Terminum Air Sungai Deli dan Sungai Padang
Oleh : Jufri
Pada awal-awal tinggal di Perumnas Mandala, ada satu lagu Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal yang sangat saya kenang. Judulnya Pancur Paridian.
Entah mengapa, lagu itu begitu dekat dengan suasana batin saya ketika itu. Kisah dalam lagu tersebut memang tentang seseorang yang harus meninggalkan kampung halaman karena dipaksa kawin. Saya tentu tidak mengalami kisah yang sama. Tetapi ada satu hal yang terasa sama, yaitu perasaan seseorang yang harus meninggalkan kampung halaman dan menjalani kehidupan di tempat yang baru.
Saat itu saya sedang berada jauh dari kampung halaman.
Sebagai seorang perantau, hidup di tempat baru tentu tidak selalu mudah. Ada masa ketika hati masih terus tertinggal di kampung. Rindu kepada keluarga, suasana kampung, bahasa, kebiasaan, dan lingkungan yang sejak kecil akrab dengan kehidupan kita sering kali datang tanpa diundang.
Karena itu, meskipun kisah dalam Pancur Paridian berbeda dengan pengalaman saya, suasana batin yang dibawanya terasa dekat.
Saya memang cukup akrab dengan bahasa dan budaya Mandailing. Dalam perjalanan hidup, saya juga banyak berinteraksi dengan budaya Minangkabau dan Jawa. Ketiganya, dalam kadar yang berbeda, ikut memberi warna dalam cara saya memahami kehidupan.
Dari budaya Mandailing saya mengenal kuatnya ikatan kekerabatan, penghormatan terhadap orang tua, kehormatan keluarga, dan pentingnya hubungan sosial. Dari budaya Minangkabau saya mengenal tradisi merantau, kekuatan adat, kecerdasan dalam membaca kehidupan, serta kemampuan untuk bertahan dan berkembang di tempat baru. Sementara dari budaya Jawa saya belajar tentang kelembutan, kesabaran, tata krama, dan kemampuan menjaga harmoni.
Tentu saja, setiap kebudayaan memiliki kekayaan yang jauh lebih luas daripada apa yang dapat saya ceritakan. Tetapi perjumpaan dengan berbagai budaya itu mengajarkan saya bahwa manusia tidak harus hidup dalam ruang budaya yang sempit.
Kita dapat mencintai budaya sendiri, tanpa harus merendahkan budaya orang lain.
Bahkan, sering kali, wawasan kita tentang kehidupan menjadi lebih luas karena kita bergaul dan belajar dari banyak kebudayaan.
Waktu itu, tentu tidak pernah terpikir oleh saya bahwa saya akan tinggal begitu lama di Medan. Apalagi kemudian perjalanan hidup membawa saya sampai menetap di Tebing Tinggi.
Dulu saya merasa sedang merantau.
Tetapi waktu ternyata memiliki cara sendiri untuk mengubah seorang perantau menjadi bagian dari tempat yang dirantauinya.
Mungkin benar kata orang, seseorang yang sudah terminum air suatu daerah, pada akhirnya akan sulit benar-benar pergi darinya.
Saya mungkin sudah terminum air Sungai Deli di Medan dan air Sungai Padang di Tebing Tinggi.
Sungai Deli mengiringi masa-masa awal perjalanan hidup saya di Medan. Di sekitar Medan, termasuk Perumnas Mandala, saya menjalani fase kehidupan sebagai seorang perantau yang sedang belajar mengenal dunia yang lebih luas.
Sementara Sungai Padang menjadi bagian dari perjalanan panjang saya di Tebing Tinggi. Di kota ini, saya menemukan banyak pengalaman, persahabatan, perjuangan, pengabdian, dan bagian penting dari perjalanan hidup saya.
Dua sungai, dua kota, dan dua fase kehidupan yang akhirnya menjadi bagian dari sejarah pribadi saya.
Dulu ketika berada di Perumnas Mandala, saya tidak pernah membayangkan bahwa Medan akan menjadi bagian penting dari kehidupan saya. Apalagi saya kemudian tidak hanya tinggal di Medan, tetapi juga memiliki begitu banyak kenangan, persahabatan, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berkaitan dengan kota ini.
