Jangan Terlalu Cepat Memuji, Jangan Terlalu Paten Mengkritik
Oleh : Jufri
Kali ini saya membaca sebuah postingan dari seorang junior dan sahabat yang sudah lama saya kenal, meskipun kami sudah jarang berjumpa. Ia menulis: “Manusia memang suka dan senang dipuji, daripada diberi kritik dan nasihat. Masalahnya, puji-pujian sangat dekat dengan menjilat, sedang kritik lebih dekat dengan kebenaran.”
Saya membaca tulisan itu sebagai sebuah renungan yang bagus. Memang, manusia pada umumnya lebih nyaman menerima pujian daripada kritik. Pujian membuat hati senang, sementara kritik kadang membuat kita tidak nyaman karena memaksa kita melihat sesuatu yang mungkin selama ini tidak ingin kita lihat.
Namun, ada satu hal yang kemudian mengusik pikiran saya. Jangan-jangan kita terlalu mudah mengatakan sesuatu kepada orang lain, tetapi lupa mengarahkannya kepada diri sendiri.
Benarkah setiap pujian adalah penjilatan? Rasanya tidak selalu demikian. Ada pujian yang lahir dari ketulusan, penghargaan dan apresiasi. Bahkan dalam kehidupan sosial maupun organisasi, apresiasi yang diberikan secara proporsional dapat menjadi energi positif bagi seseorang untuk terus berbuat baik.
Begitu juga dengan kritik. Kritik memang bisa menjadi bentuk kepedulian. Tetapi tidak semua kritik otomatis berarti kebenaran. Kritik yang disampaikan tanpa memahami persoalan, tanpa mempertimbangkan situasi, apalagi dengan nada merasa paling tahu, justru bisa berubah menjadi kesombongan yang dibungkus dengan kata-kata kebenaran.
Itulah sebabnya saya kemudian menulis di kolom komentar:
“Memuji dan mengkritisi harus tahu tempat dan waktunya. Memuji jangan sampai jadi penjilat, dan mengkritisi jangan jadi sok paten.”
Sederhana memang. Tetapi semakin saya jalani kehidupan, semakin saya merasa bahwa kebenaran tidak hanya membutuhkan isi yang benar, tetapi juga cara menyampaikannya yang benar.
Ada waktu untuk memberikan apresiasi. Ada waktu untuk memberikan koreksi. Ada tempat untuk berbicara terbuka. Ada pula persoalan yang lebih baik disampaikan secara pribadi. Sebab sesuatu yang baik sekalipun bisa menjadi tidak baik ketika disampaikan pada waktu dan tempat yang keliru.
Dalam komunikasi, cara menyampaikan pesan sering kali sama pentingnya dengan pesan itu sendiri.
Kita tentu pernah melihat orang yang terlalu mudah memuji. Sedikit saja seseorang melakukan sesuatu, pujiannya berlebihan. Kadang kita bertanya dalam hati, ini apresiasi atau sedang mencari kedekatan?
Tetapi kita juga sering melihat orang yang begitu mudah mengkritik. Hampir semua hal salah di matanya. Apa yang dilakukan orang lain selalu punya kekurangan. Ia seperti memiliki kaca pembesar untuk melihat kesalahan orang lain, tetapi kehilangan cermin ketika harus melihat dirinya sendiri.
Di sinilah saya kira kita perlu berhenti sebentar.
Sebelum mengkritik orang lain, sesekali kritiklah diri sendiri. Sebelum menilai seseorang, tanyakan apakah kita benar-benar memahami persoalannya. Dan sebelum memuji seseorang, pastikan pujian itu tidak sedang menjadi alat untuk mendapatkan sesuatu.
Dalam organisasi, termasuk organisasi sosial dan persyarikatan, budaya seperti ini penting. Organisasi tidak akan sehat jika isinya hanya saling memuji. Tetapi organisasi juga tidak akan sehat jika kritik berubah menjadi kebiasaan mencari kesalahan.
Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang sehat: ada apresiasi, ada koreksi, ada ruang untuk berbeda pendapat, tetapi semuanya tetap dilandasi rasa hormat dan niat memperbaiki.
Kita tidak harus selalu setuju dengan orang lain. Kita juga tidak harus selalu diam ketika melihat sesuatu yang menurut kita perlu diperbaiki. Tetapi menyampaikan kritik tidak harus membuat kita merasa lebih tinggi. Memberikan nasihat tidak harus membuat kita merasa lebih suci.
Barangkali kita semua sedang belajar.
Saya pun masih belajar.
Belajar menerima pujian tanpa terbang terlalu tinggi. Belajar menerima kritik tanpa buru-buru merasa diserang. Belajar memberikan apresiasi tanpa menjilat. Dan belajar menyampaikan kritik tanpa merasa diri paling benar.
Sebab pada akhirnya, orang yang paling sulit kita koreksi sering kali adalah diri kita sendiri.
Kita mudah melihat debu di mata orang lain, tetapi kadang lupa melihat cermin yang ada di depan mata.
Mungkin karena itu, sebelum sibuk menjadi penilai kehidupan orang lain, ada baiknya kita sesekali menjadi penilai bagi diri sendiri.
Memuji jangan menjilat. Mengkritik jangan sok paten. Dan yang paling penting, jangan lupa bercermin.
Sebab bisa jadi, nasihat yang hari ini kita tujukan kepada orang lain, sebenarnya adalah nasihat yang paling perlu kita dengarkan sendiri.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








