajuan.
Informasi tentang Muktamar harus dikemas sedemikian rupa sehingga bukan hanya menjadi kabar, tetapi juga menjadi rujukan, dokumentasi dan penyemarak Muktamar.
Apalagi Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ’Aisyiyah di Sumatera Utara memiliki nilai sejarah tersendiri. Ia akan menjadi momentum besar di Tanah Deli, sekaligus mengingatkan kembali jejak sejarah Muhammadiyah yang pernah melaksanakan Kongres di Medan pada 1939.
Karena itu, narasi tentang Muktamar tidak boleh berhenti pada pemberitaan mengenai siapa yang hadir, apa acaranya dan di mana kegiatan dilaksanakan. Jurnalistik Muktamar harus mampu menghadirkan cerita tentang Muhammadiyah, sejarah, gagasan, gerakan, tokoh, kader, amal usaha, masyarakat dan masa depan Islam berkemajuan.
Bukan Sekadar Memberitakan
Jurnalistik Muhammadiyah tentu memiliki karakter yang berbeda. Ia bukan hanya bekerja dengan kamera, mikrofon, laptop atau telepon pintar. Di balik semua perangkat itu ada nilai dan tanggung jawab.
Jurnalis Muhammadiyah harus mampu menyampaikan informasi dengan akurat, berimbang, mencerdaskan dan mencerahkan. Kritik boleh ada, tetapi harus konstruktif. Perbedaan pandangan boleh diberitakan, tetapi jangan dikemas menjadi konflik yang tidak perlu.
Begitu pula produk jurnalistiknya. Jangan sampai semangat mengejar kecepatan membuat kita mengabaikan ketepatan. Jangan pula keinginan mendapatkan perhatian membuat judul dan konten kehilangan etika.
Di sinilah pentingnya jurnalistik berkemajuan.
Berita bukan sekadar mengejar traffic. Konten bukan semata-mata mengejar viral. Dokumentasi bukan hanya untuk memenuhi arsip. Semua itu seharusnya menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan informasi yang memberikan manfaat.
Muhammadiyah memiliki kekayaan cerita yang luar biasa. Ada sejarah panjang, tokoh, kader, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, lembaga filantropi, gerakan perempuan melalui ’Aisyiyah, organisasi otonom, hingga berbagai aktivitas sosial kemanusiaan.
Semua itu adalah bahan jurnalistik yang sangat kaya.
Tinggal bagaimana ia dikemas menjadi cerita yang menarik tanpa kehilangan substansi.
Dari Medan, Mencerdaskan Bangsa
Karena itu, kehadiran Akademi Jurnalistik Filantropi LazisMu yang akan dilaksanakan pada 26–27 September 2026 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat dalam konteks persiapan Muktamar.
Jurnalistik dan filantropi mungkin terlihat sebagai dua bidang yang berbeda. Tetapi keduanya memiliki titik temu yang penting, yaitu membangun kemanfaatan dan menyebarluaskan kebaikan.
Filantropi menghadirkan manfaat melalui aksi nyata, sementara jurnalistik dapat memperluas manfaat melalui informasi dan narasi.
Satu membantu masyarakat melalui tindakan, yang lain membantu masyarakat melalui pengetahuan.
Maka ketika keduanya dipertemukan dengan persiapan Muktamar, ruang kontribusinya menjadi semakin luas.
Kita membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menulis. Tetapi kita juga membutuhkan orang yang mampu melihat sesuatu yang layak ditulis.
Sebab tidak semua yang menarik itu penting, dan tidak semua yang penting langsung terlihat menarik.
Di sinilah kemampuan jurnalistik dibutuhkan.
Seorang jurnalis Muhammadiyah harus mampu menemukan sisi kemanusiaan dari sebuah kegiatan, menemukan inspirasi dari perjuangan seorang kader, menemukan pelajaran dari sebuah perjalanan organisasi, sekaligus mampu menjelaskan gagasan Muhammadiyah dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Dengan begitu, jurnalistik bukan hanya menjadi alat publikasi Muktamar, tetapi juga menjadi bagian dari dakwah bil qalam, dakwah digital dan dakwah peradaban.
Muktamar ke-49 bukan hanya milik panitia. Ia adalah momentum bersama Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Karena itu, syiarnya pun membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Humas, jurnalis, penulis, fotografer, videografer, pengelola media sosial, akademisi, kader dan generasi muda semuanya dapat mengambil bagian sesuai kapasitas masing-masing.
Kalau Muktamar ingin dikenang, maka selain bangunan dan infrastrukturnya yang harus dipersiapkan, ceritanya juga harus dipersiapkan.
Sebab suatu peristiwa akan berlalu, tetapi narasi yang baik dapat membuatnya tetap hidup dalam ingatan.
Dari Tanah Deli, Muktamar ke-49 diharapkan bukan hanya menghadirkan perjumpaan jutaan warga Muhammadiyah dan penggembira, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran, gerakan dan peradaban.
Dan salah satu cara meninggalkan jejak itu adalah melalui jurnalistik.
Jurnalisnya berkemajuan, produknya mencerdaskan, narasinya mencerahkan.
Dari Medan, kita tidak hanya menyambut Muktamar.
Dari Medan, kita mencerdaskan bangsa.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni









