Persaingan Kerja Kian Ketat, Kampus Muhammadiyah Harus Cetak Lulusan Adaptif dan Inovatif
INFOMU.CO | Yogyakarta – Tamparan keras dirasakan dunia kerja di Indonesia. Setelah terjadinya deindustrialisasi, jumlah tenaga kerja yang terserap semakin sedikit. Alhasil fenomena ini mengancam kelompok masyarakat terdidik atau sarjana, terlebih jumlah mereka meningkat namun peluang kerja semakin kecil.
Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menyampaikan jumlah sarjana di Indonesia terus bertambah, dari lima tahun terakhir naik tiga sampai empat juta sarjana baru. Jumlah sarjana yang awalnya enam juta, kini sudah tembus sepuluh juta sarjana.
“Bisa dibayangkan SDM yang lulus itu meningkat, kotak penampungnya menurun,” kata Guru Besar Bidang Tenaga Kerja ini dalam Leadership Training (LT) Angkatan XII untuk Rektor dan Wakil Rektor PTMA pada Selasa (14/7) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Bambang menjelaskan ciri yang membedakan negara maju dan berkembang adalah tumpuan ekonominya. Di mana negara maju bertumpu pada industri jasa, sementara negara berkembang pada manufaktur– Indonesia jadi negara berkembang yang motor penggerak ekonomi utamanya adalah manufaktur.
Bukan tidak ada, namun sejak satu dekade ke belakang mengalami deindustrialisasi, ditambah lagi dengan serbuan produk-produk murah dari Cina, industri yang awalnya tumbuh di Indonesia terancam dan bahkan sudah banyak yang gulung tikar.
Oleh karena itu, fenomena ini menjadi perhatian dan tantangan yang harus dijawab oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). PTMA harus memikirkan dan memberi solusi bagi mahasiswanya, setelah lulus akan bekerja di mana atau menjadi apa sebagaimana harapan orang tua.
Tuntutan Menjamin Mutu Lulusan Siap Kerja dan Keluhuran Sikap Mahasiswa
Mencetak lulusan yang adaptif sehingga terserap dengan baik di lapangan kerja, atau mampu menciptakan lapangan kerja memang menjadi tantangan PTMA yang mendesak untuk dijawab. Namun visi besar PTMA juga untuk mendidik manusia yang berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa.
“Keadaan ini tidak mudah bapak dan ibu sebagai pendidik yang bertanggung jawab tidak hanya meluluskan,” kata Bambang.
Pada kondisi ini, Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) di PTMA masih sangat relevan untuk tetap ada. AIK diminta diterapkan tak hanya pada sisi kognitif, tapi juga motorik. Sehingga AIK bisa relevan sesuai dengan perubahan kehidupan sosial, ekonomi, dan teknologi.
Kehadiran PTMA diminta Bambang untuk bisa mengkreasi kemandirian masyarakat, sebab saat ini industri di Indonesia sedang lesu. Sehingga lapangan kerja semakin sempit. Situasi ini meniscayakan pembekalan mahasiswa dengan inovasi. Makan meski kurikulum itu penting, namun proporsi inovasi harus lebih besar. (muhammadiyah.or.id)







