PWMJATENG.COM, CILACAP – Tim dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) Cilacap menggelar pelatihan olahan singkong kekinian. Langkah ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan lokal. Selain itu, kegiatan ini juga memicu peluang bisnis baru bagi masyarakat Desa Karangjengkol dan Desa Menganti, Kecamatan Kesugihan.
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menghadirkan kolaborasi antara akademisi dan warga lokal. Sebanyak 23 peserta dari Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Dasa Wisma antusias mengikuti acara. Agenda ini berlangsung pada Rabu (19/8/2026) dan Sabtu (22/8/2026).
Tim pengabdi terdiri dari Tri Nurindahyanti Yulian, Rustina Dewi W, dan Wignyo Mudiharso. Mereka mengarahkan warga untuk memanfaatkan potensi bahan pangan lokal secara maksimal. Upaya ini menjadi solusi konkrit untuk mengurangi ketergantungan warga pada konsumsi beras.
Ketua Tim Pengabdi, Tri Nurindahyanti Yulian, menegaskan pentingnya mengubah mindset masyarakat terkait pemanfaatan karbohidrat lokal. Menurutnya, inovasi kreasi pangan berbasis karbohidrat lokal mampu mengubah bahan baku sederhana menjadi produk kuliner bernilai tinggi.
“Kami ingin membuka pemikiran para mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan ibu-ibu Dasa Wisma. Melalui olahan singkong kekinian yang menarik dan bergizi, mereka bisa membangun bisnis olahan singkong bernilai jual tinggi,” ujar Tri Nurindahyanti.
Kreasi Puding Singkong dan Edukasi Ketahanan Pangan Lokal
Antusiasme peserta terlihat jelas dari berbagai resep olahan singkong yang tercipta selama kompetisi. Salah satu peserta KWT Pertama Perempuan Tani Maju, Yati Sobiyati, sukses meraih juara lewat kreasi puding singkong karamel merah putih.
Yati membagikan resep olahan singkong miliknya yang memadukan satu kilogram singkong parut, gula pasir, santan, telur, garam, serta vanili. Setelah menyiapkan karamel, ia mengukus adonan berlapis tersebut selama satu jam hingga matang sempurna.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Yuli Martanti dari Dasa Wisma RT 03 RW 04 Desa Menganti. Yuli meraih juara melalui variasi puding kukus. Ia mengukus singkong terlebih dahulu, lalu menghaluskannya bersama santan dan mencampurnya dengan agar-agar serta maizena.
Selain menggelar lomba masak, tim pengabdi memberikan sosialisasi pemanfaatan pekarangan rumah. Warga diajak menanam sayuran dan tanaman obat. Program ini melengkapi agenda ketahanan pangan lokal dengan menekan pengeluaran belanja harian keluarga.
Penyelenggaraan acara pengabdian masyarakat ini membuktikan satu hal penting. Edukasi olahan singkong kekinian tidak hanya menjaga ketahanan pangan lokal, tetapi juga membuka keran kemandirian ekonomi bagi warga desa.
Kontributor: Wasis
Editor: Akmal
The post Dorong Ketahanan Pangan, Dosen STIEM Cilacap Latih Warga Buat Olahan Singkong Kekinian appeared first on Muhammadiyah Jateng.




