KETIKA KONSOLIDASI BERHENTI DI PANGGUNG POLITIK
Oleh: Isa Anshari SF
Angkatan Muhammadiyah sejatinya bukan sekadar organisasi kepemudaan yang memiliki struktur dari pusat hingga ranting. Ia adalah bagian penting dari gerakan dakwah yang diharapkan melahirkan kader-kader muda yang berilmu, berakhlak, berani menyuarakan kebenaran dan mampu menghadirkan kemanfaatan bagi umat serta bangsa.
Namun, ada sebuah pertanyaan kritis yang patut direnungkan.
Apa yang terjadi apabila energi kepemimpinan lebih banyak terserap untuk membangun posisi jabatan politis dan kepentingan pribadi daripada membangun kader di akar rumput?
Pertanyaan ini bukan ditujukan kepada individu tertentu, apalagi untuk menghakimi seluruh pimpinan. Ini adalah sebuah otokritik yang perlu dibicarakan secara terbuka dan bermartabat demi menyelamatkan masa depan organisasi dan persyarikatan.
Ketika Jabatan Menjadi Tujuan
Dalam dinamika organisasi dan politik kebangsaan, tidak ada yang salah ketika kader Muhammadiyah mengambil bagian dalam pemerintahan maupun politik. Muhammadiyah sendiri memiliki tradisi melahirkan kader yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Masalahnya muncul ketika jabatan dan kepentingan politik pribadi mulai menggeser orientasi perjuangan organisasi.
Jika posisi strategis dalam organisasi hanya dipandang sebagai kendaraan untuk memperoleh akses politik, jabatan pemerintahan, komisaris atau direksi BUMN dan atau BUMD, maka dimungkinkan ada bahaya yang harus diwaspadai yakni; organisasi dapat berubah dari ladang perjuangan menjadi tangga kepentingan pribadi.
Ketika hal itu terjadi, kader di tingkat bawah berpotensi hanya menjadi angka dalam daftar struktur, peserta kegiatan ketika diperlukan, atau massa yang digerakkan ketika ada kepentingan tertentu.
Padahal, ukuran keberhasilan sebuah organisasi kader bukanlah seberapa banyak tokoh yang berhasil menduduki jabatan strategis. Tapi ukuran keberhasilannya adalah seberapa banyak kader yang tumbuh, seberapa kuat akar rumput diorganisasinya dan seberapa besar manfaat perjuangannya bagi masyarakat.
Jangan Sampai Ramai di Daerah, Sepi di Ranting
Ironis apabila organisasi terlihat aktif di tingkat pusat, wilayah dan daerah, tetapi denyut kehidupan kader di cabang dan ranting justru semakin melemah dan nyaris tidak terlihat.
Padahal Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla, dalam Tanwir II Pemuda Muhammadiyah pada Mei 2026 mengingatkan agar organisasi tidak kehilangan akar sosialnya. Ia menekankan bahwa jangan sampai pimpinan organisasi sibuk membangun panggung politik tetapi lupa membangun kader, ramai di media sosial tetapi sepi di cabang dan ranting.
Pernyataan tersebut sesungguhnya menjadi alarm penting. Sebab, organisasi kader tanpa kader di akar rumput ibarat pohon yang memiliki batang besar tetapi akar yang semakin rapuh. Pada akhirnya, yang terlihat hanyalah struktur administratif: Ada nama/plank Pimpinan Cabang dan ada nama/ plank Pimpinan Ranting saja, walaupun ada nama-nama pengurus, tetapi aktivitas kaderisasi tidak berjalan.
Kemudian pengajian ditingkat ortom tidak lagi tumbuh. Dakwah pemuda melemah. Masjid hanya sebagai tempat shalat, tidak menjadi pusat aktivitas kader pemuda. Sehingga Persoalan sosial anak muda tidak tersentuh dan generasi muda yang anak warga Muhammadiyah akhirnya mencari ruang lain untuk berekspresi, nongkrong di café dan lai sebagainya.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar Jangan Menjadi Slogan
Persyarikatan Muhammadiyah sejak awal berdirinya menegaskan keberadaannya sebagai gerakan Islam dengan misi dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Karena itu, orientasi utama kader dan pimpinan semestinya tetap kembali kepada amanah tersebut.