Begitu pula dengan Tebing Tinggi.
Pada awalnya mungkin hanya tempat tinggal. Tetapi lama-kelamaan, ia menjadi tempat berjuang, mengabdi, membangun persahabatan, dan menjalani berbagai fase kehidupan.
Karena itu, sekarang jika ada yang bertanya:
“Orang mana?”
Saya bisa menjawab, “Orang Medan.”
Tetapi jika ditanya lagi:
“Sekarang tinggal di mana?”
Saya akan menjawab, “ Tebing Tinggi.”
Barangkali memang begitulah perjalanan hidup manusia. Pada awalnya kita merasa sedang datang ke suatu tempat. Lama-kelamaan kita merasa menjadi bagian dari tempat itu. Kemudian tanpa sadar, tempat tersebut bukan lagi sekadar alamat, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan kenangan.
Kampung halaman tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan. Di sanalah akar kehidupan bermula. Di sanalah bahasa pertama kali dikenal, kenangan masa kecil disimpan, dan nilai-nilai kehidupan mulai ditanamkan.
Tetapi hidup juga mengajarkan bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh tempat kelahirannya. Manusia juga dibentuk oleh tempat-tempat yang pernah didatanginya, orang-orang yang ditemuinya, pengalaman yang dilaluinya, serta kebudayaan yang berinteraksi dengannya.
Karena itu, saya tidak merasa harus memilih antara menjadi orang kampung halaman, orang Medan, atau orang Tebing Tinggi.
Saya adalah seseorang yang memiliki akar, tetapi juga memiliki banyak cabang.
Akar itu mengingatkan saya dari mana saya berasal. Sementara cabang-cabang kehidupan membawa saya berjumpa dengan Mandailing, Minangkabau, Jawa, Melayu, dan berbagai latar budaya lainnya.
Dari sana saya belajar bahwa perbedaan budaya tidak selalu harus menjadi jarak. Ia dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal.
Seseorang yang terbiasa hidup dalam perjumpaan berbagai budaya akan lebih mudah memahami bahwa dunia ini terlalu luas jika hanya dilihat dari satu sudut pandang.
Karena itu, ada satu falsafah sederhana yang selalu saya pegang:
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Di mana kita berada, di situlah kita menghormati adat, budaya, masyarakat, dan nilai-nilai kebaikan yang hidup di dalamnya.
Menjadi orang rantau bukan berarti harus kehilangan identitas. Sebaliknya, perantauan mengajarkan kita untuk mengenal dunia yang lebih luas tanpa melupakan dari mana kita berasal.
Kita boleh membawa identitas asal ke mana pun kita pergi. Tetapi kita juga harus mampu menghormati tanah tempat kita berpijak.
Mungkin itulah sebabnya saya tidak lagi merasa harus memilih antara menjadi orang kampung halaman, orang Medan, atau orang Tebing Tinggi.
Saya adalah anak kampung yang pernah merantau ke Medan, kemudian menemukan rumah yang lain di Tebing Tinggi.
Saya adalah seseorang yang akrab dengan bahasa dan budaya Mandailing, belajar dari tradisi Minangkabau, mengenal kelembutan budaya Jawa, dan tumbuh dalam perjumpaan dengan banyak kebudayaan lainnya.
Dan mungkin benar, saya sudah terlalu lama terminum air Sungai Deli dan Sungai Padang.
Maka, jika hari ini ada yang bertanya saya orang mana, barangkali jawaban yang paling jujur adalah:
Saya adalah orang yang berasal dari satu tempat, tumbuh di banyak tempat, dan belajar mencintai setiap tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat kita dilahirkan.
Kadang-kadang, rumah adalah tempat di mana kita menemukan kehidupan, pengabdian, persahabatan, dan alasan untuk tetap tinggal.
Dan mungkin, dalam perjalanan panjang itu, kita akhirnya sadar:
Kita tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat yang pernah kita cintai. Sebab sebagian dari diri kita akan selalu tinggal di sana.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








