Mengingatkan Tanpa Menggurui, Menasihati Tanpa Merasa Lebih Baik
Oleh : Jufri
Mengingatkan tanpa menggurui itu penting. Apalagi ketika kita mengingatkan sesuatu yang belum pernah kita jalani sendiri.
Dalam kehidupan, kita sering lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kekurangan diri sendiri. Kita mudah mengatakan kepada seseorang agar bersabar, kuat, atau mengambil keputusan tertentu, padahal kita belum tentu memahami situasi dan beban yang sedang dihadapinya.
Karena itu, jangan mengingatkan atau menasihati seolah-olah kita lebih baik, lebih tahu, atau lebih mampu. Apalagi menggunakan narasi dan kata-kata kasar. Setiap orang pada dasarnya senang dihargai dan diapresiasi. Kita bisa mengkritik sebuah tindakan tanpa merendahkan orangnya, dan bisa berbeda pendapat tanpa harus menjatuhkan.
Saya teringat sebuah dialog dengan seorang junior sekaligus sahabat yang sedang menjalankan amanah penting. Saya menyampaikan beberapa pandangan, tetapi saya berusaha tidak menempatkan diri sebagai orang yang paling tahu. Sebab saya tidak berada di posisinya dan tentu tidak memahami seluruh persoalan yang dihadapinya.
Responsnya justru membuat saya kembali belajar. Ia mengatakan, “Mohon diluruskan dan beri nasihat jika ada hal yang kurang pas sesuai harapan warga persyarikatan selama saya menjalankan amanah ini.”
Bagi saya, kalimat itu menunjukkan bahwa orang yang sedang menjalankan amanah pun membutuhkan ruang untuk diingatkan. Tetapi yang mengingatkan juga harus memahami bahwa dirinya bukanlah manusia yang sempurna.
Menariknya, dalam Surah Al-‘Asr, Allah menggunakan kata “saling”: watawashau bil-haqqi watawashau bish-shabr — saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.
Ada makna yang dalam dari kata saling itu. Hari ini kita mungkin mengingatkan orang lain, besok bisa jadi kitalah yang membutuhkan pengingat. Hari ini kita merasa mampu, suatu saat mungkin kita yang membutuhkan bantuan. Kita semua memiliki peluang untuk salah, lupa, dan keliru.
Karena itu, sebelum menasihati orang lain, nasihati diri sendiri terlebih dahulu dan luruskan niat. Tanyakan: apakah saya benar-benar ingin membantu dan memperbaiki, atau hanya ingin menunjukkan bahwa saya lebih tahu dan pendapat saya paling benar?
Nasihat yang baik bukanlah, “Kamu harus berubah,” tetapi lebih kepada, “Mari kita sama-sama memperbaiki.”
Dalam organisasi, dakwah, maupun kehidupan bermasyarakat, kita memang membutuhkan kritik. Tetapi kritik yang sehat bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk memperbaiki. Tidak semua persoalan yang kita lihat dari luar sesederhana yang kita bayangkan dari dalam.
Karena itu, pahamilah sebelum menilai, hargailah sebelum mengkritik, dan pikirkanlah sebelum berbicara.
Kebenaran tidak menjadi lebih benar karena disampaikan dengan kasar. Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan dengan ketulusan, penghargaan, dan kerendahan hati akan lebih mudah diterima.
Saya juga menyampaikan kepada sahabat tersebut bahwa melalui tulisan-tulisan yang saya buat, sesungguhnya saya sedang belajar menasihati diri sendiri. Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan bukan hanya menjadi pengingat bagi orang lain, tetapi terlebih dahulu menjadi pengingat bagi diri saya sendiri.
Sebab pada akhirnya, kita bukan sedang berlomba menjadi orang yang paling pandai menasihati.
Kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Mengingatkanlah tanpa merasa lebih baik, menasihatilah tanpa merasa lebih mampu, pahamilah sebelum menilai, hargailah sebelum mengkritik, dan luruskanlah niat sebelum menyampaikan pikiran.
Semoga apa yang kita sampaikan menjadi kebaikan, dan jika bermanfaat bagi orang lain, semoga menjadi amal baik kita bersama.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







