Muhammadiyah Memasuki Abad Kedua: Jangan Biarkan Kaderisasi Kehilangan Ruhnya
(Tulisan ke-62 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Dosen Universitas Negeri Medan
“Muhammadiyah tidak didirikan untuk membangun organisasi yang besar, tetapi untuk melahirkan manusia-manusia besar yang menghidupkan Islam dalam kehidupan.”
Muhammadiyah telah melewati satu abad perjalanan sejarah. Lebih dari seratus tahun, Persyarikatan ini berdiri tegak melewati zaman kolonial, revolusi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digital yang serba cepat. Di sepanjang perjalanan itu, Muhammadiyah berhasil membangun ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, perguruan tinggi, panti asuhan, masjid, pesantren, dan berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Semua itu menjadi bukti bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan peradaban yang hidup di tengah masyarakat. Buku Profil Muhammadiyah memperlihatkan bahwa kekuatan itu lahir dari perpaduan tajdid, pengorganisasian yang modern, dan amal nyata yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Namun, memasuki abad kedua, pertanyaan paling mendasar justru bukan lagi seberapa besar Muhammadiyah telah tumbuh, melainkan apakah ruh yang membesarkan Muhammadiyah masih hidup di dalam diri kader-kadernya?
Sebab sejarah mengajarkan bahwa sebuah organisasi tidak pernah runtuh karena kekurangan gedung. Ia runtuh ketika kehilangan gagasan. Ia tidak hancur karena kekurangan aset. Ia melemah ketika kehilangan kader yang menghidupkan cita-citanya.
Ahmad Dahlan Tidak Sedang Mendirikan Organisasi
Sering kali kita memandang sejarah Muhammadiyah dari apa yang tampak hari ini: sekolah, universitas, rumah sakit, atau kantor-kantor megah. Padahal, ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, tidak satu pun amal usaha itu telah berdiri.
Yang ada hanyalah sebuah kegelisahan.
Beliau melihat umat Islam terjebak dalam kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan praktik keberagamaan yang kehilangan daya transformasinya. Islam dipahami sebatas ritual, sementara kehidupan sosial dibiarkan berjalan tanpa sentuhan nilai-nilai pembebasan. Di tengah kolonialisme yang menindas, Ahmad Dahlan membaca Al-Qur’an bukan sekadar untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan dalam realitas sosial. Itulah sebabnya Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pencerahan yang memadukan pemurnian ajaran dengan pembaruan kehidupan umat.
Di sinilah letak keistimewaan Muhammadiyah.
Yang dibangun pertama kali bukan gedung. Yang dibangun adalah cara berpikir. Yang diperbaiki bukan administrasi. Yang diperbaiki adalah cara umat memahami Islam. Karena Ahmad Dahlan meyakini bahwa jika manusianya berubah, maka lembaga akan lahir dengan sendirinya.
Dari Pengajian Melahirkan Peradaban
Salah satu kisah yang paling menggugah dalam sejarah Muhammadiyah adalah ketika Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un berulang-ulang. Murid-muridnya mulai merasa bosan karena pelajarannya tidak berganti. Lalu beliau bertanya, “Apakah kalian sudah mengamalkannya?” Ketika mereka menjawab bahwa mereka telah menghafalnya, Ahmad Dahlan justru meminta mereka mencari fakir miskin, memandikan, memberi makan, dan merawat mereka. Dari pengajian itulah kemudian lahir Rumah Miskin dan gerakan sosial Muhammadiyah.
Peristiwa itu bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah filosofi kaderisasi Muhammadiyah. Kader tidak cukup menjadi penghafal ayat. Kader harus menjadi pelaksana ayat.
Kaderisasi bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala seorang instruktur kepada peserta. Kaderisasi adalah proses mengubah cara memandang dunia, sehingga seorang kader melihat kemiskinan sebagai panggilan dakwah, melihat kebodohan sebagai ladang jihad ilmu, dan melihat penderitaan manusia sebagai ruang pengabdian.
Di sinilah pengajian berubah menjadi sekolah ideologi.
Amal Usaha Tidak Akan Menyelamatkan Muhammadiyah
Kita sering bangga menyebut jumlah sekolah Muhammadiyah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan amal usaha lainnya. Kebanggaan itu tentu memiliki dasar karena semua lahir dari kerja keras kader selama lebih dari satu abad. Namun sejarah juga mengingatkan bahwa amal usaha hanyalah buah.
Pohon yang sesungguhnya adalah kaderisasi.
Tidak ada sekolah yang mampu bertahan jika kehilangan guru yang berideologi.
Tidak ada rumah sakit yang akan menjadi dakwah bila kehilangan dokter yang berjiwa Al-Ma’un.