Bukan berarti kader Muhammadiyah tidak boleh masuk politik. Bukan berarti kader tidak boleh menjadi pejabat. Bukan berarti kader tidak boleh menjadi komisaris atau direksi. Itu semua boleh saja, bahkan semua itu dapat menjadi ruang pengabdian.
Tetapi pertanyaannya; apakah jabatannya itu bisa menjadi sarana perjuangan ? atau justru perjuangan organisasi dijadikan sarana memperoleh jabatan?
Di sinilah garis batas moral kepemimpinan harus dijaga.
Muhammadiyah sendiri sudah menegaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan satu kesatuan. Bahkan dalam penjelasan resmi Muhammadiyah, keduanya harus dijalankan secara seimbang. Maka jangan sampai kader begitu bersemangat berbicara tentang politik kekuasaan, tetapi kehilangan keberanian berbicara tentang persoalan umat.
Jangan sampai sibuk membangun komunikasi dengan elite, tetapi lupa membangun komunikasi dengan kader di tingkat cabang dan ranting. Jangan sampai piawai melakukan bargaining politik, tetapi gagap ketika ditanya: “Apa yang sudah kita lakukan untuk Angkatan muda di pedesaan atau diakar rumput?”
Dalil tentang Jangan Meninggalkan Generasi yang Lemah
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat dalam dalam QS. An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”
(QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini memang berbicara dalam konteks menjaga generasi yang ditinggalkan, tetapi pesan moralnya sangat luas:Jangan meninggalkan generasi penerus dalam keadaan lemah. Dalam konteks organisasi kader, pertanyaan tersebut patut kita ajukan kepada kita diri sendiri:
Apakah kita sedang menyiapkan generasi penerus yang kuat, atau justru meninggalkan generasi muda dengan struktur organisasi yang tinggal nama saja?
Sebab jika generasi muda yang tidak dibina hari ini adalah kekosongan kepemimpinan di masa depan.
Ranting Adalah Laboratorium Kaderisasi
Konsolidasi organisasi seharusnya tidak berhenti pada rapat, musyawarah, seminar, konferensi, deklarasi atau kegiatan seremonial. Konsolidasi yang sebenarnya adalah ketika seorang kader di ranting merasa:
“Saya diperhatikan.”
“Saya dibina.”
“Saya diberi ruang untuk berkembang.”
“Saya dipercaya memimpin.”
“Saya memiliki masa depan di organisasi ini.”
Cabang dan ranting bukan sekadar pelengkap struktur saja, tapi sebagai laboratorium kaderisasi.
Muhammadiyah sendiri menempatkan cabang dan ranting sebagai bagian penting dari kekuatan gerakan. Perluasan gerakan Muhammadiyah sejak awal sangat terkait dengan kekuatan cabang dan ranting sebagai akar pergerakan.
Maka jika ranting mati, sesungguhnya yang sedang melemah bukan hanya sebuah kepengurusan. Tapi yang sedang melemah adalah mata rantai regenerasi.
Jangan Sampai Politik Menghabiskan Energi Dakwah
Politik adalah bagian dari kehidupan berbangsa. Kader Muhammadiyah boleh berada di ruang politik selama tetap menjaga integritas, etika dan orientasi pengabdian.
Tetapi organisasi kader harus memiliki batas moral yang jelas: Jangan menjadikan organisasi sebagai alat bargaining pribadi. Sebab ketika kepentingan pribadi terlalu dominan, kader di bawah akan kehilangan keteladanan. Mereka akan belajar bahwa organisasi bukan tempat berjuang, tetapi tempat mencari akses. Mereka akan belajar bahwa loyalitas bukan kepada nilai, tetapi kepada figur. Mereka akan belajar bahwa semakin dekat dengan kekuasaan, semakin besar peluang memperoleh posisi.
