Rekonstruksi Kepercayaan Diri Muhammadiyah : Membaca Pesan Agung Danarto Dibalik Prestasi Global UMSU
Oleh : Rafdinal, S.Sos. M.AP.
Wacana tentang krisis percaya diri di kalangan warga Muhammadiyah bukanlah isapan jempol. Dalam sebuah forum resmi pelantikan pejabat struktural di UMSU, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, melontarkan kritik yang sangat fundamental: warga Muhammadiyah harus percaya diri.
Pesan itu berbunyi: “Jangan berkecil hati, warga Muhammadiyah harus percaya diri dan bangga dengan berbagai capaian positif yang diraih Persyarikatan ini. Itu bukan sombong, sebab prestasi itu adalah penilaian orang lain.”
Pernyataan ini menarik untuk dibedah secara ilmiah, karena ia tidak lahir di ruang hampa. Ia lahir tepat ketika Muhammadiyah sedang berada di puncak validasi global.
Sejatinya itu adalah manifestasi dari firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 110 yang menjadi landasan teologis gerakan Muhammadiyah:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini menegaskan bahwa percaya diri dalam Islam bukanlah kesombongan, melainkan kesadaran atas mandat sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang harus dibuktikan melalui karya nyata, bukan sekadar klaim. Pesan Agung Danarto ini menarik untuk dibedah secara ilmiah, karena ia tidak lahir di ruang hampa. Ia lahir tepat ketika Muhammadiyah sedang berada di puncak validasi global.
Data Prestasi: Bukan Klaim Internal
Agung Danarto secara spesifik menunjuk prestasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) sebagai studi kasus. UMSU dinobatkan sebagai perguruan tinggi Islam terbaik nomor 1 di dunia versi UniRank 2026.
Data UniRank menunjukkan pemeringkatan ini bukan pemeringkatan kecil. UniRank merilis daftar dengan tajuk 2026 Top Islamic Universities in the World dari total 438 universitas yang dinilai. UMSU meraih top 1 Islamic University in the World.
Yang lebih signifikan, ini bukan prestasi tunggal. Peta kekuatan perguruan tinggi Islam global mengalami pergeseran signifikan, di mana pusat gravitasi pendidikan Islam yang selama ini identik dengan Timur Tengah kini beralih ke Indonesia.
Dominasi PTM sangat jelas: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di posisi pertama, mengungguli Cairo University asal Mesir (peringkat 3) dan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (peringkat 2). Selain UMSU, tiga PTM lainnya turut menembus 10 besar dunia, yakni Universitas Muhammadiyah Surabaya (peringkat 5), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (peringkat 7), dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (peringkat 8).
Bahkan jika diperluas, sebanyak tujuh PTM berhasil masuk dalam daftar 25 universitas Islam terbaik di dunia.
Metodologi UniRank sendiri cukup ketat, mencakup akreditasi resmi, ketersediaan program sarjana hingga doktoral, pelaksanaan pendidikan konvensional berbasis kampus, serta indikator popularitas dan visibilitas web. Artinya, ini bukan soal like dan followers, tapi soal tata kelola akademik yang terverifikasi.
Inilah yang dimaksud Agung Danarto sebagai “penilaian orang lain bukan diri kita sendiri”. Ini adalah validasi eksternal yang objektif.
Dua Prasyarat Agar Prestasi Tidak Menjadi Sombong
Agung Danarto tidak ingin percaya diri berubah menjadi takabur. Ia memberi dua prasyarat etis yang sering dilupakan.
Pertama, Egaliterianisme. Ia mengingatkan iklim kerja di PTMA menuntut prinsip egaliter. “Itulah egaliternya dari Persyarikatan Muhammadiyah, tidak ada orang yang istimewa, orang khusus, semuanya tergantung pada usahanya, kerjanya, dan kontribusinya,” tegas Agung.
Dalam perspektif kebijakan publik, ini adalah anti-tesis dari feodalisme akademik. Prestasi global hanya bisa dijaga jika meritokrasi berjalan, bukan kultus individu.
Kedua, Dakwah yang Menggembirakan. Ia mendesak pimpinan AUM untuk memperhatikan tingkat kebahagiaan serta kesehatan fisik dan mental para stafnya, tidak mengeksploitasi SDM. “Dakwah di Muhammadiyah itu kan bergembira, sehingga kita sendiri harus bergembira,” pungkasnya.
Ini adalah kritik struktural terhadap AUM yang terkadang terjebak pada target kuantitatif, mengejar ranking dan akreditasi, tapi lupa pada kesejahteraan aktor di baliknya.
Ranking Menuju Keberanian Moral
Di sinilah letak relevansi opini ini. Jika Muhammadiyah sudah percaya diri di level global, maka percaya diri itu harus diterjemahkan menjadi keberanian moral untuk menjadi penjaga nalar kritis bangsa.
Percaya diri tidak cukup hanya untuk membuat baliho “Kampus No.1 Dunia”. Percaya diri harus menjadi modal untuk bersuara ketika ada kebijakan negara yang berpotensi mudharat, seperti dampak buruk program MBG yang menelan 50.059 korban keracunan.
Kampus yang sudah top 1 dunia seperti UMSU memiliki tanggung jawab ilmiah untuk menjadi “suara langit” – menghasilkan riset-riset yang jujur, bahkan jika riset itu mengkritik program pemerintah.
Inilah Islam Berkemajuan yang sejati: maju dalam pemeringkatan, maju dalam tata kelola, dan maju dalam keberanian etis.
Jika tidak, kita hanya akan menjadi jago kandang yang bangga dengan ranking, tapi bungkam ketika anak-anak bangsa menjadi korban kebijakan yang terburu-buru.
*** Penulis: Wakil Ketua PDM Kota Medan, Aktifis Dakwah Sosial Dan Penggiat Pemberdayaan Masyarakat.





