Ketika Jabatan Datang dan Pergi: Belajar dari Cara Purbaya Melepaskan Amanah
Oleh: Jufri
Senin lalu, Purbaya Yudhi Sadewa secara mendadak diganti dari jabatan Menteri Keuangan. Kabar pergantian itu diterimanya ketika sedang mengikuti rapat bersama DPD RI. Ia kemudian meninggalkan rapat tersebut setelah mendapat telepon dari Istana. Rapat yang semula menjadi bagian dari tugasnya sebagai Menteri Keuangan, ternyata menjadi salah satu agenda terakhirnya sebagai pejabat negara.
Besoknya, Selasa, serah terima jabatan Menteri Keuangan berlangsung. Purbaya terlihat relatif tenang ketika diwawancarai wartawan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghormatan kepada jajaran Kementerian Keuangan, mengucapkan terima kasih atas kerja sama selama kurang lebih setahun, lalu menutup sambutannya.
Saya tidak pernah menjadi pejabat negara. Tetapi sebagai manusia biasa, saya bisa memahami bahwa menerima kabar pemberhentian secara tiba-tiba, apalagi ketika sedang berada dalam sebuah rapat, tentu bukan sesuatu yang mudah.
Purbaya sendiri bukan robot. Ia manusia biasa. Sangat mungkin ada rasa kaget, kecewa, bahkan pertanyaan dalam hati: mengapa pergantian ini terjadi dan mengapa saya diberitahu ketika rapat masih berlangsung?
Dan ternyata Purbaya memang mengakui bahwa dirinya sempat kesal dan bahkan sempat sulit tidur. Namun ia juga mengatakan bahwa sekarang perasaannya sudah lebih baik. Ia tidak menyalahkan Presiden dan menyebut keputusan pergantian tersebut sebagai hak prerogatif Presiden.
Di sini saya melihat sesuatu yang menarik.
Kita boleh saja membicarakan apakah cara pergantian itu merupakan sesuatu yang lazim atau tidak. Bahkan peristiwa seorang menteri diberhentikan ketika sedang mengikuti rapat tentu akan menjadi catatan menarik dalam sejarah perjalanan kabinet Indonesia. Apalagi dari informasi yang muncul ke publik, pemberitahuan pergantian itu memang disampaikan ketika rapat masih berlangsung.
Tetapi soal alasan dan pertimbangan Presiden, kita tidak berada pada posisi untuk menyimpulkan semuanya. Purbaya sendiri kemudian menyebut bahwa salah satu faktornya berkaitan dengan perombakan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan, sementara keputusan akhirnya tetap ia terima sebagai hak prerogatif Presiden.
Yang lebih menarik bagi saya justru bagaimana Purbaya mengembalikan dirinya. Saya teringat pembicaraan dengan Mas Muhammad Qorib Senin sore diruangan Wakil Rektor bidang Keuangan dan Sumberdaya Manusia UMSU. Pembicaraan mungkin bersamaan dengan peristiwa pencopotan Purbaya terjadi , tapi saya belum tau beritanya karena lagi sibuk dalam sebuah acara bersejarah pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malaysia di UMSU. Mas Qorib mengatakan Jabatan itu tidak ada yang sakral , dia datang dan pergi . Meski Mas Qorib berbicara dalam konteks Rektor dan wakil Rektor di UMSU , tapi itu juga berlaku untuk jabatan lain termasuk Jabatan Menteri Keuangan yang pernah diduduki Purbaya yang sekarang sudah beralih kepada orang lain .
Setelah rasa kaget dan kecewa itu muncul, ia tampaknya berusaha kembali tenang. Ia masih bisa bercanda dengan wartawan seperti karakter yang selama ini dikenal publik.
Ketika ditanya apakah ada pesan khusus kepada Suahasil Nazara sebagai penerusnya, ia menjawab bahwa tidak ada pesan khusus karena Suahasil sudah jago dan tinggal menjalankan tugas sesuai keahliannya.
