Pengajian Pimpinan: Menguatkan Amanah, Meneguhkan Muhammadiyah Berkemajuan
Cerdas bangsa Semesta bercahaya
Oleh : Jufri
Pengajian Tingkat Pimpinan Muhammadiyah se-Kota Tebing Tinggi yang dilaksanakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah pada Rabu, 17 Muharram 1448 H bertepatan dengan 1 Juli 2026, bukan sekadar agenda rutin organisasi. Pengajian merupakan jantung gerakan Muhammadiyah, tempat para pimpinan memperkuat ideologi, memperdalam pemahaman agama, mempererat ukhuwah, serta menyegarkan kembali semangat berkhidmat untuk Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pada kesempatan tersebut saya menyampaikan bahwa pengajian adalah kebutuhan setiap pimpinan Muhammadiyah. Dari pengajian lahir keluasan ilmu, kejernihan berpikir, keteguhan sikap, serta kebijaksanaan dalam memimpin. Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas tradisi ilmu, dakwah, tajdid, dan amal nyata. Karena itu, pengajian harus menjadi ruh yang terus menghidupkan setiap langkah gerakan.
Saya juga mengingatkan bahwa menjadi pimpinan Muhammadiyah bukanlah sebuah kehormatan semata, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Seorang pimpinan harus menjadi teladan dalam keikhlasan, integritas, disiplin, kebersamaan, serta semangat melayani, bukan semangat untuk dilayani.
Selain itu, saya menjelaskan pentingnya membangun kepercayaan diri warga Muhammadiyah. Kepercayaan diri itu tidak lahir dari kebanggaan yang berlebihan, tetapi dari pemahaman yang utuh terhadap sejarah, ideologi, dan kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa. Warga Muhammadiyah harus memahami sejarah Indonesia dengan baik agar tidak pernah merasa sebagai penonton di negeri sendiri. Bangsa ini adalah milik kita bersama. Republik Indonesia didirikan oleh para pendiri bangsa yang berasal dari berbagai suku, agama, daerah, dan organisasi, termasuk tokoh-tokoh Muhammadiyah yang memberikan sumbangsih besar dalam perjuangan kemerdekaan, perumusan dasar negara, pembangunan pendidikan, kesehatan, serta kehidupan sosial kebangsaan. Kesadaran sejarah inilah yang akan melahirkan rasa percaya diri, tanggung jawab, dan semangat untuk terus berkarya bagi Indonesia.
Muhammadiyah Berkemajuan menuntut seluruh kader untuk mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan sosial, tantangan ekonomi, hingga persoalan lingkungan hidup, Muhammadiyah harus tetap tampil sebagai gerakan Islam yang mencerahkan, menghadirkan solusi, dan menjadi pelopor kemajuan bangsa. Tantangan memang semakin besar, tetapi peluang untuk berdakwah dan beramal juga semakin luas apabila dihadapi dengan ilmu, kolaborasi, inovasi, dan kerja yang terorganisir.
Dalam konteks itulah amal usaha Muhammadiyah harus terus diperkuat. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, lembaga zakat, usaha ekonomi, dan berbagai bentuk pelayanan sosial bukan sekadar aset organisasi, melainkan instrumen dakwah yang harus dikelola secara profesional, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Kekuatan Muhammadiyah bukan hanya diukur dari banyaknya amal usaha, tetapi juga dari kualitas pelayanan, tata kelola yang baik, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Saya juga menyampaikan informasi mengenai persiapan Muktamar Muhammadiyah ke-49 yang akan diselenggarakan di Sumatera Utara. Momentum bersejarah ini merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab bagi seluruh warga Muhammadiyah di Sumatera Utara. Kota Tebing Tinggi harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mengambil bagian dalam menyambut para tamu muktamar, serta ikut menyukseskan perhelatan akbar Persyarikatan dengan semangat kebersamaan, pelayanan, dan persaudaraan.
Tema Muktamar Muhammadiyah ke-49, “Islam Berkemajuan: Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya,” hendaknya tidak berhenti sebagai slogan. Tema tersebut harus menjadi arah gerakan seluruh pimpinan dan kader Muhammadiyah dalam membangun manusia yang berilmu, memperkuat amal usaha, memajukan kehidupan umat, menjaga keutuhan bangsa, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada komitmen kadernya. Persyarikatan membutuhkan kader yang bukan hanya bangga menjadi warga Muhammadiyah, tetapi juga siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuannya untuk memajukan organisasi. Kader yang menghidupkan pengajian, menjaga persatuan, memperkuat amal usaha, memahami sejarah bangsanya, serta terus mengamalkan nilai-nilai Islam Berkemajuan akan menjadi fondasi kokohnya Muhammadiyah di masa depan.
Semoga pengajian ini semakin menguatkan tekad seluruh pimpinan dan kader Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi untuk terus berkhidmat dengan ikhlas, memperluas manfaat bagi masyarakat, serta mengambil peran strategis dalam membangun Indonesia yang maju, adil, dan berkeadaban. Sebab, Muhammadiyah sejak kelahirannya bukan hanya hadir untuk membangun organisasi, tetapi juga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan umat, dan menerangi semesta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




