Laporan Ungkap Separuh Lebih Warga Israel yang Eksodus Menolak Kembali
INFOMU.CO | Tel Aviv – Di saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali membanggakan keberhasilan pemerintahannya dan mengklaim telah mengubah wajah Timur Tengah, data migrasi justru menunjukkan gambaran yang jauh berbeda.
Semakin banyak warga Israel memilih meninggalkan negaranya, sementara jumlah mereka yang kembali terus merosot.
Laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset yang dikutip surat kabar Israel Maariv, diikuti p Aljazeera, Selasa (18/8/2026) menunjukkan bahwa jumlah warga Israel yang kembali ke negaranya anjlok 53 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sekitar 8.000 orang pada 2020, jumlahnya tinggal sekitar 3.800 orang pada 2024. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan mulai terlihat pada 2023 dan terus berlanjut ketika Israel memasuki periode perang dan ketegangan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir.
Yang membuat data tersebut semakin mencolok bukan hanya jumlah warga Israel yang meninggalkan negaranya, tetapi juga semakin sedikitnya mereka yang bersedia kembali.
Sejak 2022, jumlah warga Israel yang meninggalkan negara itu secara permanen meningkat secara signifikan.
Akibatnya, neraca migrasi Israel berubah menjadi negatif sepanjang 2022–2024, dengan pengurangan bersih sekitar 140 ribu orang.
Laporan lain yang dikutip Financial Times bahkan memperkirakan sekitar 150 ribu warga Israel meninggalkan Israel dalam tiga tahun terakhir.
Fenomena ini tergolong tidak biasa dalam sejarah Israel, yang selama puluhan tahun justru berusaha menarik orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia untuk tinggal di negara tersebut.
Kini, arah arus migrasi mulai berubah. Israel yang selama ini dipromosikan sebagai tempat “paling aman” bagi orang Yahudi justru menghadapi persoalan ketika sebagian warganya memilih membangun kehidupan di luar negeri.
Perang Mempercepat Krisis Gelombang kepergian tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Menurut laporan Financial Times, arus keluar mulai meningkat setelah krisis politik internal yang dipicu rencana pemerintahan Netanyahu untuk melakukan reformasi sistem peradilan pada awal 2023.
Situasinya kemudian berubah drastis setelah 7 Oktober 2023, ketika serangan Hamas memicu perang besar di Gaza. Perang yang semula berpusat di Gaza kemudian berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan berbagai front.
Israel menghadapi ancaman keamanan dari sejumlah arah, sementara perang berkepanjangan menimbulkan tekanan ekonomi, sosial, dan politik di dalam negeri. (mui)