Ketika wartawan mencoba memancing dengan pertanyaan apakah Suahasil lebih jago darinya, ia justru tertawa dan berkelakar.
Bahkan ketika ditanya tentang aktivitas setelah tidak lagi menjadi Menteri Keuangan, ia menyebut akan pulang dan memancing ikan mujair atau nila di belakang rumah.
Dari ruang rapat dan urusan keuangan negara, kembali kepada rumah dan kolam ikan.
Sederhana sekali.
Tetapi justru di situlah saya menemukan sebuah refleksi.
Kita Bukan Jabatan Kita
Sering kali manusia tanpa sadar terlalu melekat dengan jabatan yang sedang dimilikinya.
Ketika memiliki jabatan, banyak pintu terbuka. Banyak orang datang. Pendapat didengar. Kehadiran diperhitungkan.
Lalu ketika jabatan selesai, semuanya berubah.
Pada titik itu seseorang diuji: apakah ia kehilangan jabatan, atau sekaligus kehilangan dirinya?
Menurut saya, kita perlu belajar membedakan keduanya.
Jabatan bisa hilang, tetapi harga diri tidak harus ikut hilang.
Kewenangan bisa berakhir, tetapi silaturahmi tidak harus putus.
Kursi bisa berganti, tetapi kesempatan untuk berbuat baik tetap ada.
Karena itu, mungkin yang perlu kita persiapkan bukan hanya bagaimana mendapatkan jabatan, tetapi juga bagaimana suatu hari nanti kita melepaskannya.
Jabatan Adalah Amanah
Kalau jabatan kita pahami sebagai amanah, maka sejak awal kita harus sadar bahwa ia tidak permanen.
Ada waktunya menerima.
Ada waktunya menjalankan.
Ada waktunya mempertanggungjawabkan.
Dan ada waktunya menyerahkan.
Persoalannya, kita sering lebih siap menerima amanah daripada melepaskannya.
Ketika mendapatkan jabatan, kita bisa bersemangat. Ketika menjalankan jabatan, kita bisa bekerja keras. Tetapi ketika digantikan, terkadang hati kita sulit menerima.
Mulailah muncul kalimat:
“Dulu ketika saya memimpin…”
Atau:
“Kalau saya masih menjabat, mungkin tidak akan seperti ini.”
Kalimat itu tidak selalu salah. Pengalaman masa lalu memang bisa menjadi bahan pembelajaran. Tetapi jangan sampai pengalaman tersebut berubah menjadi keinginan untuk terus membuktikan bahwa kita lebih baik daripada penerus kita.
Sebab setelah amanah berpindah, tugas kita juga berubah.
Dulu mungkin kita yang memutuskan.
Sekarang mungkin kita yang memberikan masukan.
Dulu kita yang memimpin.
Sekarang mungkin kita yang mendukung.
Itu bukan penurunan martabat. Itu hanya perubahan peran.
Penerus Tidak Harus Menjadi Salinan Pendahulu
Saya kira jawaban Purbaya kepada Suahasil juga bisa dilihat dari sisi yang sederhana: setiap orang memiliki keahlian dan cara kerjanya sendiri.
Penerus tidak harus menjadi salinan pendahulunya.
Ia boleh melanjutkan hal-hal yang baik, memperbaiki kekurangan, dan menemukan pendekatan yang berbeda sesuai tuntutan keadaan.
Karena itu, seorang pemimpin yang telah selesai menjalankan amanah tidak perlu terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang yang menggantikannya.
Tidak perlu mengatakan dirinya paling berhasil.
Tidak perlu pula berharap penerusnya gagal agar masa kepemimpinannya terlihat lebih baik.
Biarkan waktu dan pekerjaan yang berbicara.
Belajar Menjadi Manusia Biasa Lagi
Cerita tentang memancing mujair atau nila di belakang rumah mungkin tampak sebagai bagian kecil dari pemberitaan.
Tetapi bagi saya, justru di situlah ada refleksi yang menarik.
Kita semua memiliki kehidupan di luar jabatan.
