Serikat Usaha Muhammadiyah Dorong Pertumbuhan Pengusaha Manufaktur
INFOMU.CO | Medan – Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) berusaha mendorong tumbuhnya pengusaha manufaktur melalui program re-industrialisasi. Program ini menjadi strategi gerakan ekonomi Muhammadiyah di abad kedua.
Penegasan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Ghufron Mustaqim pada acara kopi darat dengan puluhan pengusaha Muhammadiyah di Medan, Jumat (18/9). Pertemuan pengusaha Muhammadiyah yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara menjadi pertemuan awal SUMU di Medan. SUMU adalah wadah bagi pengusaha dan calon pengusaha Muhammadiyah (maupun yang belum Muhammadiyah) untuk saling berjejaring dan belajar.
Hadir pada kopi darat itu, Sekretaris PW Muhammadiyah Sumatera Utara Dr. Irwan Syahputra MA, Ketua LPUMKM PW Sumut Muhammad Irsyad, Ketua Majelis Ekonomi PDM Medan Muhammad Syafii, dan puluhan pengusaha Muhammadiyah di Medan.
Kopi Darat SUMU di Medan ditandai dengan berlangsung dialog internatif yang menghadirkan Sekjen SUMU Ghufron Mustaqim dan Ketua LPUMKM PW Sumut Muhammad Irsyad M.Ikom yang dipandu oleh Yudha Pratama.


Ghufron Mustaqim menegaskan konsep SUMU tidak memberikan modal usaha kepada pengusaha UMKM yang saat ini mendominasi pengusaha di akar rumput. tapi melakukan Re-Industrialisasi. Konsep ini disebut juga sebagai mewujudkan Al-Ma’un Abad ke-21. Kata Ghufron, UMKM tidak akan naik kelas tanpa mesin penarik berskala besar, yakni industrialisasi.
Pertumbuhan industrilisasi diharapkan akan melahirkan rantai pasok yang panjang dimana UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok itu secara otomatis ikut terkerek naik. Industrilisasi menjadi satu-satunya eskalator dapat menyerap jutaan tenaga kerja tak terampil menjadi tenaga kerja yang produktif.
Ghofron menjadikan China dan beberapa negara di kawasan Asia Timur sebagai kawasan yang pantas untuk dibenchmarking karena China menjadi kawasan Asia Timur yang manufakturnya tumbuh dan menjadi eskalator menuju kemakmuran. Dari data yang ada, negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan China mencatat pertumbuhan 7 – 8 persen perkapita pertahun selama beberapa dekade dengan satu strategi, yakni memindahkan tenaga kerja dari sawah ke pabrik berorientasi ekspor.
Pada sekitar 1981, sebanyak 88 persen populasi penduduk di kawasan itu berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem. Kemudian pada tahun 2020, sekitar 800 juta rakyat keluar dari kemiskinan.
Yang memerihatinkan adalah kondisi Indonesia, kemiskinan stagnan bahkan mengalami kondisi yang lebih parah. Hal itu dibuktikan dengan data dimana rakyat Indonesia mengalami nasib terlempar ke bawah dengan menjadi pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima dan buruh harian lepas.
Ghufron menegaskan, tanpa re-industrialisasi maka pertumbuhan Indonesia hanya akan menyisakan segelintir orang dipuncak dan menyerakkan mayoritas ke pinggiran kehidupan. ” Untuk itulah SUMU bertekad akan membawa mandat teologis abad ke-21 : industrialisasi sebagai wujud nyata Al-Ma’un,” kata Ghufron, SekjenSerikat Usaha Muhammadiyah. ( Syaifulh/ Bess)