Tidak ada universitas yang akan menjadi pusat pencerahan bila dosennya kehilangan semangat tajdid.
Gedung dapat diwariskan. Tanah dapat disertifikatkan. Aset dapat dipindahtangankan. Tetapi ideologi tidak pernah bisa diwariskan melalui akta. Ia hanya diwariskan melalui kaderisasi. Karena itu, ukuran keberhasilan Muhammadiyah abad kedua tidak lagi cukup dihitung dari bertambahnya amal usaha, tetapi dari bertambahnya manusia yang memiliki akhlak gerakan, keluasan ilmu, keberanian berijtihad, dan keikhlasan berkhidmat.
Tantangan Abad Kedua Tidak Lagi Sama
Jika pada abad pertama Muhammadiyah melawan kolonialisme, kebodohan, dan keterbelakangan, maka pada abad kedua tantangannya jauh lebih halus.
Hari ini kita berhadapan dengan budaya instan yang menganggap proses kaderisasi terlalu panjang.
Kita menghadapi banjir informasi yang sering kali menggantikan tradisi membaca dengan budaya menggulir layar.
Kita menyaksikan kecenderungan sebagian kader yang lebih mengenal dinamika politik internal organisasi daripada memahami Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, atau Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Kita juga melihat gejala ketika jabatan menjadi tujuan, bukan amanah; ketika popularitas lebih menarik daripada kapasitas; dan ketika pengelolaan amal usaha lebih sibuk membicarakan angka daripada ruh dakwah.
Inilah tantangan terbesar Muhammadiyah abad kedua.
Bukan ancaman dari luar. Melainkan kemungkinan kita perlahan-lahan melupakan alasan mengapa Muhammadiyah didirikan.
Kaderisasi Adalah Investasi Peradaban
Muhammadiyah sejak awal memilih jalan yang tidak instan. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah karena beliau percaya bahwa perubahan bangsa dimulai dari pendidikan. Muhammadiyah membangun sistem organisasi modern karena memahami bahwa amal besar memerlukan tata kelola yang baik. Muhammadiyah membentuk organisasi otonom karena sadar bahwa setiap generasi harus dipersiapkan sejak dini. Semua itu menunjukkan bahwa Persyarikatan ini sejak awal adalah gerakan yang menanam, bukan sekadar memanen.
Sayangnya, zaman sekarang sering memaksa kita mencintai hasil, tetapi melupakan proses.
Padahal kaderisasi selalu membutuhkan kesabaran.
Ia membutuhkan ruang dialog.
Ia membutuhkan keteladanan.
Ia membutuhkan tradisi membaca.
Ia membutuhkan pengajian yang mencerahkan.
Ia membutuhkan pemimpin yang lebih senang melahirkan penerus daripada memperpanjang pengaruhnya sendiri.
Karena sesungguhnya kaderisasi adalah investasi paling panjang dalam sejarah Muhammadiyah.
Menyalakan Kembali Api Ahmad Dahlan
Abad kedua Muhammadiyah tidak membutuhkan romantisme sejarah.
Yang dibutuhkan adalah keberanian menghidupkan kembali semangat Ahmad Dahlan dalam konteks zaman yang baru.
Semangat membaca Al-Qur’an hingga melahirkan aksi sosial.
Semangat menjadikan ilmu sebagai alat pembebasan.
Semangat mengorganisasi umat dengan manajemen yang modern.
Semangat membangun peradaban melalui pendidikan.
Semangat melahirkan kader yang lebih hebat daripada generasi sebelumnya.
Muhammadiyah akan tetap besar selama kaderisasi tetap menjadi jantung gerakannya. Tetapi bila kaderisasi berubah hanya menjadi agenda seremonial, pelatihan administratif, atau rutinitas organisasi tanpa transformasi ideologi, maka yang tersisa hanyalah bangunan besar yang perlahan kehilangan jiwa.
Maka, memasuki abad kedua, marilah kita kembali kepada pertanyaan yang mungkin akan diajukan Ahmad Dahlan kepada kita hari ini.
Bukan, “Berapa banyak sekolah yang telah kalian bangun?”
Bukan pula, “Berapa besar aset yang telah kalian kelola?”
Melainkan,
“Sudahkah Al-Qur’an yang kalian pelajari benar-benar kalian hidupkan dalam gerakan?”
Karena pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh banyaknya gedung yang berdiri, melainkan oleh banyaknya kader yang tetap membawa cahaya tajdid ke tengah umat. Selama kaderisasi terus menyalakan manusia-manusia yang berilmu, berakhlak, berani berijtihad, dan ikhlas berkhidmat, selama itu pula Muhammadiyah akan terus menjadi matahari yang menerangi perjalanan bangsa menuju peradaban Islam yang berkemajuan.
Wallahu a’lam Bish Shawab