Ada rumah yang harus ditinggali.
Ada keluarga yang perlu ditemui.
Ada sahabat yang perlu disapa.
Ada hobi yang mungkin lama ditinggalkan.
Ada waktu untuk membaca, berbincang, beristirahat, bahkan sekadar duduk di belakang rumah menunggu ikan memakan umpan.
Kita tidak boleh sampai menganggap bahwa hidup hanya berarti ketika sedang memegang jabatan.
Sebab kalau demikian, ketika jabatan berakhir, kita merasa kehidupan ikut berakhir.
Padahal tidak.
Kehidupan terus berjalan. Hanya perannya yang berubah.
Cara Kita Pergi Juga Bagian dari Kepemimpinan
Saya tidak bermaksud menjadikan Purbaya sebagai contoh yang harus diikuti dalam segala hal. Pergantian jabatan, alasan pergantian, maupun proses politik dan administrasinya merupakan persoalan tersendiri yang perlu dilihat secara objektif.
Tetapi dari peristiwa tersebut kita bisa mengambil satu pelajaran sederhana: cara seseorang menghadapi akhir sebuah jabatan juga merupakan bagian dari kepemimpinannya.
Tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan jabatan sesuai keinginannya.
Ada yang selesai karena masa jabatan habis.
Ada yang diganti.
Ada yang mengundurkan diri.
Ada pula yang harus menerima keputusan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana sebuah jabatan berakhir.
Tetapi kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita bersikap setelah jabatan itu berakhir.
Purbaya tidak menyalahkan Presiden. Ia menerima keputusan tersebut sebagai hak prerogatif Presiden, meskipun ia mengakui bahwa dirinya sempat kesal.
Bagi saya, ini bukan berarti seseorang tidak boleh kecewa ketika kehilangan jabatan.
Kecewa itu manusiawi. Tetapi jangan biarkan kekecewaan mengambil alih seluruh diri kita.
Kita boleh bertanya dalam hati. Kita boleh mengevaluasi. Kita boleh merasa tidak nyaman dengan cara sebuah keputusan disampaikan.
Namun setelah semuanya terjadi, ada waktunya kita mengatakan kepada diri sendiri:
Sudah. Amanah itu telah berpindah. Sekarang waktunya melanjutkan kehidupan.
Mungkin itulah yang sedang dilakukan Purbaya.
Dari Menteri Keuangan kembali menjadi Purbaya.
Dari ruang rapat kembali ke rumah.
Dan dari urusan negara, mungkin sesekali kembali memikirkan umpan apa yang cocok untuk ikan mujair atau nila.
Jabatan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan seseorang. Ada banyak bagian dalam kehidupan yang harus dijalani dan dinikmati.
Jangan kehilangan diri sendiri hanya karena kehilangan jabatan. Itulah pelajaran dari Purbaya .
Sebab yang membuat seseorang bernilai bukan semata-mata kursi yang pernah didudukinya, tetapi bagaimana ia menjalankan amanah ketika dipercaya dan bagaimana ia tetap menjadi manusia ketika amanah itu selesai.
Jabatan datang dan pergi. Peran berubah. Tetapi kehidupan terus berjalan. Dan dunia ini selalu dipenuhi boleh drama dan sandiwara kehidupan.
Dan mungkin, cara paling elegan meninggalkan sebuah jabatan bukanlah dengan menunjukkan bahwa kita kecewa atau bahwa kita lebih hebat dari penerus kita.
Melainkan dengan mampu mengatakan:
“Terima kasih atas amanah yang pernah diberikan. Selamat melanjutkan. Semoga menjadi lebih baik.”
Lalu pulang ke rumah.
Kalau ada waktu, memancing mujair atau nila di belakang rumah. Atau kalau di Medan boleh makan Durian di Ucok durian .
Karena hidup ternyata jauh lebih luas daripada sekadar sebuah jabatan. Itu tidak mudah , tapi setiap jabatan pasti akan dilepaskan cepat atau lambat .
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