Jika pembelajaran semacam ini berlangsung terus-menerus, maka jangan heran jika kaderisasi berubah menjadi transaksi kepentingan. ketika itu terjadi, maka amar ma’ruf nahi munkar hanya tinggal jargon di atas podium.
Sebuah Otokritik untuk Semua
Tulisan ini bukan serangan kepada Angatan Muhammadiyah. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kecintaan terhadap organisasi dan persyarikatan. Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang takut terhadap kritik. Tapi organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu melakukan muhasabah, menerima kritik dan memperbaiki diri.
Maka sudah saatnya dilakukan evaluasi sederhana bagi Pimpinan Angakatan Muhammadiyah terutama ditingkat Daerah Wilayah dan Pusat: :
- Berapa banyak ranting yang benar-benar aktif?
- Berapa banyak kader muda yang benar-benar dibina?
- Berapa banyak kader baru yang lahir setiap tahun?
- Berapa banyak program yang menyentuh persoalan nyata anak muda?
- Apakah pimpinan turun sampai ke akar rumput?
- Apakah kader cabang dan ranting mendapatkan ruang kepemimpinan?
- Apakah energi organisasi lebih banyak digunakan untuk dakwah atau untuk kepentingan politik praktis?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menunjukkan apakah konsolidasi organisasi benar-benar hidup atau hanya terlihat hidup di permukaan.
Kepemimpinan Adalah Amanah, Bukan Investasi Pribadi. Rasulullah SAW mengingatkan: “Kepemimpinan adalah amanah…”
Karena itu, menjadi pimpinan di Muhammadiyah bukanlah prestise. Bukan pula investasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Maka seorang pimpinan seharusnya bertanya kepada dirinya sendiri:
“Ketika masa kepemimpinan saya berakhir, apakah saya meninggalkan jabatan atau meninggalkan kader?”
Karena jabatan akan berakhir. Periode kepengurusan akan selesai. Kekuasaan akan berganti.Tetapi kader yang telah dibina akan terus melanjutkan perjuangan.
Penutup
Jangan Biarkan Akar Mengering
Angkatan Muda Muhammadiyah harus tetap menjadi gerakan yang mengakar, bukan sekadar terlihat besar.
Pimpinan pusat membutuhkan wilayah.
Wilayah membutuhkan daerah
Daerah membutuhkan cabang.
Cabang membutuhkan ranting.
Dan semuanya membutuhkan kader.
Jika mata rantai itu terputus, maka sebesar apa pun panggung yang dibangun di atas, organisasi akan kehilangan kekuatan dasarnya. Karena itu, mari kita kembalikan orientasi kepemimpinan kepada nilai-nilai perjuangan:
Dakwah sebelum popularitas. Kaderisasi sebelum pencitraan. Pengabdian sebelum kepentingan. Amanah sebelum jabatan. Umat sebelum diri sendiri.
Dan yang paling penting adaah Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari tempat di lingkaran kekuasaan, sementara generasi muda di ranting dibiarkan berjalan sendiri –sendiri.
Sebab boleh jadi, yang hari ini kita anggap hanya “kader ranting”, justru merupakan orang yang kelak akan menyelamatkan masa depan Persyarikatan.
Jangan tinggalkan mereka dalam kelemahan. Bina mereka dalam keilmuan. Besarkan mereka dalam keteladanan. Dan berikan mereka ruang untuk memimpin.
Karena pada akhirnya, sejarah organisasi tidak hanya ditulis oleh mereka yang pernah menduduki jabatan, tetapi juga oleh mereka yang berhasil menyiapkan generasi penerus.
*** Penulis, adalah alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Alumni Pemuda Muhammadiyah di Medan








