Filosofi Semut, Kecil Tubuhnya, Besar Jiwa Berjamaahnya
(Tulisan ke-68 dari Beberapa Tulisan Terkait Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Pernahkah kita berhenti sejenak untuk memperhatikan barisan semut?
Ia berjalan beriringan tanpa gaduh. Tidak saling mendahului. Tidak saling bertabrakan. Tidak pula saling berebut jalan. Di mata manusia, semut hanyalah makhluk kecil yang sering kali terinjak tanpa disadari. Namun di balik tubuhnya yang nyaris tak terlihat, Allah menyimpan pelajaran yang begitu agung. Bahkan, Al-Qur’an mengabadikan seekor semut dalam sebuah kisah yang menggetarkan hati. Ketika Nabi Sulaiman ‘alaihis salam bersama bala tentaranya melintasi sebuah lembah, seekor semut berseru,
“Wahai para semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18)
Perhatikan bagaimana Allah memilih untuk merekam suara seekor semut.
Bukan karena ukuran tubuhnya.
Tetapi karena kebijaksanaan yang keluar dari lisannya.
Ia tidak menyalahkan Nabi Sulaiman.
Ia tidak menebar kebencian.
Ia tidak memprovokasi koloninya.
Ia hanya mengingatkan dengan penuh kebijaksanaan demi menyelamatkan sesamanya.
Barangkali Allah ingin mengajarkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya tubuh, melainkan oleh besar kecilnya manfaat dan kepedulian kepada orang lain.
Semut Selalu Memikirkan Jamaah
Kalimat pertama yang diucapkan semut bukanlah,
“Selamatkan aku.”
Tetapi,
“Masuklah kalian ke dalam sarang.”
Ia mendahulukan keselamatan jamaah daripada dirinya sendiri.
Inilah ruh perjuangan yang sering kali mulai memudar dalam kehidupan organisasi.
Ketika amanah datang, sebagian orang bertanya,
“Apa yang akan saya peroleh?”
Padahal semut mengajarkan pertanyaan yang berbeda,
“Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan yang lain?”
Muhammadiyah dibangun oleh orang-orang yang lebih dahulu memikirkan umat daripada dirinya sendiri. KH. Ahmad Dahlan menjual kenyamanan hidupnya demi membangun sekolah. Para pendiri rumah sakit Muhammadiyah tidak sedang membangun bisnis. Mereka sedang menghadirkan pelayanan. Para guru di pelosok tidak mengejar popularitas. Mereka sedang menanam masa depan bangsa. Semua lahir dari semangat berjamaah.
Tidak Ada Semut yang Makan Sendirian
Para peneliti menemukan fakta yang menarik.
Seekor semut yang menemukan makanan tidak segera menghabiskannya sendiri. Ia kembali ke koloninya. Memberi tanda kepada semut-semut lain. Lalu mereka datang bersama-sama. Seolah-olah semut memahami bahwa nikmat akan menjadi lebih bermakna ketika dinikmati bersama.
Begitulah kader Muhammadiyah. Ilmu tidak boleh disimpan untuk diri sendiri. Pengalaman harus diwariskan. Kesempatan harus dibagikan. Kaderisasi bukan sekadar mencari kader baru. Kaderisasi adalah kesediaan berbagi ilmu, membuka ruang, dan melahirkan orang-orang yang bahkan lebih hebat daripada diri kita. Orang yang takut muncul kader yang lebih baik sesungguhnya belum memahami makna perjuangan. Karena keberhasilan seorang kader bukan diukur dari berapa lama ia bertahan di depan. Melainkan berapa banyak orang yang berhasil ia dorong untuk maju.
Semut Tidak Pernah Berhenti Karena Halangan
Cobalah letakkan sebuah ranting kecil di depan barisan semut. Mereka tidak duduk mengeluh. Tidak pula saling menyalahkan. Mereka segera mencari jalan lain. Jika jalan tertutup, mereka membuat jalur baru. Jika ada batu besar, mereka memutarinya. Tujuan mereka lebih besar daripada hambatan yang mereka hadapi. Bukankah ini pelajaran besar bagi kader? Dalam perjalanan dakwah, tidak semua rencana berjalan mulus.
Ada kritik. Ada penolakan. Ada fitnah. Ada keterbatasan dana. Ada perbedaan pendapat. Namun kader yang matang tidak berhenti karena rintangan. Ia memperbaiki cara tanpa meninggalkan tujuan. Ia mengubah strategi tanpa mengubah cita-cita. Sebab yang penting bukan jalan mana yang ditempuh. Yang penting adalah dakwah tetap berjalan.
Tidak Ada Semut yang Merasa Paling Penting
Dalam koloni semut, setiap individu memiliki tugas.
Ada yang mencari makan.
Ada yang menjaga sarang.
Ada yang merawat telur.
Ada yang melindungi koloni.
Tidak ada yang merasa pekerjaannya paling mulia.
Semua sadar bahwa kehidupan hanya akan berjalan apabila setiap orang menjalankan amanahnya.
Muhammadiyah pun demikian.
Tidak semua orang harus menjadi ketua.
Tidak semua orang tampil di mimbar.
Tidak semua orang memimpin amal usaha.
Ada yang bekerja di belakang layar.
Ada yang menyusun administrasi.
Ada yang membersihkan masjid.
Ada yang membina TPA.
Ada yang mengelola perpustakaan.
Ada yang menjadi bendahara.
Semua adalah mata rantai perjuangan.
Tidak ada amal yang kecil apabila dilakukan dengan ikhlas.
Ketika Ego Mengalahkan Jamaah
Semut hampir tidak pernah bertengkar memperebutkan makanan. Manusia justru sering bertengkar memperebutkan jabatan. Semut bekerja tanpa mengenal tepuk tangan. Manusia kadang berhenti bekerja ketika tidak memperoleh penghargaan. Semut rela menjadi bagian dari koloni. Sebagian manusia justru ingin menjadi pusat perhatian.
Di sinilah kaderisasi diuji.
Apakah kita masih mampu bergembira ketika kader lain berhasil?
Apakah kita tetap bekerja ketika nama kita tidak disebut?
Apakah kita tetap melayani ketika tidak ada kamera yang menyorot?
Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang selalu ingin menjadi yang paling depan.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang bersedia menjadi pondasi agar orang lain dapat berdiri lebih tinggi.
Mewariskan Jalan, Bukan Sekadar Jejak
Suatu hari nanti, semua kepengurusan akan berganti. Nama kita mungkin hanya tersisa dalam arsip organisasi. Namun nilai-nilai yang kita wariskan kepada generasi berikutnya akan terus hidup. Semut tidak pernah membangun koloni hanya untuk satu musim. Ia membangun kehidupan yang akan diteruskan oleh generasi setelahnya.
Begitulah hakikat kaderisasi.
Ia bukan tentang mempertahankan pengaruh. Ia adalah tentang memastikan estafet perjuangan tidak pernah putus. Barangkali itulah sebabnya Allah mengabadikan seekor semut dalam Al-Qur’an. Karena melalui makhluk kecil itu, Allah ingin mengajarkan bahwa peradaban besar tidak selalu dibangun oleh orang-orang yang ingin terlihat besar. Peradaban dibangun oleh mereka yang rela bekerja bersama, saling menguatkan, saling menjaga, dan mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.
Maka jadilah seperti semut. Kecil dalam ego. Besar dalam pengabdian. Ringan melangkah bersama jamaah. Kuat memikul amanah. Dan tetap bekerja meski tidak ada seorang pun yang memberikan tepuk tangan.
Sebab kader Muhammadiyah yang sejati bukanlah mereka yang paling sering berdiri di depan. Melainkan mereka yang, seperti semut, diam-diam membangun jalan agar generasi sesudahnya dapat berjalan lebih jauh.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.



